Terminal Bekasi, Kumuh dan Semrawut ?

Jika anda pengunjung dari luar daerah yang baru datang ke Bekasi, apa yang ada dalam benak anda begitu menginjakkan kaki di terminal kota Bekasi ? Rapi atau kesan sebaliknya ?
Bekasi sebagai salah satu kota satelit Jakarta adalah kota dengan pertumbuhan yang sangat pesat, baik dari sisi jumlah penduduk maupun infrastruktur yang dibangun oleh swasta. Saat saya masih bersekolah di SMAN 2 Bekasi yang berlokasi di Perumnas II samping Stadion Bekasi (Etniez 2 Tapper 1 Belstad :-D), daerah kota Bekasi masih terbilang sepi. Mall masih belum banyak dan Terminal Bekasi masih mampu menampung bus dalam maupun luar kota.
Namun kini Terminal dengan luas hanya lk 1.5 hektar ini tidak mampu menampung perkembangan kota. Bukan hanya tidak mampu menampung bus dalam dan luar kota, terminal juga tidak mampu menampung angkutan kota (KOASI) yang memiliki begitu banyak trayek dan jurusan.

Pendatang yang baru sampai di Bekasi lebih banyak bingung jika ingin menuju kesuatu tempat. Tidak ada jalur khusus untuk suatu jurusan. Kadang 1 jurusan ditempati oleh bus dengan berbagai tujuan. Sewaktu saya berkunjung ke Terminal Bekasi, yang saya lihat adalah jurusan ke Bandung (bus Primajasa), Sumedang dan Garut saja. Sisanya saling tumpang tindih pada 1 lajur.
Rencana pemindahan terminal Bekasi sebenarnya sudah diagendakan sejak tahun 2004, namun sampai dengan masa Jabatan Walikota Akhmad Zurfaih menjelang selesai, rencana pemindahan masih belum direalisasikan. Wilayah calon terminal yang baru di daerah Bojong Rawa Lumbu sudah dikuasai spekulan namun pengerjaan terminal tidak dapat dimulai karena pemenang tender ternyata tidak memiliki dana :-(.

Terminal Bekasi semakin terlihat semrawut, terutama dipagi hari karena jalan Ir. H. Juanda yang melintas didepan terminal dikuasai oleh para pedagang sayur yang menyita seluruh badan jalan. Jika satu waktu mengendarai kendaraan dan hendak melintasi jalan Ir. H. Juanda di depan terminal Bekasi disaat pagi hari, jangan harap kendaraan anda bisa melaju. Salah-salah anda bisa terjebak ditengah-tengah pedagang sayur :-P.
Tidak adanya pagar pembatas di terminal Bekasi juga membuat banyak kendaraan non angkutan yang masuk kedalam terminal dan membuat bus yang hendak parkir mesti ekstra hati-hati.

Akibat kesemrawutan di Terminal Bekasi, banyak bus dan angkutan perkotaan KOASI yang memilih untuk tidak masuk ke terminal dan menaikturunkan penumpang sebelum terminal. Banyak KOASI yang memilih untuk memutar dan menunggu penumpang di perempatan Borobudur-Ramayana sedangkan bus banyak yang memilih memutar di sekitar Taman jalan Cut Meuthia atau disekitar Carrefour (dulu Karang Kitri)
Ketika sore kemarin saya datang ke terminal untuk membuat beberapa screenshot kondisi terakhir, tampak ada upaya dari pihak terminal untuk membuat tembok pembatas dengan tujuan meningkatkan ketertiban didalam terminal. Sayangnya, pengerjaan tembok pembatas ini membutuhkan waktu yang relatif lama sehingga terminal masih terlihat kotor dan semrawut. Jika pagar pembatas sudah jadi, pengelola terminal sudah selayaknya menerapkan pengaturan yang lebih tegas agar kesan semrawut bisa dikurangi.

Meski sudah ada upaya perbaikan, pilihan pemindahan Terminal Bekasi tetap menjadi PR yang wajib dituntaskan karena daya dukung Terminal Bekasi sudah tidak dapat menampung luapan angkot dan bus.
Bagimana calon walikota dan wakil walikota Bekasi ? Adakah program relokasi Terminal Bekasi ini dalam materi kampanye anda ?

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
alfie_khc
Melihat Kota Bekasi sekarang kepala saya menjadi pening karena aspek kemanusiaannya nyaris hilang1.
Dari mulai pengendara motor hingga mobil kecil dan besar mudah sekali naik “spanningnya” anka tindakan kriminilpun sangat mengerikan begitu pula Tambun, tempat dimana saya dilakhirkan sami mawon! saya pernah bilang pada saudara saudara& Mamah saya bila ada mesin waktu yang dapat membalikkan waktu seperti di film Time Tunnel atau lorong waktunya yang ada di sinetron Bang Haji Deddy Mizwar
ingin rasanya saya masuk kembali dan tumbling down dimasa tahun 50′an & 60′an dimana Bekasi dan Tambun merupakan tempat yang sangat nyaman, lestari dan manusiawi dimana kami benar benar menikmati alam sekitarnya setiap hari penuh dengan suka cita.What a beautiful memory!.
Wass
MHAS
October 26th, 2007 at 8:49 am
alfie_khc
Sekedar tambahan, dahulu di tahun 50′an & 60′an Bekasi memiliki Babelan yang indah dan asli, Ujung menteng memiliki rumah rumah tradisinoil dengan halamanya yang bersih dengan pemimpinnya Kiayi Nur Ali yang religous dan kharismatik, Alun Alun sekitar RS Bekasi tempat dimana komunitas para menak Sunda tinggal (termasuk tempat tinggal Raden Salam Bin Haji Raden Umar kakaknya Kakek saya), Cibarusah yang asri dengan penduduknya yang lemah lembut,Lemah Abang/Simpangan yang para gadisnya yang sangat sopan dan lemah gemulai, Setu yang penuh dengan pohon buah buahan dengan buah durian sebagai primadonanya dll hingga President Sukarnopun padasetiap musim duarian spesial mengorder dari daerah ini dan daerah lainnya lagi yang tidak dapat saya uraikan satu persatu, saat itu Kabupaten bekasi merupakan tempat yang sangat diberkahi oleh Allah SWT.
October 26th, 2007 at 9:45 am
Anto
Tolong dong bis garut ada ac? masa dari dulu g da ac!!Trus kota bekasi
July 8th, 2008 at 9:34 pm