You're here: My City Blogging » Denpasar » Article: Upacara Ngaben Terbesar di Bali, Berlangsung Hari Ini
Hari ini digelar upacara ngaben terbesar di Ubud yang bakal disaksikan oleh sekitar 350 ribu orang. Seperti diberitakan oleh detik dot com, Jenazah keluarga Puri Agung Ubud yang dikremasi, adalah Tjokorda Gde Agung Suyasa yang meninggal 28 Maret 2008, Tjokorda Gede Raka, dan abu dari mendiang Desak Raka.
Jenazah utama yang dikremasi adalah Tjokorda Suyasa. Ia merupakan kepala keluarga kerajaan Ubud yang juga pemimpin masyarakat di Ubud sejak tahun 1976. Jenazah mereka akan diletakkan di atas menara (bade) 9 atap setinggi 28,5 meter. Bade merupakan simbol tiga tingkatan kehidupan. Bade ini memiliki berat 11 ton. Bade ini akan diusung oleh 8 ribu orang secara estafet. Sebanyak 250 orang akan mengusung secara bergantian setiap 150 meter dari Puri Ubud ke Pura Dalem yang jadi tempat kremasi. Selain bade, juga diusung naga dan lembu ukuran besar. Juru bicara keluarga Puri Agung Ubud Tjokorda Raka Kerthyasa mengatakan Ngaben ini adalah ritual untuk mengembalikan jasad pada elemen asal muasal pencitaan mahluk hidup dan melepaskannya dari ikatan duniawi.
“Ngaben kali ini sangat spesial karena merupakan upacara kremasi raja,” kata Direktur Jenderal Pemasaran, Depbudpar, Sapta Nirwandar, di Jakarta, seperti dikutip dari situs ini.
Menurut dia, ngaben untuk Raja Tjokorda ini akan menjadi ngaben terbesar yang pernah ada. Keistimewaan upacara itu sekaligus dimanfaatkan untuk menarik minat wisman berkunjung ke Bali. “Kami juga mempromosikannya di majalah Garuda, majalah Jepang dan TV7 Australia,” ujar Sapta.
Sapta menjelaskan sebelum upacara puncak Ngaben pada 15 Juli, beberapa ritual budaya akan dilakukan di nya pemandian mayat yang disaksikan oleh seluruh anggota keluarga pada 18 Juni.
Mengingat begitu besar dan spektakulernya acara ini, dapat dipastikan kawasan Ubud dan sekitarnya pada hari ini dipastikan akan penuh sesak.
Catatan : Foto diambil dari sini
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
The Biggest Ngaben, Ever — Bali
[…] Since those people were royal family, that’s no wonder why this ngaben event is becoming the biggest ngaben ever made. the pic was taken from here […]
July 16th, 2008 at 5:04 am
Busby Seo Challenge
Kemarin itu saya salah satu peserta yang ikut mengusung Naga Banda secara estafet, Banjar kami dapat giliran mulai dari depan Pasar Ubud sampai depan Nomad Restaurant, itu dikarenakan saya berasal dari ubud. Sedikit tentang Naga banda, naga banda di acara ngaben kemarin sangatlah penting fungsinya, karena secara “niskala” Naga bandalah yang membantu menarik Bade dimana mendiang berada (tentu saja bantuan ini berlangsung secara “niskala” atau yang tidak berwujud).
Beberapa hari sebelum hari H dilangsungkan upacara menghidupkan Naga banda ini (memasukkan roh naga ke dalam Naga Banda), Pendeta yang sudah berlatih dari awal persiapan ini untuk memanah Naga Banda pada hari H dengan tujuan untuk menjinakkan Naga Banda ini.
Jika pada saat Pendeta ini memanah dengan anak panah yang berisi bunga dan bunganya itu tidak menjadi layu ketika mengenai Naga Banda ini, Pendeta ini akan mengalami musibah yang akan berujung dengan kematian (kata orang tua dulu pernah terjadi seperti itu). Maka dari itu Pendeta diharuskan mempersiapkan diri dan rohani dengan cara berlatih selama beberapa bulan.
Naga banda ini pada saat dihidupkan 2 hari sebelum hari H, di ubud ada angin ribut dan gempa kecil, itu kata teman saya memang pertanda bahwa Pendeta berhasil menghidupkan Naga Banda dan itu artinya Roh Naga sedang menuju jasad Naga banda untuk masuk di dalamnya.
Yang pasti acara kemarin penuh dengan nuansa spiritual dengan dibalut udara yang sangat panas namun kadang-kadang Kata teman baik saya yang berada pada saat itu juga, ketika saya merasakan angin yang panas itu artinya Naga banda itu sendiri sedang mengeluarkan Api dari mulutnya, dan ketika saya merasakan ada angin sepoi2 (karena saya berada tidak jauh dari Naga Banda) itu artinya Sang Naga sedeng melenguh..
Saya tidak tahu lagi kapan lagi ada upacara ngaben seperti ini karena keturunan Raja Ubud yang asli semuanya sudah meninggal.. dan acara kemarin termasuk sangat berkesan bagi saya..
August 7th, 2008 at 3:35 am