Tentang Angklung
Sebagai pendatang yang jatuh cinta pada Bandung, akhirnya saya berkesempatan mengunjungi sebuah pertunjukkan angklung. Bertindak sebagai yang punya gawe adalah Keluarga Paduan Angklung (KPA) SMAN3 Bandung. Acaranya sebenarnya sudah tanggal 19 Januari 2008 lalu. Maaf nih, kalau infonya agak basi. Tapi sebenarnya yang ingin diangkat bukan acaranya kok.
Suasana teater terbuka Dago Tea House malam itu ramaii sekali. Konsernya ditata apik. Saya tadinya berpikir akan mendengar lagu-lagu traditional sunda seperti Manuk Dadali dan kawan-kawannya. Tapi saya salah besar, karena pada playlist yang tertera adalah lagu-lagu hits dalam dan luar negeri saat ini. Sebut saja In the Shadow milik The Rasmus, Powerless-nya Nelly Furtado, Fix You-nya Coldplay, sampai Irrepleceable-nya the mighty Beyonce. Semua dimainkan dengan cantik, dan pada beberapa lagu cukup bisa membuat bulu roman saya bergidik.
Sepulangnya dari pertunjukkan, saya jadi terhenyak. Alat musik tradisional bernama angklung itu ternyata tidak melulu memainkan musik tradisional ya. Alatnya memang tradisional, tapi karena pemainnya kini adalah anak muda, maka tidak salah jika para pelajar SMA ini memiliki cara tersendiri untuk melestarikan budaya kita yang satu ini. Mereka patut diacungi jempol karena mampu menunjukkan bahwa budaya alat musik kita masih bisa mengikuti perkembangan musik dunia. Saya sempat melihat beberapa bule yang datang dan asik menikmati irama orkestra. Banyak juga dari kalangan Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang tepuk tangan sambil senyum-senyum.
Sekali lagi, selamat untuk KPA 3. Semoga pemuda-pemuda lainnya mampu mencontoh teman-teman kita ini sebagai agen pelestari budaya bangsa. Jangan sampai ada kejadian lagi dimana ada negara lain mematenkan budaya kita (berita).
Mari lestarikan budaya Indonesia!
ps: saya jadi tertarik mengenal angklung lebih dalam. Sok atuh, buat yang juga tertarik. Mangga.


Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.
Echi
Mari !
January 26th, 2008 at 10:52 am
arman furqon
Alhamdulillah, kalau ada pendatang kota Bandung yang kemudian jatuh cinta kemudian dengan salah satu icon kesenian bandung.
KPA3 memang berusaha untuk selalu mendekatkan angklung dengan masyarakat yang menjadi “pemiliknya” dengan berbagai cara yang mungkin dilakukan.
Mohon doanya, semoga KPA3 tetap mampu mengupayakan berbagai upaya untuk melestarikan angklung di Indonesia dan mengenalkannya sebagai salah satu warisan budaya milik Indonesia ke seluruh dunia. Amin.
January 26th, 2008 at 2:35 pm
,,nanananana,,
Sbelumnya.. makasih udah dateng di Konser Orkestrasi Angklung VI “Fun is In The Air”.. ^^ (ntar KOA VII dateng lagi ya!)^^
hmm.. waktu ptama kali denger Angklung diakuin ma negara laen.. udah panas aj tuh!!!! Tapi kita ada salahnya juga sih.. kalo udh kaya gini aj, smuanya pada ribut.. tapi dulu sblum ad yg kya gini kesannya kbudayaan Indonesia dtinggalin.. serba salah ya!
Ayo.. mule dr skarang kita lestariin lagi budaya kita!! jangan ampe dicuri lagi ma negara laen!!
KALO BUKAN KITA, SIAPA LAGI?
February 8th, 2008 at 9:37 pm
ikazain
Wah, jangan-jangan mas Arman ini salah satu anggota KPA 3 ya? Kalau iya, saya mau minta free pass untuk konser selanjutnya nih :)
Halo, ,,nanananana,,
Sama-sama. Saya juga sangat menikmatinya lho. Idem dengan mas Arman: Next concert, sisihkan free pass untuk saya yaa.
Hoho, lo nggak ikutan sih chi..
February 18th, 2008 at 5:55 pm