You're here: My City Blogging » Bandung » Article: Siraman Rohani di Toko Buku Kecil
Halo pembaca, gimana nih puasanya? Sudah 10 hari terakhir lho. Nah, berita upcoming event berikut ini semoga akan membantu kamu untuk tambah-tambah kredit pahala di bulan puasa tahun ini. Simak yaa.
Tobucil menyelenggarakan acara bertajuk: Kajian Filsafat Islam “Menuju Tuhan Melalui Diri Sendiri”. Acaranya berlangsung setiap sore hari, mulai tanggal 16 September, hinggan 25 September 2008. Lebih tepat lagiadalah tanggal 16,17,18, 22,23, 24, 25 September 2008, pukul 16.00 - 18.00 WIB, bertempat di Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung. Cara ini dipandu oleh Bambang Q Anees (Penulis, Pengajar di Fakultas Filsafat UIN Sunan Gunung Djati, Bandung). Ada biaya donasi sebesar Rp. 100.000 (termasuk tajil buka puasa). Pendaftaran bisa langsung dilakukan di Tobucil & Klabs. Kalau mau via telepon dan fax, bisa ke 022 4261548 (pk. 9.00 - 20.00 WIB). Tempatnya terbatas bangt lho, maksimal 10 orang.
Nah, berikut ini kita lampirkan silabus dari pertemuan-pertemuan nantinya di Tobucil.
1. Memahami Diri, 16 September 2008, Pk. 16.00-18.00 WIB Siapakah Aku? Ini pertanyaan abadi. Sejak manusia ada, manusia menanyakan pertanyaan yang ini. Adam juga bertanya seperti ini, hasilnya eksperimen mendekati pohon larangan yang membawanya kesadaran untuk “kembali”. Diri adalah ketika kita tahu kemana harus kembali, begitu yang dapat disimpulkan. Tetapi definisi ini terlalu abstrak. Jadi siapakah diri?
Para ahli spiritualitas menyatakan diri ini bertingkat-tingkat. Bahkan Al-Quran memiliki tiga kata tentang visi: nadhara, bashara dan ra’a. Ini artinya ada tiga subjek-pelihat dalam diri ini. Konon, menurut ahli spiritual, bila siapa diri telah terumus kita pun akan tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Siapakah saya? Saya adalah manusia, ah itu jawaban yang sama bila kita tanya pada meja dan meja menjawab saya adalah meja. Saya adalah seorang pekerja, ini lebih baik, tapi lebah-lebah pekerja juga akan menjawab seperti itu. Manakah diri ketika saya bertanya “Siapakah saya?”
2. Memahami Keinginan Diri, 17 September 2008, Pk. 16.00 - 18.00 Apakah yang aku inginkan? Sebuah kitab kuno menulis, “Anda adalah seperti apa keinginan yang terdalam dan terkuat yang Anda miliki. Pada saat Anda menginginkannya, itu akan menjadi kehendak Anda. Pada saat Anda menghendakinya, itu akan menjadi tindakan Anda. Pada saat Anda melakukannya, itu akan menjadi nasib anda. Lihatlah, betapa besar pengaruh keinginan pada nasib kita.”
Keinginan ternyata sangat susah dipahami. Tubuh memiliki keinginan akan makanan, hasrat menginginkan pemuasan nafsu, jiwa menginginkan ketengan. Apalagi terlvisi dan media mempriduksi “mesin hasrat”. Mulanya tak ingin handphone merek tertentu, lalu televisi memberi pengetahuan dan rayuan yang membuat keinginan menjadi tumbuh. Bila susah benar merumuskan apa yang diinginkan, bagaimana kita merancang nasib? 3. Memahami Hubungan-hubungan, 18 September 2008, Pk. 16.00-18.00 Apakah merupakan kebetulan bila saya dilahirkan sebagai laki-laki, ditengah-keluarga yang semuannya perempuan? Apakah juga kebetulan bila saya merasa nyaman mengobrol dengan seseorang yang baru saja saya kenali?
Kita terlahir dalam hubungan-hubungan yang tampak rumit. Persis seperti berada dalam sebuah jejaring yang saling kait. Namun kita sibuk sendiri, terutama ketika kita dipancing untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jadilah kita pejuang kebutuhan pribadi yang tak peduli (walaupun tak menyakiti orang lain), atau bahkan menendang orang lain agar bisa melompat tinggi.
Tariklah nafas, hidung anda akan dipenuhi karbondioksida. Siapakah penyedia CO2 itu? Kita tahu jawabannya dari pelajaran Biologi, jawabannya adalah tumbuhan. Tapi apakah kita pernah peduli pada tetumbuhan? Pernahkan kita menyapanya? mengelusnya dengan kasih? dan mengucapkan terima kasih padanya?
4. Memahami Hukum Kehidupan, 22 September 2008, Pk. 16.00-18.00 Ada banyak hukum dalam kehidupan: ada hukum siapa menanam dia menuai, ada hukum menerima memberi, hukum aksi reaksi, dan sebagainya. Hukum adalah aturanmain yang mutlak dipenuhi oleh semesta ini, tetapi manusia tidak seteratur semesta. Bila padi merunduk ketika berisi, kita semakin tengadah ketika berisi. Bila tanaman memberikan buahnya kepada siapapun yang menginginkannya, kita menumpuk harta ketika memilikinya.
Hidup tanpa hukum mungkin menyenangkan bagi orang modern, karena salah satu tujuan modern adalah menciptakan otonomi (auto=sendiri, nomos=aturan): menciptakan hukum kehidupan oleh diri sendiri. Tapi hidup tanpa hukum persis seperti permainan bola tanpa aturan, tak ada gairah, tak ada perjuangan, dan karenanya tak ada kemenangan.
5. Memahami Tugas Diri, 23 September 2008, Pk. 16.00-18.00 Rumi berkata, bila kita hidup tanpa tugas diri, bahkan amal kebaikan pun menjadi mubadzir bahkan menimbulkan bencana.” Apakah kita hidup hanya untuk memenuhi hasrat makan memakan? Apakah kita hidup hanya untuk tidur? Apakah pada semua kehidupan yang telah kita capai kita tak sempat bertanya, “lalu apa lagi setelah ini?”
Kita memang didera beban hidup, lalu demi pemuasan biologis kita menyimpulkan bahwa hidup adalah perkara mencara makan dan kesenangan. Hanya itu? lalu apa lagi setelah itu? Apakah kita akan melewati hidup hanya untuk itu saja? Pada diri kita ada banyak petugas yang tak kenal lelah melayani kita, jantung terus berdetak mengalirkan darah ke seluruh nadi; hati bertugas menyaring racun, beberapa sel darah putih bertugas menghancurkan racun, semua bertugas untuk diri kita, lalu kita menerima fasilitas ini hanya dengan sekedar hidup?
6. Memahami Rukun Islam, 24 September 2008, Pk. 16.00-18.00 Islam adalah cara hidup yang ditawarkan Tuhan, melaluinya kita dapat menemukan siapa diri apa adanya, dan siapa Tuhan apa adanya” Ada lima hal yang harus dilakukan untuk bisa sampai pada penemuan itu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Lalu apa hubungannya dengan siapa diri saya, apa yang saya inginkan, dengan siapa kita berhubungan, apa tugas saya?
Semua ada hubungannya, ini kesimpulan awal kita. Bagaimana cara menemukan semua itu? Apakah dengan menemukan ke-5 pertanyaan dasar lalu kita baru melakukan rukun Islam, atau melakukan rukun Islam adalah cara sekaligus tujuan?
Rukun Islam adalah sebuah rahasia kehidupan. Kita dapat menemukan semua jawaban dan cara melakukan kesimpulan dari kelimanya. Jika demikian, kenapapara pelaku rukun Islam tidak nenunjukkan kehebatan perilakunya? Jalan mencerca, siapa tahu rukun Islam menunggu Anda untuk menjadi bukti dari kehebatannya.
7. Bisakah Kita Bertemu Tuhan?, 25 September 2008, Pk. 16.00-18.00 Bertemu Tuhan? Apakah kita bisa bertemu dengannya di dunia ini, bukan di akhirat? Segera setelah mendengar kata bertemu kita membayangkan rupa dari Tuhan, atau membayangkan tumbuhnya keajaiban-keajaiban. Tuhan kadang kala dirumuskan sebagai tukang sulap, apakah ia memang berprofesi sebagai tukang sulap?
Nabi Musa ingin bertemu Tuhan dan dikabulkan, lalu ia melihat api dan pingsan tak kuat menahan diri. Nabi Muhamad bertemu Tuhan dalam rangka mi’raj, beberapa sufi dan mistikus pelbagai agama mengaku juga bertemu Tuhan. Apakah tukang ojek bisa bertemu Tuhan? Apakah harus dengan jalan berdzikir seperti pelaku tarekat kita bisa bertemu Tuhan? Lalu apa pentingnya kita harus bertemu Tuhan?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.