You're here: My City Blogging » Gorontalo » Article: Upacara Adat Molonthalo

Upacara Adat Molonthalo

Amril Taufik Gobel — August 29, 2008 / 8:00 am

Molontalo atau raba puru bagi sang istri yang hamil 7 bulan anak pertama, merupakan pra acara adat dalam rangka peristiwa adat kelahiran dan keremajaan, yang telah baku pada masyarakat Gorontalo.

Acara Molonthalo ini merupakan pernyataan dari keluarga pihak suami bahwa kehamilan pertama adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan turunan dari perkawinan yang syah. Serta merupakan maklumat kepada pihak keluarga kedua belah pihak, bahwa sang istri benar-benar suci dan merupakan dorongan bagi gadis-gadis lainnya untuk menjaga diri dan kehormatannya. Adapun persiapan dan cara pelaksanaan dari Acara ini adalah    :

A. Pelaksana.

  1.   Kerabat pihak suami.
  2.  HULANGO atau Bidan Kampung, yang telah ditunjuk sebagai pelaksana acara Molonthalo, karena memenuhi persyaratan sebagai berikut :
    • Beragama Islam.
    • Mengetahui seluk beluk umur kandungan.
    • Mengetahui urutan Upacara Adat Molonthalo.
    • Mengetahui lafal-lafal yang telah diturunkan oleh leluhur dalam pelaksanaan acara tersebut.
    • Diakui oleh kelompok masyarakat sebagai Bidan Kampung.
  3. Imam atau Hatibi, atau yang ditokohkan sebagai pelaksana keagamaan yang mampu dan mahir lafal doa salawat ( MO’ODELO).
  4. Dua orang anak perempuan umur 7 s/d 9 tahun keduanya masih lengkap orang tuanya ( Payu lo Hulonthalo).
  5. Dua orang Ibu dari keluarga sakinah.  

B. Persiapan.    

  1.   Atribut Adat/ benda budaya.
    • HULANTE yang berbentuk seperangkat bahan diatas baki, terdiri dari beras  cupak atau 3 liter, diatasnya terletak 7 buah pala, 7 buah cengkih, 7 buah telur, 7 buah limututu (lemon sowanggi), 7 buah mata uang yang bernilai Rp. 100,- Dahulu mata uang terdiri dari Ringgit, Rupiah, Suku, Tali, Ketip dan Kelip.
    • Seperangkat bahan pembakaran dupa diatas baki, yang terdiri dari 1 buah polutube (pedupaan), 1 buah baskom tempat tetabu (dupa) dan segelas air masak yang tertutup.
    • Seperangkat batu gosok (botu pongi’ila) yaitu batu gosok untuk mengikis kunyit sepenggal, dicampur sedikit kapur, dan air dingin yang disebut - “ALAWAHU TILIHI”.
    • Seperangkat POMAMA (tempat sirih, pinang), TAMBALUDA atau HUKEDE.
    • 1 buah Toyopo, atau seperangkat makanan, tempatnya terbuat dari daun kelapa muda (janur) yang berisi nasi kuning, telur rebus, ayam goreng dan kue-kue seperti wapili, kolombengi, apangi dll ditambah pisang masak terdiri dari pisang raja atau pisang gapi (Lutu Tahulumito atau Lutu Lo Hulonti’o).
    • Seperangkat makanan diatas baki terdiri dari sepiring bilinti, atau sejenis nasi goring yang dicampur dengan hati ayam, sepiring ayam goreng yang masih utuh dan diperutnya dimasukkan sebuah telur rebus, dua buah baskom tempat cuci tangan dan dua buah gelas berisi air masak, dan dua buah sendok makan.
    • Sebuah daun silar (tiladu) berkeping tiga (tiladu tula-tula pidu), seukuran perut sang ibu yang hamil.
    • Bulewe atau upik pinang (Malo ngo’alo).
    • Sebuah tempurung tidak bermata (buawu huli).
    • Seperangkat tikar putih (amongo peya-peya atau ti’ohu) yang terbungkus (bolu-bolu). Yang terpancang didepan pintu (pode-podehu). Dimana ada seorang ibu dibalik tirai itu meneruskan pertanyaan dari syara’ (hatibi atau syarada’a atau imam) yang bertugas / diundang membacakan doa, kepada Hulango (bidan). Pertanyaan yang disampaikan adalah “MA NGOLO HULA” artinya sudah berapa bulan dan dijawab oleh anak-anak tersebut atas petunjuk Hulango.
    • PALE YILULO (TILONDAWU) yaitu : beras yang diwarnai dengan warna merah, kuning, hijau, hitam dan putih).
    • Sebilah keris memakai sarung  

C. Busana Adat.

  1. Bagi yang diacarakan (sang ibu hamil) memakai busana walimomo konde pakai sunthi dengan tingkatan, 1 tangkai untuk umum, 3 tangkai untuk golongan istri wuleya lo lipu (Camat), 5 tangkai untuk golongan istri Jogugu/wakil Bupati/Walikota, dan 7 tangkai untuk Mbui istri Raja/Bupati/Walikota.
  2. Suami (calon ayah) memakai Bo’o takowa kiki dan payungo tilabatayila memakai salempang, keris terselip di pinggang.
  3. Dua orang untuk perempuan memakai galenggo wolimomo, kepalanya memakai Baya Lo Bo’ute, atau bahan hiasan kepala.
  4. Dua orang ibu yang sakinah memakai kebaya dan batik, serta batik surang sebagai penutup atau (wulo-wuloto)atau busana lo mango tiilo.  

D. Pelaksanaan.

  1. Hulango menyiapkan benda budaya atau atribut adat, sebagaimana diuraikan pada persiapan.
  2. Hulango memberikan tanda (bontho) dengan alawahu tilihi pada dahi, leher- bahagian bawah tenggorokan, bahu, lekukan tangan dan bahagian atas telapak kaki, bawah lutut, yang bermakna pernyataan sang ibu akan meninggalkan sifat-sifat mazmunah (tercela) dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya nanti.
  3. Sang ibu dibaringkan diatas tikar putih diatas permadani, kepalanya menghadap ketimur dan kakinya ke barat. Seorang ibu memegang bantal dan menjaga dibahagian kepalanya. Pada bahagian kaki seorang ibu menjaga sambil memegang lutut dari sang ibu hamil, posisi lututnya terlipat keatas.
  4. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan) pada payu lo limutu, satu orang anak perempuan (pada payu lo Hulontalo), yang sudah dapat berbicara. Mereka duduk bersebelahan (payu lo limutu), duduk disisi sebelah kanan dari ibu yang di tonthalo. Kedua tangan mereka tersusun diatas perut yang hamil ( ibu yang di tonthalo), tepat diatas ikat pinggang janur berkepala tiga.
  5. Syara’ menanyakan kepada ibu yang dibalik tirai/pemegang lalante bula (tikar terbungkus kain batik), sebagai berikut : “MA MONGOLA HULA?” artinya sudah berapa bulan? Pertanyaan ini diteruskan kepada Hulango lalu dibalas oleh hulango dengan kalimat : “ OYINTA OLUWO dst.” Jawaban itu diteruskan oleh ibu dibalik tirai (podebu lo bula), kepada syara’ dengan suara keras, demikian berlangsung tiga kali.
  6. Sang suami melangkahi perut sang istri 3x, lau menghunus keris, memotong ikatan anyaman silar tersebut.
  7. Setelah anyaman silar itu terputus, maka sang suami mengeluarkan ikatan silar tsb, dan sang istri bangun menuju pintu didepan lalante bula dan sang suami keluar mengelilingi rumah 1x, kemudian membuang silar itu jauh-jauh. Hal ini perlambang, agar bayi itu lahir dengan selamat, dan mencari 3 jalur ikatan adat, syara’dan baala, sebagai pedoman dalam hidupnya bermasyarakat.
  8. Selesai acara tsb, sepasang suami istri kembali kerumah, duduk berhadapan saling suap menyuapi dengan seperangkat makanan yang ada dibaki yaitu nasi bilinthi, dan ayam goreng, didahului dengan sang suami mengeluarkan telur dari perut ayam goreng, sebagai perlambang kemudahan sang istri melahirkan jabang bayi. Suap menyuap adalah perlambang kasih sayang, dan mengingatkan hak serta kewajiban baik istri maupun suami.
  9. Pembacaan doa salawat oleh imam/hatibi atau aparat keagamaan lainya, dihadapan hidangan, yang dihadiri oleh undangan yang terdiri dari kerabat kedua belah pihak.
  10. acara selesai diakhri dengan suguhan kopi atau teh bersama dengan kue tradisional.
  11. sebelum bubar, sang suami memberikan sedekah kepada para pelaksana acara tersebut sesuai keikhlasan.
  12. pala’u dibagi-bagikan kepada yang berhak menerimanya : Hulango, pembaca doa salawat, dua orang anak, dua orang ibu dan seorang ibu dibalik tirai (yang meneruskan pertanyaan dan jawaban antara hulango dan imam).

Catatan : Tulisan ini diambil dari situs Gorontalo Family

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • awis.wisnedi — Salam kenal boss.. Mf terlambat bergabung ama forum ASIABLOGGING kebetulan saya juga warga JABABEKA Cikarang.Menurut saya Prospek usaha disini ...
  • ale-silver — yg saya tahu di rawa bening jatinegara jakarta timur perak murni di jual di kisaran 4400. kalau ada yang mau ...
  • trusti — R "Rencana pengampunan dan penghentian penyidikan atas kasus mantan Presiden Soeharto jelas mencederai rasa keadilan masyarakat dan melanggar prinsip equality in ...
  • eshape — Wah aku gak nonton tuh. Ada penonton lain yang mau ngasih komentar?
  • GODEX — MOKASIH YO......... GETS SPIRIT FOR BENGKO LAND SALAM TOBO KITO
  • trusti — kalau melihat debat di TV One kemaren yang temanya kontroversi iklan PKS, saya justru melihat PKS bukan partai cerdas, dangkal ...
  • eshape — semoga komentar-komentar ini memberikan manfaat bagi kita semua amin
  • Aisyah — Bagi saya PKS adalah Partai Kroninya Soeharto. Suharto dari mulai pengambil alihan kekuasaan sampai akhir ia menjabat tak luput dari kekerasan ...
  • Zihah — semoga Bapak Bupati Sinjai mau melanjutkan pembangunan pelabuhan lare-rea itu hingga benar-benar indah dan bermanfaat bagi warga sinjai maupun para ...
  • m.faisal — waduhh baru gw mau bikin penulisan feature tentang pasar tumpah di bekasi udah ada duluan tapi bener tuh bikin macet kalo ...