You're here: My City Blogging » Balikpapan » Article: Terompet Tahun Baru - Rezeki Baru!
Tulisan ini juga dimuat di: http: //panyingkul.com http://daengrusle.com/2007/12/31/rezeki-baru-terompet-tahun-baru/
Senja menjelang, merapat ke setiap sudut kota Balikpapan. Senja hari ini adalah senja yang tak biasa, karena disambut dengan bebunyian terompet dan petasan yang silih berganti, dan senyum sumringah anak-anak kecil menyambut tahun yang berganti.
Balikpapan, sebagaimana kota besar lainnya di Indonesia, juga semarak menyambut pergantian tahun. Laki-laki perempuan, anak kecil remaja hingga orang tua punya acara masing-masing menyambut pergantian tahun yang dianggap istimewa. Ada yang mengisi nya dengan bakar jagung, mengunjungi keramaian di pusat kota, atau ada juga yag menghabiskan semalam suntuk di depan TV, menonton acara semarak pergantian tahun yang special dari masing-masing stasiun televisi. Malam tahun baru, sebagaimana malam-malam sebelumnya memang disi dengan hiburan aneka macam.
Terompet Membawa Rejeki Dalam semarak pergantian tahun, terompet seperti wajib hadir dalam detik-detik menjelang dan sesudah tahun berganti sebagaimana sudah menjadi tradisi setiap tahun, Entah dari mana tradisi ini bermula, yang jelas hingga saat ini jutaan terompet bisa ludes dalam satu atau dua malam menjelang pergantian tahun. Kota dan kampung, menjadi riuh dengan bebunyian dari teompet ini. Tidak ada akan yang merasa gaduh terganggu, karena bebunyiaan itu mewakili keceriaan meninggalkan tahun yang telah dijalani, menggantinya dengan tahun baru yang penuh harapan.
Terompet yang menjadi simbol pergantian tahun kemudian menjadi ladang rezeki buat para pedagang terompet yang biasanya telah ber muncul an sejak selepas Natal. Di sepanjang jalan protokol di kota-kota besar, umumnya mudah dijumpai jejeran para pedagang terompet.
Tak terkecuali di Balikpapan, juga mudah ditemui ratusan pedagang terompet yang berjejer di sepanjang jalan di berbagai sudut kota, hingga ke jalan menuju luar kota. Rupanya, rezeki malam tahun baru tidak disia-siakan begitu saja. Pintu rejeki, walaupun hanya berlangsung semalam saja, bisa membawa berkah bagi satu keluarga.
Berkongsi Demi Rejeki Satu Malam Supriadi, seorang warga Balikpapan asal Lamongan, tidak ketinggalan memanfaatkan momentum tahun baru ini. Lelaki usia 33 tahun yang sehari-harinya berjualan salome, sejenis bakso goreng yang dibumbui saus sambel ini, menyisihkan sebagian besar keuntungan nya untuk dijadikan modal berjualan terompet tahun baru. Berkongsi dengan dua rekan lannya, dia membeli sekitar 600 terompet senilai Rp 1,500,000 dari seorang pengusaha-pengrajin terompet di Balikpapan. Terompet ini dibeli dengan sistem garansi, sekiranya ada kerusakan atau cacat bisa dikembalikan atau ditukar dengan terompet yang kondisinya baik. Tapi garans ini hanya berlaku sampai menjelang tahun baru saja. Lewat tahun baru, maka si pengrajin terompet tidak menerima lagi penukaran atau pengembalian. Mungkin karena momen puncak nya sudah berlalu, sehingga tidak mudah lagi menualnya. Menyimpan terompet untuk tahun depannya tidak memungkinkan , apalagi karena terompet ini mudah rusak.
Terompet-terompet yang dibeli dari pengusaha itu kemudian dibagi tiga jumlahnya, disesuaikan dengan jumlah modal yang disetor. Dengan menggantukangkan nya pada rangka kayu seperti jemuran berukuran 1×2 mtr yang ditempatkan dibelakang motor bebek yang mereka kendarai, mereka menyebar ke sepanjang jalan yang biasa dilalui oleh keramaian. “Saya tidak mau jauh-jauh berjualan” katanya menjelaskan kenapa memilih Jalan Sukarno Hatta KM 2 sebagai tempat berjualan, yang rupanya hanya sekitar 500 meter dari tempat tinggalnya, di jalan Inpres IV. “Takut gak banya laku kalau berualan di tempat jauh. Sudah rugi bensin, gak laku pula. Kalau berjualan di sini, biasanya ada juga tetangga yang memilih beli sama saya. Lumayan!” Katanya menambahkan alasan. Senja itu, Supriadi memang memilih berjualan di kawasan Kilo 2 Paldam, sebuah jalan poros menuju luar kota, Samarinda.
Untuk jenis terompet yang berbentuk dan ukuran sederhana dijual seharga Rp 3000 – 5000, sedang untuk yang berbentuk saxophone dihargai Rp 10,000 – 15,000. Selain terompet, mereka juga berjualan topeng-topengan yang bentunya mirip tokoh kartun superhero yang biasa ditayangkan di televisi. Target pembeli memang umumnya anak-anak dan remaja, karenanya bentuk terompet dan topeng disesuaikan dengan selera segmen tersebut.
Pembeli biasanya lebih memilih membeli terompet pada hari menjelang tahun baru, namun tidak sedikti juga yang membeli sejak malam Natal. Karenanya, umunya para pedagang teromppet memulai berjualan sejak Natal. Tapi tahun ini, menurut Supriadi, dia tidak terlalu ngotot berjualan. Dia hanya berjualan di malam tahun baru saja. Walaupun berjualan hanya satu hari, terompetnya sudah laku lumayan, bersisa 40 terompet saja padahal hari masih senja. Setiap 10 menit, ada saja pengendara mobil atau motor yang singgah di tempat Syarfuddin mangkal, yang kebetulan sedang sangat ramainya.
Merantau Meraup Rezeki Sambil menghisap rokok nya dengan nikmat, Supriadi bercerita bahwa ia datang ke Balikpapan sejak tahun 1988. Waktu itu ia masih berumur 12tahun ketika orang tuanya memutuskan bermigrasi dari kampungnya di Jawa Timur, Lamongan. Tak sempat menyelesaikan SMA nya, Supriadi sejak remaja mulai ikut membantu ekonomi keluarga dengan berjualan salome secara berkeliling. Sekali-sekali dia ikut bekerja sebagai tukang di proyek-proyek. Lima tahun silam, ia balik kampung ke Lamongan untuk menikah. Mungkin karena tak tahan sulitnya mencari penghasilan di kampung sendiri, Supriadi kembali ke Balikpapan dan mulai lagi berjualan Salome. Berjualan terompet juga dilakoninya saban pergantian tahun. Di malam tahun baru ini, dia bisa meraup rezeki 500ribu, atau hampir sebesar 100% dari modal yang disetor.
Berjualan terompet memang mendatangkan rezeki yang lumayan besar buat Supriadi dan para pedagang lainnya. Namun kerugian juga adalah hal biasa bagi mereka. Makin maraknya pedagang terompet membuat persaingan makin ketat, pintu-pintu rezeki makin sempit buat dibagi dengan banyak pedagang. Apalag kalau jumlah pembei tidak banyak. Cuaca juga mempengaruhi besarnya penghaslan mereka. Musuh utama pedagang terompet ini adalah hujan, karena kalau hujan dagangan mereka menjadi tidak laku. Supriadi mencontohkan, tahun lalu ada sekitar 60 terompetnya rusak karena malam tahun baru saat itu diguyur hujan yang deras. Di malam tahun baru, dia pulang ke rumah membawa semua terompetnya yang rusak. Terompet-terompet itu kemudain hanya menjadi kertas dan plastik sampah, tidak bisa diperbaiki atau dikembalikan lagi. Garansi dari pengrajin/pengusaha terompe hanya berlaku sampai menjelang malam tahun baru saja..
“Umur saya masih muda, tapi wajah saya kelihatan tua ya mas? Itu karena hidup saya yang sulit”. Demikian apologi Supriadi ketika menangkap muka heran saya ketika merespon umurnya yng terbilang masih muda, 33 tahun. Mungkin memang wajah yang tirus dan gelap itu adalah pancaran sulitnya hidup yang dijalani oleh Supriadi. Tapi di senja yang ramai itu, saya lebih sering mendapatkan senyum dan sapaan ramah darinya. Hidup yang sulit tentu bukanlah kenyataan yang kemudian harus diterima dengan perasaan tersiksa juga. Hidup sulit tapi hati dibuat bahagia dan tetap rajin berusaha adalah langkah yang lebih bijak menghadapinya. Ketika saya kembali menemuinya beberapa jam kemudian, Supriadi menyapa hangat sambil tersenyum, “Mas, terompet ku tinggal sepuluh. Alhamdulillah” Senyum sumringah merekah dari bibirnya, seakan menyapa malam di akhir 2007 dengan rezeki yang mencerahkan untuk pagi 2008 buat Supriadi dan keluarga, Amin.
Selamat Tahun Baru 2008!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Taufan
Apa iyah?
Yang bagus, malam tahun baru gunakan untuk medium kontemplasi, dzikir dan hal2 yang bersifat introspeksi.
Gitu khan yah ….
March 18th, 2008 at 9:45 pm