← Kembali ke halaman depan

Sampah, Listrik, sampai Politik

Sebutan ‘Bandung kota kembang’ sudah bergeser sejak tragedi Leuwi Gajah Februari 2005 lalu. Longsor sampah itu geger karena menelan ratusan korban tewas dan luka-luka. Penyebab awalnya sederhana, sampah dibuang begitu saja tanpa pengolahan apapun. Ketinggian tumpukan sampah saat itu mencapai 40 meter dari permukaan tanah, dengan panjang pembuangan 1 km, dan kemiringan tumpukan kurang lebih 60 derajat. Setelah longsor, pengelolaan sampah di Bandung terlunta-lunta untuk beberapa saat dan sejak itulah embel-embel sampah lekat dengan kota Bandung. Banyak orang lebih mengenal Bandung sebagai kota sampah ketimbang kota kembang.

Setelah kejadian itu, ide pengolahan sampah pun terus dikembangkan. Termasuk yang sedang santer dibicarakan saat ini: PLTSa. Sampah yang melimpah di Bandung raya ini diusulkan untuk dimanfaatkan menjadi sistem pembangkit listrik. Pro dan kontra bermunculan sejak usul ini dilayangkan April 2007. Walikota Bandung, Dada Rosada ngotot pisan ingin sistem ini cepat jadi. Namun studi tentang kelayakan pembangunannya saja tidak bisa diburu-buru. Bisa-bisa nanti ada tragedi longsor part-2 kalau tidak benar-benar dimatangkan.

Sistem PLTSa bukankah sistem yang pertama dijalankan. Di Amerika, Belanda, bahkan Singapura pun memakai sistem serupa. Bandung ceritanya ingin ikut sukses menjalankan sistem ini. Namun menyerap mentah-mentah sistem tentu bukan penyelesaian. Tentu ada penyesuaian dengan tempat sistem tersebut diterapkan. Sebut saja soal topografi, iklim, ketersediaan lahan, bahkan sampai kemampuan finansial pemerintah kota. Keadaan “pemkot” di Amerika sana tentu berbeda dengan Bandung punya. Ketersediaan lahan Singapura juga jelas berbeda dengan Bandung raya.

Sistem ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, pembangunannya pun tidak sekejap mata. Butuh dukungan penuh dari warga. Bukan hanya dari warga yang bertempat tinggal jauh dari tempat pendirian calon PLTSa, namun juga warga yang tinggal di sekitar sana. Kalau mau lebih ideal lagi, seharusnya di sekitar sistem PLTSa yang didirikan nanti, tidak ada pemukiman tempat penduduk tinggal.

Bukan hanya soal keadaan lahan, iklim, atau finansial saja. Saya pribadi jadi melihat isu PLTSa ini jadi merembet-rembet ke sosial dan politik. Belakangan jadi banyak spanduk-spanduk gelap yang menyatakan dukungannya atas PLTSa, dari sini sumbernya. Tidak jelas atas nama warga mana dukungan tersebut. Suap menyuap juga terjadi sekedar untuk memberikan dukungan atas pendirian sistem ini, lihat disini.

Wahwah, mau bersih ternyata sulit ya. Bagaimana kalau kita mulai dari diri sendiri. Bagi pemilik mobil, berhentilah membuang sampah dari jendela ke luar mobil anda. Jika anda pejalan kaki, mulailah memungut sampah yang terlihat mentereng berserak di jalan. Itu tidak hina kok.

Yuk atuh, bikin bandung terkenal sebagai “kota kembang” lagi :)

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. ron

    Saya setuju sekali dengan semua yg telah disampaikan.
    Namum sebelumnya saya minta maaf, bahaya PLTSa ini telah mencemari web http://www.bandung.go.id

    Masa Polling : “Setujukah Anda dengan dibangunnya PLTSa di Kota Bandung”

    Pada tanggal 24 Januari 2008 pagi jam 10.00 WIB
    Saya lihat Jumlah Setuju = 76, Tidak Setuju = 215

    Masa pada jam 16.30 WIB menjadi : Jumlah Setuju = 805 dan Tidak Setuju = 218.

    Jumlah kenaikan yg Setujunya ngak rasional yaa, he he….. tercemar PLTSa kali?
    Biasanya perhari kenaikannya maksimal 20.
    Bahaya sekali kalo sudah begitu mah.

    January 24th, 2008 at 5:45 pm

  2. Yessi Pratiwi

    Yuk, Mbak Ika :)

    January 26th, 2008 at 10:44 am

  3. ikazain

    Halo mas Ron,
    waaahh, hebat sekali naiknya.
    :P

    Btw, saya juga setuju sekali sama yang mas Ron bilang. Bahaya sekali. Serem ya? Ternyata bikin Bandung Bersih itu susah pisan.

    Mari-mari, mbak Echi.

    February 20th, 2008 at 3:59 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)