Jembatan Deuleu
Anda tahu jembatan deuleu? Itu lho, jembatan yang fungsinya terdegradasi jadi hanya untuk dilihat, tapi kurang bisa berfungsi sebagai jembatan. Jembatan yang saya maksud adalah jembatan penyeberangan di depan BIP.
Entah standar apa yang dipakai oleh arsiteknya ketika itu, dan entah aturan apa pula yang dipakai oleh Pemkot ketika menyetujuinya, yang jelas saat ini amat sangat tidak nyaman untuk menyeberang melalui jembatan itu. Mungkin secara teknis tidak ada yang salah dengan jembatan itu. Tapi secara sosiologis, desain jembatan itu salah besar.
Pertama, perkiraan lonjakan jumlah pengguna jembatan sangat tidak akurat, sehingga lebar jembatan terasa sangat sempit apabila harus dipakai berpapasan, apalagi dengan banyaknya orang yang menggunakannya. Memang benar bahwa lonjakan pengguna jembatan ini tidak lepas dari perubahan rute angkot beberapa tahun yang lalu yang membuat banyak rute angkot melewati Jalan Merdeka. Perubahan rute ini tentu saja di luar perkiraan segala perhitungan teknis jembatan.
Kedua, standar teknik manapun tidak akan memperhitungkan orang-orang yang akan berhenti di jembatan penyeberangan, baik untuk berjualan ataupun untuk meminta-minta. Keberadaan mereka jelas mengganggu fungsi jembatan yang memang sudah tidak memadai ini.
Masalah yang dihadapi oleh warga Bandung saat ini adalah di saat jembatan penyeberangan sudah jadi jembatan deuleu, tapi alternatif tempat penyeberangan lainnya tidak diberikan. Sama sekali tidak efektif bila Bu Polwan ditempatkan di depan BIP pada waktu-waktu tertentu untuk berteriak-teriak dengan pengeras suara meminta pejalan kaki untuk menggunakan jembatan penyeberangan.
Alternatif yang bisa dicoba ada dua. Pertama mengalihkan sebagian rute angkot dari Jalan Merdeka. Ini bisa mengurangi beban jembatan deuleu. Kedua, kalau jembatan itu akan direlakan saja benar-benar menjadi jembatan deuleu, maka sebaiknya dibuat sebuah zebra-cross yang dilengkapi dengan lampu lalu lintas di depan BIP, barangkali antara BIP dan Gramedia.
Setuju? Ada alternatif lain?
PS. Saya sudah setahun tidak ke Bandung, dan posting ini adalah kesan saya yang terakhir sebelum berangkat bekerja ke AS. Baru sekarang sempat ditumpahkan jadi posting, semoga masih relevan.

Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
Herbatrop
Alternatif lain adalah membangun jalan di bawah tanah seperti jalan dari ITB menembus taman sari menuju Sabuga.
July 12th, 2007 at 1:09 pm
iyank
saya juga dah lama ga maen ke BIP, terakhir saya kesana sih emang masih kaya gt. susah banget mo nyebrang dari gramed ke BIP.
July 16th, 2007 at 5:01 pm
ery
@Herbatrop: Biayanya itu loh, pasti akan besar.
@Iyank: Sebagian besar orang pasti memilih ber-jibaku melawan lalu lintas untuk menyeberang di depan Gramedia, daripada harus naik jembatan deuleu.
July 17th, 2007 at 1:57 am
rofii
hehehe akhirnya ada postingan baru jg bandung@mycity…
mmm…kalo kita perhatiin di bandung, tujuan utama bikin jembatan penyeberangan tuh bukan utk keselamatan & kenyamanan pejalan kaki, tapi lebih kepada sebagai tempat spot iklan (big banner), ga percaya???
perhatiin desainnya yang ga ada yang mikirin manusia pengguna jembatan itu
July 17th, 2007 at 6:14 am
ery
@rofii: Saya percaya kok! Inikan memperkuat argumen jembatan deuleu.
July 31st, 2007 at 1:36 am