← Kembali ke halaman depan

Pilkada Bekasi : Isu Pribumi dan Pendatang…

Sore tadi (Kamis, 18 Oktober 2007) saya sempat termangu membaca posting blog Paman Tyo, “Pribumi dan Pendatang (di Bekasi)”. Kerisauan yang tercermin pada posting tersebut membuat saya teringat bahwa saya pernah (dan masih) memiliki kerisauan yang sama seperti yang dirasakan oleh Paman Tyo.

Rencana menuliskan posting balasan mengenai hal ini pada blog pribadi saya batalkan karena saya pikir blog Bekasi@MyCity jauh lebih tepat dan lebih spesifik membahas hal ini.

Isu mengenai soal Pribumi-Non Pribumi, Pribumi-Pendatang memang potensial menjadi bara api dalam sekam. Isu ini selalu mengemuka jika bersentuhan dengan politik dan di Bekasi menemukan muaranya pada Pilkada Walikota Bekasi, Januari 2008 mendatang.

Isu soal Pribumi-Pendatang bukan hanya ada di Bekasi. Seperti yang disampaikan oleh Paman Tyo, isu ini mengemuka pada hampir setiap daerah. Pilkada Jakarta Agustus 2007 yang lalu menjadi contoh bagaimana isu primordialisme dijadikan sebagai modal untuk meraih dukungan.

Saya pribadi memang lahir, besar dan tinggal di Bekasi. Meski demikian saya tidak bisa serta merta dan tidak berani mengklaim bahwa saya adalah orang asli Bekasi dalam pengertian yang sempit. Apa definisi pribumi ? Lahir di Bekasi ? Besar di Bekasi ? Punya rumah di Bekasi ? Bekerja di Bekasi ? Jika kelahiran menjadi faktor utama, bagaimana dengan orang yang turun temurun tinggal di Bekasi sejak jaman si Pitung namun karena nasib ternyata dilahirkan diluar Bekasi ?

Bagi saya, isu soal Pribumi-Pendatang hanya menjadi komoditas politik yang populer disaat tertentu.

Sebagai contoh nyata, Walikota Bekasi sekarang ini (H. Akhmad Zurfaih) adalah warga Bekasi yang tinggal di daerah Tugu-Pasar Proyek Bekasi. Jika isu pribumi-pendatang menjadi komoditas, Walikota Akhmad Zurfaih dapat dikatakan sebagai penduduk pribumi asli Bekasi. Tapi apakah ini sejalan dengan prestasinya dalam mengelola kota Bekasi ? Mohon maaf, Walikota Akhmad Zurfaih bisa dikatakan kurang berhasil dalam mengelola kota Bekasi.

Secara prestasi, secara jujur saya sampaikan bahwa Walikota Akhmad Zurfaih masih kalah berprestasi jika dibandingkan dengan Walikota sebelumnya, H. Nonon Sonthanie. Padahal, H Nonon Sonthanie merupakan putra Sunda. Selama menjabat sebagai Walikota Bekasi, H. Nonon Sonthanie melakukan berbagai pembangunan sarana dan pra sarana, mulai dari jembatan M. Hasibuan, Penghijauan Jl. Ir. H Juanda, pembangunan fly over kearah Duren Jaya, pemugaran Lapangan Serbaguna dan berbagai bentuk nyata pembangunan.

Jika berkaca pada pengalaman Bupati dan Walikota Bekasi periode yang lalu, isu pribumi-pendatang tidak lagi penting. Prestasi kerja harusnya menjadi ukuran yang bisa disepakati. Kualitas kerja dan komitmen pada peningkatan kesejahteraan jauh lebih penting daripada sekedar membawa nama “penduduk asli Bekasi”.

Saya tidak menutup mata bahwa isu soal pribumi-pendatang bisa juga dipicu dari keberadaan para “pendatang” yang hanya memandang Bekasi sebagai tempat singgah semata. Yang menguasai berbagai kesempatan kerja, fasilitas dan peluang usaha tanpa memberikan ruang bagi para “penduduk asli”.

Slogan “Mempersatu Pribumi dan Pendatang” yang diusung oleh tim sukses Drs H. Madinah HL SAg seperti yang ada pada screenshot posting blog Paman Tyo bisa menjadi bumerang jika tidak dijabarkan secara baik dan cerdas. Slogan tersebut secara kasat mata menjadikan para pendatang dan penduduk asli dalam posisi berhadapan, tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud sebagai pendatang dan siapa yang dimaksud sebagai pribumi atau penduduk asli.

Bagi anda para calon Walikota maupun calon Wakil Walikota Bekasi, akan lebih baik jika menjabarkan apa saja yang akan dilakukan jika menjabat sebagai walikota. Jangan lagi bicara hal-hal muluk diatas langit semacam, “Meningkatkan kesejahteraan rakyat”, “Meningkatkan taraf hidup rakyat”, “Memajukan Bekasi” dan hal-hal lain yang bersifat imajiner. Akan lebih baik jika membuat slogan dan rencana kerja yang membumi, yang lebih terukur dan dapat dicapai secara gradual namun pasti.

Ketimbang mempermasalahkan dan mengungkit masalah pribumi dan pendatang yang tidak memberikan benefit secara maksimal bagi penduduk Bekasi, akan lebih baik jika calon walikota dan wakil walikota untuk berkonsentrasi pada 3 hal utama, yaitu : Pangan, Kesehatan dan Pendidikan. Buatlah rencana kerja yang dapat mendorong peningkatan peluang kerja, kemudahan urusan kesehatan dan kemudahan layanan pendidikan. Jangan lagi terdengar kabar soal tenaga kerja yang ditindas, orang miskin yang ditolak di RSU, biaya tahun ajaran yang mencekik dan biaya buku pelajaran yang menyusahkan orang tua.

Walikota Bekasi yang dibutuhkan adalah walikota yang kaya, yang tidak perlu penghasilan dari jabatannya sebagai walikota. Lahir dan besar di Bekasi tak masalah, lahir ditempat lain dan besar di Bekasipun tak masalah. Jangan sampai mengklaim sebagai penduduk asli Bekasi namun justru dilanda masalah yang membawa citra negatif bagi Bekasi.

Buat Walikota Bekasi sekarang, Bpk. H. Akhmad Zurfaih, selamat bekerja pak. Meski pilkada tinggal hitungan bulan, tetap ada ruang bagi bapak untuk berprestasi bagi Bekasi.

Ikuti diskusi Ada 17 komentar untuk artikel ini.

  1. Paman Tyo

    Terima kasih, Vai! Kaulah calon walikotaku. :D

    Buat saya nggak apa-apa kalau itu dikedepankan sebagai tema kampanye. Justru inilah kesempatan untuk mengomunikasikan soal yang mungkin laten secara dewasa. Selebihnya ya respon masyarakat pemilih dalam memilah tema dagangan kandidat. :D

    October 19th, 2007 at 12:13 am

  2. Obyektif

    Itu isu usang yang tidak boleh dipakai lagi.

    Sungguh memalukan, semoga calon walikota ini tidak menang!

    October 19th, 2007 at 12:26 am

  3. ole

    This candidate should not be elected.

    October 19th, 2007 at 12:27 am

  4. auliahazza

    Saya mau cerita : Saya pernah tinggal di Bekasi kurang lebih 15 tahun, sebagai pendatang yang tinggal disuatu komplek perumahan, kami sebagai pendatang tidak diterima oleh kaum pribumi disana. Pribumi disana selalu mengajak berantem dengan warga perumahan. Saya tidak tahu apa sebabnya. Selama tinggal disana warga pribumi lambat mengalami kemajuan. Mereka baru mengalami perubahan dan berpandangan ke depan soal bisnis sekitar tahun 2002. Dengan mempergunakan tanah mereka yang luas, dibangunlah rumah-rumah kost.

    Beda dengan warga pribumi dirumah saya sekarang, mereka menerima warga pendatang dengan sangat welcome dan mengalami kemajuan yang sangat berarti, sekarang mereka sanggup melihat peluang usaha yang ada dan berpikir ke masa depan serta ingin selalu belajar.

    October 19th, 2007 at 9:15 am

  5. Masim "Vavai" Sugianto

    #Paman Tyo,
    Thanks paman. 10 tahun mendatang mungkin harapan paman agar saya menjadi calon Walikota bisa terkabul, hihihi…

    Jika melihat peta perpolitikan terkini, kandidat yang hanya menjual soal pribumi-pendatang tidak akan terlalu populer. Pada akhirnya, rakyat yang akan membuktikan apakah jargon tersebut masih laku dijual atau tidak. Mudah-mudahan sih tidak ;-)

    October 19th, 2007 at 11:14 am

  6. Masim "Vavai" Sugianto

    #Ole,
    I agree with you. Let’s see in Jan 2008 ;-)

    October 19th, 2007 at 11:18 am

  7. Masim "Vavai" Sugianto

    #Auliahazza,
    Ini dimana ? Perum Margahayu kah ?
    Jika membaca apa yang Auliahazza sampaikan, berarti premis adanya ketidakharmonisan hubungan antara ‘pribumi’ dan ‘pendatang’ memang ada ya ?

    BTW, kadang hal tersebut umum terjadi jika ada perasaan ‘tersingkir’. Mudah-mudahan hal ini tidak berlaku secara umum dan lebih kepada trend sesaat :-D

    October 19th, 2007 at 11:20 am

  8. sawung

    hmmm, saya yang lahir dan besar dibekasi melihat persoalan pribumi dan pendatang memang bahaya laten. Dulu jaman saya masih kecil bahkan ada pengajian yang menjelek-jelekan pendatang dengan menyebutkan pendatang membawa pengaruh jelek. Membawa persoalan ini ke permukaan bagus sekali karena lebih baik muncul dalam bentuk yang masih sehat (dialog/diskusi) dibanding muncul ke permukaan dalam bentuk kerusuhan (seperti kasus di kalimantan).

    October 19th, 2007 at 12:12 pm

  9. Masim "Vavai" Sugianto

    #Pribumi-Pendatang memang bahaya laten yang mudah meletup jika ada pemicu dari sisi ekonomi dan politik. Selama ini masih bisa diredam dengan sifat khas orang Bekasi yang supel dan terbuka. Mudah-mudahan sikap terbuka dan open minded pada kemanjuan ini bisa diserap oleh putra-putri kelahiran Bekasi dan diadaptasi dengan baik oleh rekan-rekan yang tinggal di Bekasi.

    October 19th, 2007 at 12:18 pm

  10. Masim "Vavai" Sugianto

    #Sawung,
    Pribumi-Pendatang memang bahaya laten yang mudah meletup jika ada pemicu dari sisi ekonomi dan politik. Selama ini masih bisa diredam dengan sifat khas orang Bekasi yang supel dan terbuka. Mudah-mudahan sikap terbuka dan open minded pada kemanjuan ini bisa diserap oleh putra-putri kelahiran Bekasi dan diadaptasi dengan baik oleh rekan-rekan yang tinggal di Bekasi.

    October 19th, 2007 at 12:19 pm

  11. auliahazza

    Iya, pak Vavai, di Perumahan Margahayu. Berantemnya untuk banyak hal. Pernah lho sampai ga boleh lewat jalan kampung untuk ke terminal Bekasi. Terus terang situasi ini membuat warga komplek Margahayu ketakutan. Kami sih pendatang seingat saya ga pernah cari perkara.

    Tersingkir .. hmmm … memang mereka telat untuk maju, tapi apakah tidak diambil positif akan datangnya si pendatang, misalnya menjadi pemicu untuk lebih baik lagi bukannya sibuk untuk saling berantem.

    Mudah-mudahahan cuma trend sesaat tapi kenapa harus 15 tahun begitu terus ?

    October 19th, 2007 at 12:28 pm

  12. andrias ekoyuono

    isu yang menurut saya tidak cerdas untuk diangkat menjadi tema kampanye, pasti menimbulkan ketidak sukaan dari banyak orang. Siapa sih konsultan kampanyenya ? :-)

    October 19th, 2007 at 2:28 pm

  13. ber-KTP bekasi

    Ya justru dari kampanye itu kan sdh kelihatan kualitas sang kandidat.
    BTW, klo di Indonesia yg menang tetap yg banyak duit koq! whatever who they are…

    October 19th, 2007 at 5:57 pm

  14. JaF

    Sebagai warga bekasi dari tahun 1980, saya ndak perduli mau pribumi kek, pendatang kek.. Rasanya ndak ada untungnya isu ini diangkat. Kalau pake istlah ustadz saya di Gang Gamprit dulu: “Kagak ade manpaatnye, banyakan mudaratnye.. ”

    Saya sih berharap banyak dari bekasi. Tapi kalau pemimpinnya pola pikirnya gak berubah, gimana dong.. Mereka masih hidup di tahun 80-an gitu loh.

    Akhirnya jadi pragmatis aja. Yang penting idup nyaman.. Tiap lebaran mangsih ade kue duit ame dodol.. hehe

    October 19th, 2007 at 7:50 pm

  15. djoko

    saya 11 tahun lebih tinggal di Bekasi masih merasa ngeri akan isue tersebut.

    Dan samapai sekarangpun masih belum merasa tinggal dirumah sendiri.

    October 24th, 2007 at 3:37 pm

  16. alfie_khc

    Saya lahir di sini dibumi Bekasi tepatnya di Tambun dan saya sangat sedih melihat Bekasi sekarang, banyak warganya yang yang senang meributkan masalah pribumi dan non pribumi sedangkan warga aslinya sudah termarjinalkan sejak awal orde baru.

    Dahulu ditahun 50′an dan 60′an komunitas yang ada di tempat kami Tambun hanya ada tiga yaitu asli Pribumi, Sunda dan Cina yang orang jawa (nyaris tidak ada)didaerah kami di Tambun hanya satu yaitu keluarga bapak Marto Almarhum tapi yang saya herankan kok dulu mereka begitu rukun dan damai walaupun berbeda beda suku dan agama bahkan dengan etnis cina kami bisa saling membantu termasuk bisa hutang (he he he)

    Saya masih ingat Babah Ong Guan pedagang obat yang sangat baik hati. Enci Er pemilik restauran yang tidak pernah membuat makanan yang mengandung minyak babi, Eng Tai pembuat benang gelasan yang sangat terkenal yang tinggalnya di “Kidul” dan etnis cina lainnya yang begitu dekat dengan kami.Entah mengapa sekarang Bekasi seperti Api Didalam Sekam, banyak lah bertanya pada tokoh toh yang mengalami sejarah Bekasi dari dan kita akan dapat kearifan bermasyarakat karena mereka mengalami sendiri apa yang kita tidak miliki sekarang yaitu keidahan akan kemajemukan dengan sling menghormati keberadaan masing masing.

    Salam
    MHAS

    October 26th, 2007 at 10:53 am

  17. Haniya

    Isu klasik “pribumi dan non pribumi” sebetulnya sudah tidak layak dijual. Persoalan utamanya bukan terletak pada hal tersebut, melainkan komitmen untuk mau “miskin dan susah” demi kemakmuran masyarakat Kota Bekasi. Elemen pendukung calon walikota nya pun harus disiapkan mental siap kalah terlebih dahulu sehingga tidak ada lagi kekisruhan pasca pilkada. Kita semua sudah lelah bung….untuk terus bertikai…. Selamat memilih yang terbaik!!!!

    October 26th, 2007 at 10:47 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)