You're here: My City Blogging » Banda Aceh » Article: Tempat Ngopi
Kalau ke Banda Aceh tidah sah rasanya kalau belum mencoba kopi Aceh yang cukup terkenal dan sensasional. Bagi yang pernah ke Banda Aceh, Anda akan dengan sangat mudah menjumpai warung kopi disetiap sudut kota, dan semuanya biasanya selalu ramai dengan pengopi.
Bentuknya sangat tipikal; ruko satu atau dua lantai dipenuhi dengan deretan meja, kursi, dan tempat menyeduh kopi (dan berbagai minuman lainnya) terbuka dibagian paling belakang. Terkadang terdapat rak menjual nasi gurih, mie (aceh), martabak atau makanan lainnya. Sangat lazim pula, warkop-warkop ini dihiasi tv plasma 34″ yang tersambung dengan layanan tv kabel - terutama untuk acara ‘nonton bareng’ Liga Inggris atau Piala Dunia.
Mayoritas pengunjung warung kopi ini biasanya hanya laki-laki, namun belakangan pengopi perempuan juga sudah lazim dijumpai. Sesekali, dihari minggu pagi, keluarga muda dengan dua orang anak santai menikmati sarapan nasi gurih dengan secangkir kopi yang manis. Umph, nikmatnya!
Dari puluhan pilihan yang ada, ada beberapa spot ‘wisata kopi’ yang layak dikunjungi dan dicoba di Banda Aceh. Dan untuk tulisan saya yang pertama dalam categori sosial-kuliner ini, saya akan membawa Anda mengunjungi tiga tempat yang tersohor bagi warga Banda Aceh.
Jasa Ayah, Ulee Kareng
Tidak diragukan, warung kopi Jasa Ayah merupakan ikon ngopi kota Banda Aceh. Selain selalu ramai, jam berapapun Anda mengunjunginya, kopi disini juga sangat enak dan gurih - dan tanpa ganja yang sering digunjingkan. Dijamin halal 100%. Kopi favorit saya adalah kopi susu panas atau kopi susu dingin, karena kalau minum kopi biasa (black coffee), alamat semalaman saya tidak bisa tidur.
Selain itu, bagi yang bukan pecandu kopi, ’sanger’ dingin (pake susu tetapi lebih sedikit) juga patut dicoba. Kecuali kalau memang mau sedikit adventurir dan ingin menikmati rasa kopi yang asli; dan untuk ada baiknya anda memesan kopi pancong - alias kopi hitam separuh gelas.
Untuk urusan ngetop, Jasa Ayah memang sudah banyak sekali direview berbagai media; tv, Kompas, pakar kuliner Bondan Winarno di JalanSutra.or.id, blogger di Catetan Kecil httsan atau beberapa new media yang lain. Lonely Planet tahun 2007 juga mereview Jasa Ayah. Jadi soal rasa and mmpph-nya mungkin sudah terbukti.
Satu hal yang sangat khas di Jasa Ayah adalah kebisingannya. Puluhan orang saling ngobrol, tertawa, bernegosiasi, atau sekedar bercanda ria - dan semuanya berlangsung dalam suasana rileks dan tanpa batas strata sosial.
Gubernur Irwandi, misalnya, sering terlihat ngopi di minggu sore dan selalu duduk di meja dekat pintu masuk; beberapa pejabat dan petinggi yang lain juga sering kelihatan disini; aktivis berbagai aliran juga sering menjadikan Jasa Ayah sebagai tempat menyusun strategi atau koordinasi aksi berikutnya. Dan asiknya semua orang hampir tidak memperdulikan apa yang dilakukan atau dibicarakan meja sebelahnya.
Namun bagi saya sendiri, ke Jasa Ayah hanya untuk socializing atau sekedar menikmati sore sambil memperhatikan beragam macam orang dan tingkahnya. Spot paling saya sukai adalah dibagian belakang, di bawah pohon mangga karena relatif lebih sepi dan kalau hari minggu pagi bisa sambil nunggu mobil/motor dicuci di doorsmeer yang tak jahu dari situ.
Anda mungkin akan lebih aman duduk di depan, karena akan cepat dilayani, bisa pesan mie, martabak dan ngobrol sama pelayan yang suka bercanda dan sangat ramah. Setelah datang tiga kali, dijamin mereka akan menyapa nama Anda dan tahu kesukaan Anda.
Chek Yukee
Chek Yukee merupakan warung kopi ‘alumni’ Solong dan juga menawarkan citarasa kopi ulee kareng yang gurih dan memorable. Yukee sendiri adalah ejaan untuk U-K (Ulee Kareng). Tapi saya suka menyebutnya CK, dan CK merupakan favorit saya. Selain tempatnya dipusat kota (hanya 100 m dari Mesjid Raya) dan dekat dengan kantor saya, CK juga berhadapan langsung dengan Krueng Aceh, sungai besar yang membelah kota Banda Aceh.
Dari teras luar CK, kita bisa melihat matahari sore yang menyejukkan, dan dari seberang sungai kelihatan bangunan Kodam Iskandar Muda yang berarsitektur Kolonial dengan patuh gajah putihnya yang gagah. Atau kalau awan lagi cerah, kita bisa menikmati luasnya langit biru diatas bumi Serambi Mekah. Jadi, kalau mau ngopi dengan pandangan luas tanpa batas (ng-coffee with a view!!), CK-lah tempatnya.
Paling disarankan datang ke CK setelah jam 3 sore. Selain waktu rawan ngantuk, juga ada penganan tempe goreng yang sangat gurih - dan dibuatnya sekitar jam segitu, atau martabak telur yang bisa bikin kolesterol naik kencang. Penganan lain yang layak dicoba adalah roti selai, bakwan goreng dan pisang goreng. Mie (Aceh) disini kurang begitu sedap, begitu juga nasi goreng dan nasi gurihnya. Di Solong lebih enak.
Kantin SMEA
Warung kopi ini awalnya adalah kantin SMK (d/h SMEA) I Banda Aceh, namun karena dibuat menghapap ke Jalan besar yang strategis, depan Kantor Gubernur, maka jadilah Kantin ini jadi warung publik. Meskipun nama resminya sekarang adalah Kantin SMK, namun orang masih lebih suka menyebutnya ‘Kantin SMEA’ - dan semua tukang becak insya Allah akan mengantar sampai di tempat.
Kantin ini paling ramai dikunjungi pengopi lokal, yang merasa tidak nyaman lagi di Solong atau Chek Yukee yang sudah didominasi ’turis kuliner’ dari Medan, Jakarta atau ‘expats’ pribumi yang tinggal di Banda Aceh. Namun sesekali, ada juga turis nyasar yang terlihat di Kantin SMEA ini.
Rasa kopinya sedikit kurang dibandingkan Solong atau CK, namun suasanya lebih rileks, penganannya lebih banyak, dan lokasinya lebih strategis.
Jadi, kalau suatu hari Anda datang ke kota tercinta Banda Aceh dan pengen ngopi, tiga tempat diatas sudah cukup mewakili dan memenuhi keinginan kita akan sedikit kafein atau ‘quality time’ dengan sahabat lama. Piyooh! (baca: mampir).***
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.