TUMBILOTOHE, Komunitas Blogger Gorontalo
Akhirnya, terbentuk juga Komunitas Blogger Gorontalo yang secara resmi muncul ke “permukaan” blogosfer pada tanggal 30 Desember 2007. Atas usulan saya melalui milis Gorontalo Maju 2020, nama Komunitas ini adalah “Tumbilotohe”. Arti Tumbilotohe sendiri adalah “Pasang Lampu” (Tumbi berarti Pasang dan Tohe berarti Lampu).
Alikusu atau Kerangka Pintu Gerbang khas Gorontalo yang dihiasi janur dan “tumbilotohe” (foto diambil dari sini)
Ini merupakan tradisi unik masyarakat Gorontalo yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Biasanya dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang Bulan Ramadhan berakhir mulai maghrib hingga pagi. Sebagaimana dikutip dari Artikel di Kompas, Farhah Daulima, Budayawan wanita asal Gorontalo, Tumbilotohe biasanya dimulai pada malam tanggal 27 Ramadhan. Pada saat itu warga melakukan ritual, pengajian, tarawih, dan tadarus. Dikatakan awal berakhirnya Ramadhan ditandai dengan langit gelap tanpa cahaya bulan sehingga warga memerlukan penerangan.
Pada masa lampau, penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak tanah.
Menurut Farhah, Tumbilotohe merupakan budaya orang Gorontalo masa lampau sejak abad ke-15. Kebiasaan ini kemudian bertahan sampai sekarang dalam banyak varian berdasarkan kreativitas warga. Ia mengatakan, setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilotohe mengalami pergeseran. Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu. Warga menghiasi kerangka kayu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati menyambut Idul Fitri.
Ditengah kelangkaan minyak tanah sekarang, tradisi Tumbilotohe perlahan kian memudar. Semarak Tumbilotohe mulai jarang terlihat dan kini, Komunitas Blogger Gorontalo memakai nama “Tumbilotohe” ini untuk memelihara spirit yang sudah “dibakar” lebih dulu melalui tradisi unik ala Gorontalo ini.
Sebagai tahap awal Komunitas Blogger Gorontalo “Tumbilotohe” telah membuat sebuah website di www.tumbilotohe.wordpress.com. Salah satu penggagas komunitas ini, Suwito Pomalinggo menyatakan akan terus mendata potensi blogger Gorontalo dan terus mengembangkan komunitas strategis ini.
Selamat datang di Blogosfer Tumbilotohe!



Ikuti diskusi Ada 8 komentar untuk artikel ini.
Sandy Suryadinata
wah beda sehari sama kita di malang :D
January 2nd, 2008 at 5:07 pm
Purnawarman Musa
Thanks,
Sebenarnya foto asli nya saya ambil juga dari pada fotografer gorontalo (lihat link sumber di bawahnya)
January 5th, 2008 at 11:31 am
fritzinfo
Wah.. selamat atas terbentuknya tambilotohe… :)
January 8th, 2008 at 5:06 pm
sachroel
maju terus gorontalo
January 13th, 2008 at 11:20 am
andimiswar
slamat for nou deng uti yg so punya tambilohote. keep blogging. sukses! :)
January 17th, 2008 at 3:24 pm
Ryan Musa
selamat…tapi mana realisasinya. jangan lupa kunjungi situs http://gorontalo.uni.cc
January 24th, 2008 at 8:15 pm
sam
mau tanya ….. apa tradisi tumbilotohe asli gorontalo.. soalnya beberapa daerah ditanah air juga mempunyai tradisi yang sama.
February 26th, 2008 at 11:00 am
imor
Assalamu alaikum Wr. Wbrkth
setahu saya, tradisi tumbilatohe/malam pasang lampu adalah budaya yang dibawa oleh penyiar agama Islam bukan hanya di gorontalo tetapi hampir tersebar di seluruh Indonesia. Tetapi yang uniknya adalah warga gorontalo mampu mempertahankan tradisi/budaya tersebut samapi sekarang.
wasalam
March 27th, 2008 at 11:01 am