You're here: My City Blogging » Balikpapan » Article: Menyusuri Balikpapan di atas Pipa Tua
PEKERJA macam kami yang bekerja di pabrik kata-kata alias penerbitan surat kabar, tak biasa bangun pagi. Karena malamnya, pekerjaan baru rampung pukul 01.00, kadang-kadang masih ditambah acara nongkrong-nongkrong. Tapi seperti empat hari Minggu terakhir ini, kami membiasakan diri bangun pagi. Selalu ada yang menarik dan menantang untuk disusuri. Jika sebelumnya kami kemping di Pantai Lamaru, juga menyusuri hutan atau pinggiran kampung mengingat kembali tempat2 bermain masa kecil anak-anak Balikpapan tempo dulu, Minggu pagi kali ini cukup berbeda.
Kami menyusuri Kota Minyak dengan meniti pipa-pipa tua peninggalan Belanda yang salah satunya bercap tahun 1975. Awalnya kami mengira pipa ini adalah pipa yang mengalirkan minyak mentah ke unit pengolahan Pertamina. Ternyata, setelah menemukan banyak kebocoran (disengaja) untuk disambung ke rumah milik entah siapa, pipa itu berisi air. Pipa ini berpangkal di waduk tepi Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), kilometer 15 Jl Soekarno-Hatta. Sumber air yang tidak pernah kering berkat terjaganya kelestarian HLSW ini, dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kilang-kilang Pertamina yang akan memasok BBM untuk kawasan timur Indonesia.
Perjalanan dimulai dari Somber, pelabuhan Ferry lama yang kini dipindahkan ke kawasan Kariangau. Benar-benar menantang karena kami harus berjalan di atas tiga pipa besi berdiameter 50 cm yang tidak saling melekat satu sama lain. Otomatis kami harus memilih satu pipa sebagai jalan setapak. Tentu saja harus berhati2, menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terjatuh. Daerah yang kami lalui adalah muara sungai, dan kami sempat bertemu anak buaya. Perjalanan yang tidak gampang menurut kami tapi tentu berbeda dibandingkan penduduk di sana yang menjadikannya sebagai jalan kampung.
Terik matahari tidak membuat kami kepanasan sebab rindangnya hutan bakau membuat jalan tetap teduh. Sepanjang jalan, nyanyian burung Murai Batu dan burung kipas sangat menghibur. Ada pula suara bekantan-bekantan yang dengan cepat menyelinap di antara rimbunnya hutan bakau sebelum dipotret. Sayang kami tidak datang lebih pagi sehingga tidak bisa menyaksikan bekantan-bekantan ini bergelantungan di pohon yang lebih dekat dengan ’setapak’.
Sekitar 20 menit perjalanan, setelah melewati Sungai Somber dan satu sungai kecil, kami berhenti sejenak. Ikan-ikan yang berloncat-loncatan di bawah pipa titian, sangat menarik untuk dipancing. Peralatan memancing pun dikeluarkan, sementara yang membawa kamera, sibuk mengambil gambar2 menarik. Sebagai umpannya, kami menggunakan hewan kecil khas hutan bakau, timpakul. Timpakul dalam bahasa Melayu dikenal dengan nama Belacak, dalam bahasa Indonesia disebut belodog, dan bahasa Inggris disebut mudskipper. Tak berapa lama, perjalanan dilanjutkan dan pancing tadi diikatkan di pohon dengan harapan, saat pulang kami bisa mengambilnya lagi, lengkap dengan ikan.
Perjalanan selanjutnya mulai berat. Setelah melewati muara dan rawa-rawa, posisi pipa mulai tegak, menanjak. Setiap melewati dua bukit, kami beristrahat lagi. Meski membawa peralatan memasak, kami tidak membuat tungku sebab di depan kami mulai terlihat perkampungan. Setelah melewati satu kompleks perumahan sederhana, sembulan tiga pipa air sejajar ini terpotong di ujung aspal. Kami ternyata telah sampai di jalan menuju Pelabuhan Kariangau setelah meniti pipa sepanjang kurang lebih lima kilometer.
Setelah istrahat di warung dan bertanya-tanya ke masyarakat setempat, kami, delapan anggota perjalanan kali ini sepakat tidak menyusuri pipa tadi. Biarlah pancing yang tadi tetap di sana atau dimanfaatkan orang lain. Kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Pelabuhan Kariangau untuk menyeberang ke Kampung Baru melewati jembatan panjang. Jembatan yang terbuat dari kayu ulin ini, benar-benar pantas dinamai jembatan panjang karena panjangnya sekitar 700 meter. Di ujung jembatan telah menunggu perahu penyeberangan yang memungut biaya Rp 2.500 per orang untuk waktu tempuh tidak sampai lima menit. Dari Kampung Baru Ujung, kami pulang ke kantor, tempat kami berkumpul tadi pagi.
UPDATE: Setelah tulisan ini dimuat di blog maupun di koran, beragam komentar kami terima dari pembaca. Kebanyakan dari mereka menyatakan keheranannya, karena wilayah itu ternyata selain dikenal karena sarang buayanya, juga karena daerah itu angker! Kok berani-beraninya?
Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di sini dan di koran Harian Tribun Kaltim (www.tribunkaltim.com), pada awal Desember 2006 yang ditulis oleh Hayati Maulana Nur ( paloe_arit@yahoo.com). Kegiatan jalan-jalan Sabtu-Minggu ini sempat aktif dilakukan oleh sekelompok kecil karyawan di Harian Tribun Kaltim yang tujuannya selain untuk menyegarkan pikiran, juga untuk mengenal lebih dekat lekuk-liku Kota Balikpapan. Tulisan ini dipublikasikan ulang atas izin penulisnya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.
eko
wah, menarik. sy dulu jg pernah tinggal di balikpapan; di daerah prapatan, gn. dubbs, gang dolok, dsb (wah, pindah2 mulu he-he-he). dulu sy jg sempat iseng, jalan2 menyusuri pantai, sebelum bandara-trus jalan di pantai belakang bandarai, sampai ke pantai manggar. pernah jg dari pantai di belakang kantor saya, thiess, sampai ke lamaru. wah, asyik jg ya :D
sstt…, maklum, wkt itu lg pusing he-he-he
November 20th, 2007 at 10:03 am
djoko
saya abis dari samarinda, di balikpapan sempat makan di Pelangi dan kepiting kenari … enak banget ya …
November 21st, 2007 at 10:16 am
massno
maaf ya…
aku sebel banget kalo denger yg namanya balikpapan. aku dan kawan2 ku pernah punya pengalaman buruk…saat itu kami berombongan turun di pelabuhan balikpapan…pemandangannya asyik banyak pohon tapi semua itu lenyap begitu saja oleh keganasan satpol pp…kami digiring kesebuah tempat lalu dimintai ktp..ditanya maksud dan tujuan ke balikpapan..sampai lama sekali..kayak polisi amerika aja..mohon pemkot balikpapan lebih manusiawi lagi dalam mengatasi maslah kependudukan…terus terang kebencianku pd balikpapana belum bisa hilang..maaf ya
December 19th, 2007 at 8:03 pm
nanang
saya pernah punya teman yang sangat baik yang berasal dari balikpapan, namanya maya sapri yanti kuliah di tehnik perminyakan upn veteran yogyakarta th 1989, alamat terakhir di jl. panorama komplek pertamina balikpapan, barangkali ada yang bisa kasih info tentang keberadaanya sekarang….?? makasih sebelumnya
January 17th, 2008 at 10:06 pm