Fenomena Kaum Pendatang
Harian Bali Post akhir-akhir ini sering menulis tentang fenomena bertambahnya penduduk pendatang di Denpasar. Statistik terakhir bahkan menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk pendatang di Denpasar sudah jauh melebihi pertumbuhan penduduk asli. Laju pertumbuhan penduduk pendatang kini tercatat telah mencapai 0,12 persen per tahun, sementara penduduk asli hanya 0,02 persen. (Bali Post 31 Mei 2007: Denpasar Diserbu 4.000 pendatang).
Sebagai daerah tujuan wisata dan salah satu propinsi berpendapatan terbesar, Bali memang layak menjadi tujuan para perantau dari luar daerah yang berharap dapat mengais rezeki di pulau ini.
Tapi, masyarakat Bali juga berkepentingan untuk tetap menjaga dan melestarikan adat dan budayanya. Istilah yang sering mereka kumandangkan adalah “Ajeg Bali”. Terlalu banyak pendatang berarti makin banyak terjadi akulturasi budaya, dan ini berpengaruh buruk pada keajegan Bali. Masyarakat Bali tentu tidak ingin bernasib sama seperti orang Betawi yang terpinggirkan di daerahnya sendiri.
Di lain pihak, fenomena pendatang ini seharusnya ditanggapi masyarakat Bali dengan mawas diri dan introspeksi. Penduduk asli selama ini terlalu terlena dan akhirnya bergantung pada industri pariwisata. Akibatnya, sebagian besar putra daerah tidak punya skill dan kompetensi profesional yang diperlukan dalam dunia kerja, baik di sektor formal maupun informal. Peluang inilah yang kemudian diisi oleh kaum pendatang.
Tidak usah jauh-jauh. Lihat saja pusat komputer Rimo di Jl. Diponegoro itu. Sebagian besar pemilik toko dan teknisinya adalah pendatang. Putra daerah cuma kebagian posisi penjaga toko merangkap marketing. Tanya kenapa? Ternyata sangat sulit untuk mencari putera daerah yang menguasai TI karena memang jumlahnya sangat sedikit.
Jadi, sebagai bagian dari kampanye “Ajeg Bali”, perlu juga disosialisasikan kepada putera daerah, terutama kaum mudanya untuk giat menimba ilmu di berbagai bidang. Jangan cuma tergantung kepada bisnis pariwisata. Kalau tidak demikian, jangan salahkan para pendatang yang mengalir ke sini untuk mengais rezeki!

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
rama
Tidak juga mas, banyak orang bali yang menguasai IT, cuman lagi2 masalah culture, disini tingkat sosialisasi tinggi, apalagi kalo sudah urusan “mebanjar”, pekerjaan menjadi nomer 2, nah mungkin karena alasan itu perusahaan2 enggan utk memilih tenaga IT asli bali. Belum lagi terjadinya diskriminasi diperusahaan2 yang dimilik expatriat, mereka lebih percaya kepada IT yg berambut coklat alias bule, padahal kalo disejajarkan..mereka cuman jago bahasanya aja (baca: membual didepan bos) ketimbang tekniknya
August 22nd, 2007 at 6:29 pm