← Kembali ke halaman depan

Denpasar, kota berwawasan budaya

Iya, kota berwawasan budaya. Setidaknya itulah yang dicanangkan oleh Walikota Denpasar, Bapak Drs. A. A. Puspayoga, sejak jauh hari. Ini adalah sebuah rencana untuk mendukung tegaknya budaya ditengah pengaruh modernisasi yang terjadi begitu pesat di Bali demi mendukung ‘Ajeg Bali’. Selain menegakkan budaya lokal, menonjolkan aspek budaya sebagai komoditi pariwisata adalah merupakan tujuan kota berwawasan budaya ini.

Sebagai kota berwawasan budaya, Denpasar mempunyai berbagai obyek wisata budaya yang layak untuk di kunjungi, antara lain :

  • Museum Bali , berlokasi di Jalan Letkol Wisnu, tepatnya disebelah timur Lapangan Puputan Badung. Di museum yang baru saja mengalami renovasi pada akhir tahun 2006 ini dapat ditemukan berbagai peninggalan bersejarah, khususnya yang berkaitan dengan Bali. Diantara tempat tempat pameran terdapat diantaranya bangunan Buleleng, Tabanan dan Karangasem, dimana bangunan bangunan ini yang pada tahun 2006 direnovasi. Museum ini ramai dikunjungi para turis mancanegara dan nusantara yang ingin mengetahui berbagai peninggalan khususnya yang berkaitan dengan budaya Bali.
  • Museum Le Mayeur, museum yang berlokasi di Sanur, tepatnya di Jalan Hang Tuah ini, mamajang berbagai lukisan hasil karya pelukis kelahiran Belgia , Adrien Jean Le Mayeur de Merpres yang datang ke Bali pada tahun 1932. Museum ini dulunya merupakan rumah dari Le Mayeur dan Ni Pollok, istrinya, seorang gadis bali yang merupakan penari Legong terkenal di jamannya.
  • Taman Werdhi Budaya - Art Center, merupakan komplek taman budaya tempat berbagai kreasi seni ditampilkan, khususnya pada saat Pesta Kesenian Bali yang diadakan setiap tahun. Seperti halnya saat ini dimana Pesta Kesenian Bali sedang berlangsung sampai tanggal 16 Juli 2007, sebuah pesta dimana satu bulan penuh di isi oleh berbagai kegiatan kreasi seni dari seluruh Bali bahkan dari luar daerah dan manca negara. Dari seni tari, karawitan, wayang, perdalangan, drama, lukis,dan patung ditampilkan baik dalam bentuk pagelaran maupun pameran. Taman Werdhi Budaya terdiri dari beberapa bangunan dengan fungsinya masing masing. Sebagai pusatnya, adalah amphitheather Ardha Candra, sebuah theater terbuka berbentuk bulan setengah yang mampu menampung sampai 600 orang sebagai tempat berbagai acara acara seni besar digelar seperti sendratari dan berbagai pertunjukan panggung lainnya. Di sebelah barat, terdapat gedung Ksirarnawa, sebuah theater tertutup dengan kapasitas 800 orang dan tempat pameran yang terletak di lantai bawah. Di sebelah utara , terdapat bangunan utama, Gedung Kriya Uccaihsrawa, yang lebih dikenal oleh sebagai Gedung Kriya, adalah tempat pameran berbagai hasil karya seni seperti seni lukis, patung, serta kerajinan, yang mana di sebelah timurnya terdapat sebuah kolam dengan tanaman Lotus yang dilengkapi sebuah bale bengong. Selain bangunan bangunan tersebut, Taman Werdhi Budaya memiliki berbagai sarana lainnya, seperti wantilan, amphitheater kecil dan sarana lainnya sebagai tempat pertunjukan kreasi seni budaya.
  • Pasar Kumbasari dan Pasar Badung. Pasar Kumbasari adalah pasar yang menjual berbagai hasil kerajinan masyarakat bali, sehingga pasar ini kerap dikunjungi oleh para turis nusantara maupun mancanegara sebagai tempat berbelanja pernak pernik dan kerajinan khas Bali. Dulu, bagian atas bangunan ini digunakan sebagai gedung bioskop, namun seiring terpuruknya perfilman nasional dan masuknya Cineplex 21, bioskop ini akhirnya tinggal nama. Baru baru ini Kumbasari di terjang kebakaran hebat dimana seluruh bangunan rusak, kini tengah di lakukan pembangunan kembali. Pasar Badung merupakan pasar tradisional yang berlokasi ditimur pasar Kumbasari dibatasi oleh sungai Tukad Badung. Pasar ini kerap menjadi obyek kunjungan para turis mancanegara, khususnya untuk melihat suasana pasar tradisional. Disini dijual berbagai kebutuhan pokok sandang dan pangan. Disebelah timur pasar, tepatnya di Jalan Sulawesi merupakan deretan penjual kain. Pada jaman dulu, pasar ini dinamakan ‘Peken Payuk’, atau ‘Pasar Dandang’, pasar tempat orang orang menjual dandang.

Selain tempat tempat diatas, Denpasar masih mempunyai berbagai obyek seni seperti Museum Lukisan Sidik Jari di Tanjung Bungkak dan peninggalan budaya seperti Puri Pamecutan, Puri Satria serta Puri Kesiman yang merupakan komplek istana istana raja dan bangsawan Kerajaan Badung.

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. maiank

    kalau bisa ditambah gambar agar keterangan lebih lengkap……..
    ooooooooooookkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!

    August 19th, 2007 at 8:08 pm

  2. Andika

    Dia bener,,,, Komentarnya kurang, trus penjelasannya dikit kali,,,

    November 4th, 2007 at 1:48 pm

  3. Ari Moravian

    Sebetulnya apa inti dari Bali sebagai Kota dengan identitas budaya, pastinya bukan hanya lokasi museum, taman, dan sejenisnya
    Bagaimana dengan peran warga dalam pembentukan identitas Bali sebagai Kota Budaya? Bagaimana eksistensi kebuudayaan dan kesenian Bali? Regulasi apa yang telah dibuat pemerintah setempat untuk mewujudkan Bali sebagai Kota Budaya?

    December 7th, 2007 at 8:02 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)