Menghadapi bahaya kebakaran: siapkah pasar kita?
Setelah Pasar Turi di Surabaya terbakar, disusul beberapa pasar di Cipanas sekaligus terbakar, Pemkot Bandung mulai terlihat mengambil ancang-ancang menghadapi bahaya kebakaran. Pertanyaannya: siapkah pasar-pasar Bandung menghadapinya bila kemungkinan terburuk terjadi?
Laporan dari harian Pikiran Rakyat hari Ahad kemarin sih menjawab pertanyaan itu dengan nada yang cukup positif. Artikel tersebut juga menampilkan salah satu sudut ITC yang dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran.
Saya sendiri punya kesimpulan yang tidak terlalu positif. Pertama-tama silakan simak foto di bawah ini yang saya ambil sekitar setahun yang lalu di Pasar Baru Bandung. Foto pertama menunjukkan kotak yang seharusnya berisi alat pemadam kebakaran, tetapi sudah berubah fungsi menjadi alat pemadam haus, alias jadi tempat meletakkan minuman. Di foto kedua malah menunjukkan kotaknya pun hilang. Entah apakah hidran disampingnya masih berisi selang atau tidak.
Yang kedua, harus diingat, bahwa masalah kebakaran haruslah dilihat secara sistemik, di mana peralatan hanyalah salah satu komponennya. Komponen yang lain juga tidak kalau penting, misalnya SDM dan skenario terburuk.
Dalam masalah SDM, pertanyaannya adalah dalam siapa harus melakukan apa bila terjadi kebakaran? Contohnya adalah hidran di atas (dengan asumsi selangnya memang masih ada) apakah penjaga toko di sekitarnya tahu cara mengoperasikannya?
Dalam masalah skenario, kita boleh dibilang juga sangat tertinggal jauh. Pasar-pasar kita tidak punya skenario terburuk. Dari cara pengoperasian pasar, sangat jelas pasar-pasar kita tidak punya skenario apapun bila terjadi kebakaran.
Skenario terburuk yang mungkin terjadi adalah kebakaran yang penyebarannya cepat (misalnya, letupan tabung gas di dekat tumpukan kain) pada saat padat pengunjung. Skenario seperti ini amat sangat berbeda karakteristiknya dengan skenario korsleting yang terjadi di malam hari pada saat pasar kosong. Mungkin apinya malah bisa dipadamkan dengan cepat, tapi musuh utama skenario itu bukanlah api, melainkan evakuasi yang bisa berubah menjadi stampede.
Anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila ada alarm kebakaran (plus teriakan kebakaran) di Pasar Baru di saat padat pengunjung?
Membayangkan bagaimana para pengunjung akan menyelamatkan diri saja sudah mengerikan. Pengunjung tentu akan memilih jalan keluar seperti ketika dia datang, yaitu lewat eskalator. Padahal eskalator kita itu dirancang lebih untuk kepentingan bisnis (melayani lantai-lantai tertentu) atau untuk kepentingan estetika. Kepentingan keselamatan sama sekali jauh dari perhitungan.
Apalagi memang tidak ada eskalator yang dirancang untuk jadi jalur evakuasi. Berjalan pada saat eskalator beroperasi saja tidak diperbolehkan (tinggi anak tangga eskalator memang tidak dirancang untuk dijalani), apalagi berjalan dalam keadaan panik.
Belum lagi kalau memperhitungkan perilaku penjaga/pemilik toko bila ada kebakaran. Mereka pasti beramai-ramai mengangkut dagangan mereka. Jalur evakuasinya lewat mana? Ya pasti rebutan dengan pengunjung.
Kesimpulannya: masih banyak kerjaan untuk Pemkot Bandung.

Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.
iyank
haduuh.. pasar baru yang rame wae kaya gitu kayanya bakalan sulit deh. dah mah makin lama pedagangnya makin banyak (ga pake kios)..
August 7th, 2007 at 2:48 pm
ilovebandung
Barusan aja Pasar Buku Palasari kebakaran.
Bisa lihat artikelnya juga di blog ilovebandung
http://ilovebandung.wordpress.com
September 3rd, 2007 at 6:23 pm
ditya
kalo gitukan kita nyudutin pengguna bossss!!!! emang dari pihak berwenang kuramg memberikan penyuluhan dan pelatihan jg pengertian. ku akui bangsa kita masih bego koks!!! hahahahaha, penyalah gunaan fungsi bangunan udah jd realita dimana2….. jd siap gak????
October 18th, 2007 at 3:24 pm
ery
@ditya: Ya tidak dong, Bozz! Pengguna bangunan di negara kita kan tidak usah disudutkan toch sudah selalu tersudut :) Masalahnya yang tersudut itu tidak mau pindah dari sudut, padahal langkah-langkah agar tidak tersudut itu sebenarnya sederhana. Siap atau tidak, ya harus siap, karena kita tidak mampu menanggung alternatifnya.
October 24th, 2007 at 7:15 am