← Kembali ke halaman depan

Kehadiran Bu Laela dan Pak Qodar di Bulan Suci

Oleh Mustopa

Bu Laela dan Pak Qodar adalah nama suami isteri pada sebuah kampung yang terkenal dengan kesalehnnya. Meski dalam kehidupannya tampak sederhana, tapi dalam keseharian rajin menjalankan ibadah. Baik ibadah mahdloh (ibadah yang diwajibkan) maupun ibadah ghairu mahdlah (ibadah sunnah yang dianjurkan). Lebih-lebih di bulan suci ini hampir tidak ada waktu sedikitpun yang terlewatkan begitu saja kecuali mengisinya dengan ibadah.
Dua nama sosok tersebut sebenarnya hanya nama simbolis belaka. Kata tersebut di atas terdiri dari kata Laila dan Qodar, dalam Ilmu Nahwu (ilmu Tahasa Bahasa Arab) disebut Jumlah Idlofi karena terdiri dari mudlofdan mudlof ilaih. Laila artinya malam dan Qodar artinya mulia. Kemuliaannya, antara lain karena turunnya Al-Qur’an pada malam itu. Qodar juga berarti pengaturan karena ketika itu Allah mengatur khittah dan strategi guna mengajak manusia pada ajaran yang benar. Qodar juga berarti ketetapan karena pada malam itu terjadi ketetapan bagi perjalanan hidup manusia.

Dalam kitab suci, malam itu memiliki nilai sama dengan ibadah seribu bulan bagi yang mendapatkannya. Atau kalau saja mau dihitung, seribu bulan sama saja dengan kurang lebih umur manusia, yakni 80 tahun. Dari situ dapat diasumsikan bahwa siapa saja yang dapat malam Lailatul Qodar, akan mendapatkan sebuah pengalaman hidup, yakni pengalaman spiritual yang amat berharga dibandingkan dengan hidup 80 tahun.

Itulah sebabnya, kedatangan malam Lailatul Qodar sangat dinanti-nantikan oleh kaum muslimin yang sedang sedang menjalankan ibadah puasa karena malam tersebut jatuh bertepatan pada bulan puasa. Adapun bentuk kegiatan untuk menyambut malam yang diimpi-impikan tersebut diantaranya dengan bangun malam mengerjakan sholat sunnah, sholat malam, tadarrus, membaca dan mempelajari Al-Qur’an serta berdzikir sepanjang malam.

Nabi menganjurkan umatnya untukberusaha menemui malam Lailatul Qodar, tentu saja pertemuannya bukan menunggu dengan tidak tidur semalam suntuk. Karena jika demikian maka orang-orang yang tidak yang tidak tidurlah yang akan memperoleh kebahagiaan. Menanti kehadirannya dengan jalan ibadah, mendekatkan diri pada Allah sambil menyadari dosa dan kelemahan kita. Hal tersebut bila dilakukan secara sadar, ikhlas, berkesinambungan serta ihtisab akan berbekas di dalam jiwanya sehingga menimbulkan kedamaian, ketentraman, dan dapat mengubah secara total sikap kejiwaan seseorang.

Di sinilah kiranya sikap jiwa menantikan datangnya Lailatul Qodar, dapat diparalelkan dengan sikap tobat dari melakukan dosa dan kesalahan. Dan di dalamnya harus ada sikap rendah hati dan ketulusan. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan bersamaan dengan melakukan i’tikaf pada malam hari. Lewat i’tikaf, seseorang dapat merenungkan keadaan dirinya sehingga i’tikaf dapat menjadi momentum yang sangat tepat untuk melakukan pencarian makna hidup yang paling penting. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah Sankan Paraning Dumadi, atau untuk apa hidup, dari mana datangnya hidup, serta akan kemana hidup ini?

Apabila kesadaran hidup spiritual telah diperoleh seseorang, maka akan berubah seluruh sikap dan pandangan hidupnya. Ia benar-benar merupakan peletakkan batu pertama dari kebijakan sepanjang usianya dan sekaligus ia merupakan malam penetapan atau Lailatul Qodar bagi kehidupannya di alam fana dan baqa. Sejak itu hingga akhir hidup hayatnya dilanjutkan hingga akhirat ia akan merasakan kedamaian dan kesejahteraan.
Sosok Bu Laila dan Pak Qodar yang tekun ibadah di bulan Ramadhan dan malam-malam terakhir dimungkinkan akan memperoleh malam Lailatul Qodar. Mereka telah mempersiapkan jauh-jauh hari dengan penuh keikhlasan dan kesadaran. Kehadiranya hanya untuk beribadah karena Allah semata. Semoga Lailatul Qodar hadir di lubuk hati kita semua.***

Penulis adalah lulusan Magister Agama UMS Surakarta dan aktif di Jejaring Lingkar Pesantren Cirebon. Kini Ketua GP Ansor Waled dan anggota KlubTulis Rumah Pena.

KlubTulis Rumah merupakan sarana berbagi pengalaman para penulis. Agenda KlubTulis digelar setiap Rabu sore di Rumah Pena, Jl Dr Sudarsono No. 40A Cirebon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. Taufan

    Hebat juga nih ceriteranya … !

    March 18th, 2008 at 9:49 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)