You're here: My City Blogging » Gorontalo » Article: Gorontalo dalam Sejarah
Kapal uap di pelabuhan Gorontalo tahun 1925 (sumber blog Gorontalo Maju 2020)
Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.
Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara). Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut “Pohala’a”.Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala’a :
Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Mempelai Golongan Menengah di Gorontalo tahun 1910 (sumber blog Gorontalo Maju 2020)
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata “hulondalo” hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo. Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah ” Rechtatreeks Bestur “. Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
Sebelum kemerdekaan Republik, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.
Hari Kemerdekaan Gorontalo ” yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia
Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan “Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja” sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
Sumber : Website Gorontalo Family
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi Ada 6 komentar untuk artikel ini.
Deddy
Kalau dulu Buol oleh gorontalo adalah Afdeling Buol mengapa sekarang justru setelah gorontalo resmi jadi propinsi dan buol menjadi kabupaten sendiri, waktunya hampir bersamaan, kenapa tidak kalau buol kembali pada posisi awal adalah Afdeling Buol dari gorontalo, buol adalah wilayah dan kebudayaan yang hilang, buol dan gorontalo banyak kesamaannya baik budaya, bahasa dan historis wilayahnya.
April 12th, 2008 at 10:50 pm
yotama
terima kasih telah memuat sejarah gorontalo
May 17th, 2008 at 4:41 pm
yotama
info untuk teman2 dan keluarga untuk melihat foto2 walima pada festival walima 1 didesa wisata religius bubohu bongo batudaa pantaikab gtl bisa diakses di http://www.walimagorontalo.blogspot.com…wassalam
May 17th, 2008 at 4:46 pm
deszy
thanks udah memuat sejarah tentang gorontalo………..
October 20th, 2008 at 8:28 pm
Robby
Tksh atas penjelasan ttg gorontalo, namun mungkin ini baru sebagian dari sejarah gorontalo dan sangat mengharapkan untuk lebih di teliti lagi sehingga kaum muda lebih banyak lg mendapat info ttg gorontalo tercinta….skl lg tksh byk..WWW-Robby
October 25th, 2008 at 11:31 pm
jitro
menarik untuk melirik sejarah…
Apalgi Gorontalo…. ini sekdar sharing saja. saat rencana pembentukan Provinsi Gorontalo, yang waktu itu namanya Provinsi Gorontalo Tomini Raya, daerah Boul, Toli-toli dan Bahkan Bolaang Mongondow itu menyatakan untuk bergabung dengan Gorontalo asal namanya Gorontalo Tomini Raya, tapi setelah hanya dipatenkan Gorontalo, daerah-daerah itu dengan sendirinya tidak jadi bergabung. Mengapa boul pingin, karena mungkin pernah masuk dalam Afdeling Gorontalo, budaya dan keadaan masyarakatnya juga mirip dengan Gorontalo, mungkin demikian juga dengan Toli-toli, lebih banyak ke Gorontalo dari pada ke Palu (Sulteng). Dengan Bolmong pun tak kalah jauh. di Bolmong ada beberapa distrik juga yang akhirnya menyaru jadi Bolaang Mongondow. (Bolaang, Kaidipang, Mongondow dan Bolaang Uki) kecuali Mongondow itu bahasanya agak berbeda dengan Gorontalo, tapi kalau yang lain ada yang menggunakan bahasa Bolango, mirip dengan bahasa Pohalaa Suwawa…
Mungkin kalau nama Provinsi ini tetap Gorontalo Tomini Raya, maka Gorontalo makin kaya dengan adat, tradisi dan daerah. Macam Sulawesi Utara waktu itu (Gorontalo, Mongondow, Minahasa dan Sanger)….
Bolo Maapu… Ka Pulu
November 23rd, 2008 at 5:32 pm