Penyebaran HIV di Denpasar Seberapa Parah?
Mungkin judul diatas agak membuat sebagian orang mengernyitkan dahi, “wah AIDS di Denpasar?”, kita boleh saja tidak terlalu membesar-besarkan, namun kita tidak bisa menafikkan fakta bahwa penyebaran virus HIV sudah semakin meluas di kota ini. Virus yang menyebabkan hilangnya sistem kekebalan tubuh ini telah menjadi momok dunia, kenapa kita mesti menutup mata?

Saya tertarik untuk memposting masalah HIV/AIDS ini setelah membaca koran pagi ini yang menyatakan bahwa ada 6 “cewek kafe” di Gianyar positif terinfeksi virus HIV. Itu di daerah tetangga, di kabupaten Gianyar, di kota Denpasar sendiri, beberapa bulan lalu tersiar berita yang lumayan membuat kita miris untuk membacanya, menyatakan bahwa dari hasil penelitian Dinas Kesehatan Denpasar tahun 2006, ditemukan sekitar 60 pelajar SMU positif terjangkit HIV/AIDS. Iya, pelajar SMU, dan angkanya cukup mencengangkan, usia-usia muda yang haus akan pencarian jati diri ini adalah usia usia rentan terjangkit HIV/AIDS. Tidak bisa dipungkiri, kehidupan seks pranikah serta penyalahgunaan obat obat terlarang adalah penyebab utama menularnya penyakit mematikan ini, disamping transfusi darah.
Dari 60 pelajar siswa SMU yang positif terjangkit HIV tersebut, bisa terbayangkah seberapa parah penularan HIV yang telah terjadi di Denpasar? Melihat perilaku kaum muda sekarang, bukan tidak mungkin angka orang terjangkit HIV/AIDS di kemudian hari akan sangat mengejutkan. Minuman keras dan narkoba, menjadi sebuah kesempatan awal untuk si virus mematikan ini menyelinap kedalam kehidupan kita.
Janganlah kita berandai-andai lagi berapa besar kisaran penularan HIV di Denpasar kira-kira, dengan membuka mata dan telinga, mari kita berusaha bersama untuk menekan angka itu, rekan rekan para muda Denpasar, mari jauhkan diri kita dari prilaku sosial yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS seperti minuman keras, narkoba dan seks pranikah, para orang tua, mari berikan perhatian yang lebih kepada anak-anak kita, kontrol kitalah yang menjadi nakhoda mereka dalam bersosialisasi di lingkungannya.
Terdengar klise mungkin, namun alangkah sangat klisenya jika kita terus menerus menutup mata akan hal ini, janganlah masalah ekonomi dan permasalahan lainnya menenggelamkan kesadaran kita akan penyakit mematikan yang satu ini.

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
Vania Köberlein
prihatin sekali dg selalu bertambahnya penderita HIV/AIDS di Indonesia, semoga peran serta dan tindakan nyata kita sebagai masyarakat dapat mencegah berkembangnya virus ini. Yg penting adalah kesadaran individu masing2 dalam menjalankan seks yang sehat sesuai norma agama, no drugs and free sex.
August 8th, 2007 at 11:10 pm
rama
sangat memprihatinkan, apakah sudah terjadi pergeseran budaya? semoga tidak
August 22nd, 2007 at 1:48 pm
tomo
Ya. Seperti gunung es. Kenyataannya barangkali lebih dari angka data statistik. Lalu?
November 15th, 2007 at 3:30 am