Pusat kota di hari minggu masih saja ada macet
Hari minggu kemarin iseng muter muter ke pusat kota sekitar jam 11 - 12 siang. Tidak ada niatan serius, cuma mau sekedar lihat lihat kota sekalian mencarikan anak saya buku.
Dari arah selatan di jalan Diponogoro, suasana lalulintas biasa biasa saja. Tidak terlalu padat merayap seperti hari hari kerja, dimana pada jam jam itu selalu macet. Jalan Diponogoro sejak dulu terkenal dengan jalan yang selalu macet, bahkan dulu orang belum dianggap bisa mengendarai mobil kalau belum bisa melalui macetnya jalan diponogoro dengan mulus, katanya nyetir di Jalan Diponogoro adalah ujian kesigapan koordinasi gas,rem dan kopling.
Belok ketimur lalu keutara dari Suci saya meluncur ke arah Puputan Badung, di persimpangan setelah BII, sebelum Kodam IX Udayana, seperti biasa, persimpangan ini memang selalu menjadi persimpangan yang cukup berbahaya, lalulintas dari arah timur sering tidak mau mengalah, demikian juga lalulintas dari arah selatan, maklum perempatan ini memang tidak ada lampu lalu lintasnya, entah mengapa, dari dulu sudah begitu.
Ketika saya memasuki Jalan Surapati, disinilah saya terjebak macet. Hampir sepertiga median jalan menjadi lahan parkir. Maklumlah, dijalan ini ada Gereja Maranatha, hari minggu rekan rekan umat Kristiani melakukan ibadah, alhasil setiap hari minggu jalan yang tidak begitu panjang ini menjadi macet. Namun sebenarnya, Jalan Surapati seperti halnya Jalan Diponogoro adalah sudah sejak jaman dulu langganan macet. Jalan Surapati hampir setiap hari selalu macet, terutama di jam jam sekolah. Dijalan ini terletak sekolah SMP Negeri 1 Denpasar, pagi , siang dan sore jalan ini selalu diwarnai kemacetan. Akhirnya saya meluncur ke Gramedia untuk mencarikan anak saya buku setelah beberapa menit macet.
Saya sedikit heran, sejak dulu masalah kota Denpasar ini tidak pernah sembuh, macet. Sejak saya SMP dulu , sekitar media 90-an sampai sekarang kemacetan ini tidak pernah bergeser, apalagi menghilang. Semakin tahun semakin banyak saja titik titk yang menjadi rawan kemacetan. Dihari Minggu dimana kemungkinan waktu dimana banyak warga yang menghabiskan waktunya dirumah pun, kota ini masih tetap diwarnai kemacetan. Semoga kota ini tidak menjadi kota budaya macet.

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
rama
Tidak hanya diseputaran jl.diponogoro saja, bahkan sekarang sudah merambah jl.teuku umar hingga jl.kerobokan-tanah lot, hanya sekedar opini saya (entah benar / tidak) hal ini disebabkan karena tidak meratanya pembangunan dibali yang mana hanya menitik pusatkan di denpasar, kuta, nusa dua dan sekitarnya, sehingga saudara2 kita di luar denpasar dan badung berbondong2 mencari penghidupan dikota, hal tersebut diperparah dengan mahalnya biaya menetap dikota besar dan juga masyarakat kita yang memegang teguh budaya (mebanjar), sehingga mereka lebih memilih utk pulang-pergi dari rumah asal mereka ketempat bekerja. Nah, bisa dibayangkan bagaimana kemacetan jam 6,7,8, 9 pagi dan jam 4,5 - 7 sore.
August 22nd, 2007 at 1:41 pm