You're here: My City Blogging » Gorontalo » Article: Buntut Bentrokan di UNG, PD III FT & FS Di-Non Aktifkan

Buntut Bentrokan di UNG, PD III FT & FS Di-Non Aktifkan

Amril Taufik Gobel — August 27, 2008 / 9:45 am

“Tradisi” bentrokan antar mahasiswa ternyata ikut terjadi di Universitas Negeri Gorontalo. Buntut peristiwa yang terjadi antara mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) yang terjadi Senin (25/8), Berujung pada penonaktifan jabatan Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan di dua fakultas tersebut. Sesuai berita di Gorontalo Post online,  Keputusan  nonaktif terhadap PD III Fakultas Teknik Sardi Salim, dan PD III FIS Djony Apriyanto, ditegaskan Rektor UNG Prof Dr Nelson Pomalingo saat berlangsung  rapat pimpinan di UNG di Kantor Rektorat UNG Selasa (26/8). Alasan Rektor Nelson Pomalingo menonaktifkan kedua PD III ini karena dinilai bertanggungjawab terhadap  insiden memalukan yang melibatkan ke dua fakultasnya. “Dan keputusan yang berikut,  menonaktifkan dua Pembantu Dekan III masing-masing (FT dan FIS),” kata Prof. Nelson saat menyimpulkan hasil rapat kemarin. Kedua PD III ini dianggap gagal membendung masa masing-masing fakultas sehingga bentrok tidak dapat dihindari. Keputusan ini kata Rektor diambil hingga tim pencari fakta yang dibentuk berhasil menemukan fakta-fakta sebenanya dari balik terjadinya insiden itu. “Sampai ada keputusan tim pencari fakta,” katanya. Untuk tugas - tugas pembantu dekan tiga yakni terkait dengan kemahasiswaan kata Rektor semuanya dihandle Dekan masing-masing.

Sementara itu masih dari ruang sidang kemarin, PD III Teknik Sardi Salim terlihat legowo menerima putusan pemimpinya itu. Hanya saja dia mengatakan, kejadian tawuran itu memang diluar dugaan. “Dan sama sekali tidak diinginkan,” kata Sardi. Oleh karena itu lanjutnya, kendati pun tidak lagi sebagai PD III, namun dia berkewajiban untuk mengamankan suasana agar tidak terjadi bentrok susulan lagi. “Biar sudah non aktrif, tetap mengamankan,” kata dia.

Sama halnya dengan PD III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Jhony Aprianto. Kepada koran ini dia mengatakan putusan rektor tersebut merupakan langkah dalam menenangkan suasana.”Saya kira tidak masaalah,” kata dia. Soal tanggunggungjawab terkait dengan insiden ini kata dia, semuanya justru harus bertanggungjawab, karena secara yuridis formal kata Jhoni ditetapkan dari SK Rektor, “Penanggungjawab PMB/PBK ditingkat universitas itu adalah Pembantu Rektor III,” jelasnya, sedangkan kapasitas dia sebagai PD III hanya pada tingkatan fakultas.

Dan menurut Djony selama ini pihaknya sudah maksimal. “Kalau pun ada insiden, itu maka diluar kemampuan kita,”katanya. Dimana tambah Jhony ada faktor-faktor lain yang membuat situasi makin runyam. “Kalau mau bicara tanggungjawab maka sekali lagi adalah tanggungjawab kita bersama,” tandasnya

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. agustawan isa

    tidak sepenuhnya kesalahan atas insiden tawuran antara FT dan FIS adalah kesalahan dari petinggi kampus akan tetapi kesalahan dari mahasiswa itu sendiri yang tidak mau mawas diri terhadap hal yang sepele.
    darmin candela

    September 16th, 2008 at 1:52 pm

  2. agustawan isa

    jika saja ada pengendalian diri atas semua pihak hal hal yang seperti ini tidak akan terjadi,DAMAI ITU INDAH fissssssssssssssssssssssssssss CHOY!!!

    September 16th, 2008 at 1:55 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Citilink Garuda

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT