You're here: My City Blogging » Gorontalo » Article: Po-Noewa dan Jejak Literasi Gorontalo
Catatan Pengantar
Artikel ini ditulis oleh Bapak Basri Amin, Warga Hepuhulawa, Limboto, Gorontalo, yang dimuat di mailing list Gorontalo Maju 2020. Selamat Membaca
Bermula dari rasa penasaran. Ini terjadi tahun 2004 setelah membaca skripsi SH almarhum Bapak S.R. Nur di Makassar yang ditulisnya 1 Januari 1962 tentang “Perkawinan Gorontalo”. Pada kata pengantar skripsinya itu terselip sebuah kata yang aneh bagi saya: “Po-Nuwa”. Rupanya, kata ini tidak muncul begitu saja. Po-Nuwa adalah nama sebuah majalah yang pernah ada di Gorontalo di awal abad 20.
Seperti apa bentuk dan isi majalah Po-Nuwa ini? Selama tiga tahun tetap menjadi tanda tanya di hati saya. Tak ada jawaban dan bukti. Alhamdulillah, rasa penasaran itu mulai terjawab pada akhir Februari 2007, setelah melihat langsung sosok Po-Noewa dan mulai membaca isinya di perpustakaan KITLV, Leiden. Meski ada rasa syukur, tetap saja ada rasa “kesal” ketika itu: mengapa nanti di negeri orang harta pengetahuan kita begitu terjaga rapi dan dihargai.
Kamis, 13 Mei 2009, saya kembali membaca “jejak Gorontalo” dalam majalah Po-Noewa. Catatan sederhana ini bermaksud memperkenalkan kembali tentang majalah ini kepada publik Gorontalo. Semoga ada manfaatnya.
Majalah Po-Noewa terbit sebanyak delapan (8) edisi, terhitung sejak 30 November 1932 sampai 30 Juni 1933. Warna sampulnya hijau muda. Ukurannya seperti buku. Tebalnya rata-rata 24 halaman per edisi. Terbit setiap bulannya secara rutin. Siapa penerbitnya? Namanya: “Gorontalo Instituut” (GI) dengan sekretariat redaksi dan administrasi: p.a. Reksosoemitro Gorontalo. Majalah ini adalah salah satu kegiatan utama dari GI yang sudah berdiri sejak 14 Agustus 1932 jam 11 pagi di Gedung “Societeit Gorontalo”. Cukup jelas bahwa majalah ini sebagai “organ” dari organisasi GI. Dalam hitungan saya, dari 8 edisi majalah ini, seluruh halamannya berjumlah 189. Hanya edisi perdananya saja yang 21 halaman. Sisanya rata-rata 24 halaman.
Melihat tampilannya serta dengan membaca isinya, majalah Po-Noewa jelas cukup luar biasa, terutama pada zaman itu, di Gorontalo. Sungguh, sebuah penghargaan khusus patut dialamatkan kepada pengurus utama “Gorontalo Instituut” sebagai pendiri majalah ini. Mereka sungguh pantas disebut pioner untuk literasi Gorontalo. Mereka adalah: A. Uno (ketua); J.J. Hatibie (Sekretaris), L. Dunggio (Bendahara), Aboebakar Datau dan K. Doengga (Komisaris).
Majalah ini menjalankan sistem berlangganan. Mereka juga menawarkan ruang untuk iklan. Dan mereka pun menyatakan dengan terang-terangan bahwa untuk berlangganan “harganya boleh berdamai”. Untuk beriklan, standar waktu ditentukan, yakni paling kurang setengah tahun. Harganya pun bervariasi, bisa iklan satu halaman, setengah atau seperempatnya. Sementara untuk berlangganan, periodenya per tiga bulan. Harga majalah ini per edisi: f. 0,20 (mata uang ketika itu). Harga langganan: f.0,50/tiga bulan. Untuk mendapatkan majalah ini ketika itu tempatnya sudah jelas: di toko YOUNANN & CO di Gorontalo.
Edisi perdana Po-Noewa, 30 November 1932 berupa perkenalan tentang “Gorontalo Instituut” (6,5 halaman) yang berisi tentang tujuan, program, susunan pengurus dan cita-cita dasar GI. Mereka mengakui bahwa azas-azas perserikatan mereka memiliki persamaan dengan “Noord-Celebes Instituut” yang didirikan oleh G.S.S.J. Ratulangie 1924 di Manado.
Tampak jelas pada edisi pertama Po-Noewa bagaimana kata-kata GI yang bisa mewakili sikap dasar mereka. Di halaman utama tertulis:”…kaum Gorontalo ada masa ini adalah berdiri dalam urusan perubahan zaman dalam mana adat-istiadat kaum sementara menjelma hendak menurut adat kebiasaan luar…dan dalam penjelmaan itu timbullah urusan dan aliran-aliran pemikiran dan pemahaman yang masing-masing dipertahankan sekuat-kuatnya oleh si pemegangnya selaku yang benar dan sempurna…Kaum Gorontalo belum mengetahui benar seluk-beluknya…Menjembatani perbedaan-perbedaan pandangan tentang keGorontaloan, antara kalangan tua dan muda; membangun pengertian dengan ilmu karena tabiat zaman memang selalu berubah…” (catatan: ejaan penulisan saya rubah ke ejaan sekarang, tanpa mengubah katanya!).
Cukup terang pula dalam edisi ini bahwa tujuan utama mereka adalah menciptakan “persatuan untuk kemajuan melalui saling pengertian antara kaum tua dan muda dengan timbangan-timbangan pemahaman satu sama lain…”. Dalam menjalankan misi ini, GI “memberikan kesempatan pada masing-masing pihak untuk menguraikan pendiriannya untuk tiap-tiap fatsal atau urusan; kemudian GI akan meninjau dan menyelidiki “secara ilmu” segala soal yang penting tentang rupa-rupa fatsal tersebut”. Di sinilah GI menjelaskan bagaimana “secara ilmu” itu bekerja dengan menyebut kata “wetenschap”. Pihak GI menegaskan bahwa “keputusan wetenschap itu netral, diselidiki dengan akal/pikiran, tiada dengan hawa nafsu, lebih tegas, netral alias adil…”.
Rupanya, GI bermaksud memfasilitasi sebuah perbincangan lintas generasi dan kelompok di Gorontalo pada masa itu dengan cara-cara ilmu pengetahuan serta dijalankan dengan prinsip-prinsip netralitas, demi persatuan dan kemajuan Gorontalo. Mereka mencoba menjalankan peran ini dengan sikap independen. Mereka dengan tegas menyatakan tidak menjadi bagian dari kelompok tertentu. Dalam kata-kata GI sendiri, tujuan mereka adalah “mencari kebenaran dan persatuan kefahaman”.
Lalu apa yang GI jalankan?
GI mengundang orang-orang yang mereka pandang “ahli” pada bidangnya untuk menyampaikan pidato tentang satu urusan/topik tertentu dengan batasan standar ilmu, tidak boleh dipengaruhi oleh hawa nafsunya kepada sembarang orang atau kelompok. Selanjutnya, menurut GI, pidato tersebut akan “distrika” oleh Instituut kemudian diumumkan dalam Instituut dan selanjutnya diterbitkan dalam Balai Pustaka. Dan kalau pengarangnya tidak setuju diterbitkan, pidato tersebut hanya akan di arsipkan.
Rupanya, ada etika yang agak “khusus” dari kegiatan GI ini. Karena ternyata dalam proses mendengarkan pidato di forum GI para pendengar yang berlainan pendapat tidak diperbolehkan membantahnya secara langsung, tapi diberikan kesempatan yang luas untuk menulis surat tanggapan kepada Instituut, untuk selanjutnya oleh pihak GI akan memastikan apakah “si pendebat” melalui surat tanggapannya itu akan menambah pengertian yang lebih jelas tentang pidato yang disampaikan. Lebih jauh, kalau pendengar pidato belum mengerti betul, mereka bisa pula meminta keterangan yang lebih jelas dari tukang pidato. (catatan: untuk situasi seperti ini, keterangan yang ada di dalam edisi perdana Po-Noewa tidak begitu jelas prosedurnya. Kesan saya, proses tanggap-menanggapi lebih diharapkan oleh GI berlangsung melalui tulisan, bukan debat langsung).
Sebuah “etika perdebatan” tampaknya mau diwujudkan di Gorontalo pada masa itu oleh Instituut ini. Mereka begitu percaya bahwa dengan cara atau etika seperti itu “…tidak akan menimbulkan pertengkaran…padahal seringkali perdebatan terjadi oleh orang-orang yang hanya mau menunjukkan bahwa ia pandai bicara, sehingga tidak bisa lagi melihat kebenaran dari orang lain dan hilanglah ketertiban…”
Selanjutnya, pihak GI akan “…menyelidiki setiap pidato dan pandangan, memilih dan menapis dengan saksama atas pidato-pidato yang ada dan surat-surat tanggapan dari pendengar dan pembaca kemudian dicetak dalam satu buku yang diketahui umum…” (hal. 6 Po-Noewa edisi pertama). Dengan cara-cara seperti ini, GI yakin bahwa “…perlahan-lahan kita boleh bertindak maju lantaran pengetahuan-pengetahuan…”
Kelima orang pengurus GI menyatakan diri cukup “cakap” dalam menjaga agar setiap pidato dan segala perdebatan yang muncul tentangnya senantiasa bergerak dalam golongan “wetenschap” (baca: ilmu pengetahuan). Mereka berharap dengan cara seperti ini akan lebih damai karena ditapis dengan semangat ilmu. GI juga memiliki “anggota pekerja” tidak lebih dari 21 orang untuk menunjang kegiatan GI. Untuk urusan ini, GI memegang prinsip: “…bukan tiap-tiap yang banyak yang berharga baik, melainkan tiap-tiap yang baiklah yang berharga banyak….” Dalam faktanya, sampai akhir November 1932, anggota pekerja GI barulah 10 orang.
Ringkasan ISI Po-Noewa (1932-1933)
Selain memperkenalkan panjang lebar tentang “Gorontalo Instituut”, edisi perdana Po-Noewa 30 November 1932 sudah memulai membahas tentang tantangan-tantangan budaya Gorontalo. Mereka membicarakan budaya-budaya besar dari bangsa-bangsa lain di dunia yang melahirkan orang-orang seperti Victor Hugo, Carlyle, Shakespeare, Rembrandt, Raden Saleh, Bethoven, Mozart, dst. Terdiri dari 21 halaman, pada edisi perdana ini mereka menyatakan pandangan mereka tentang kebudayaan: “…budaya lahir dengan pengalaman dan daya cipta pada setiap zaman…”
Edisi kedua (31 Desember 1932), Po-Noewa membahas tentang kondisi alam Gorontalo, bagaimana perhatian terhadap kondisi kali dan tanah-tanah Gorontalo dan sistem irigasi di Tanggidaa. Mereka juga merujuk kontribusi Raja Botutihe yang memulai penyelidikan tanah-tanah di gunung Hoelapadaa (Patoobandela). Selanjutnya, edisi ketiga (31 Januari 1933) membahas soal “budaya pesta” di Gorontalo, isu kesehatan, termasuk bagaimana perawatan daging untuk kesehatan.
Pada terbitan keempat, 28 Februari 1933, isu ekonomi dibahas panjang lebar oleh Reksosoemitro, hasil dari pidatonya pada Ahad 25 Desember 1932. Tentang kemiskinan, ekonomi sehari-hari, pendidikan rakyat, kesehatan dan perilaku orang-orang tentang peraturan dan manajemen rumah tangga dibahas dalam edisi ini. Selanjutnya, pada edisi kelima (31 Maret 1933), oleh Max Uno dari Kwandang dibahas soal-soal agama, bahkan tentang tarikat-tarikat dan para auliya yang ada di bumi Gorontalo. Pada edisi kelima dan keenam pendidikan dilanjutkan pembahasannya (8 halaman). Juga di edisi yang sama, tentang agama di Gorontalo kembali dibahas (totalnya sekitar 42 halaman) karena topik yang sama dibahas pada edisi-edisi yang lain.
Dua edisi terakhir, edisi 7-8, sejarah menjadi topik pembahasan, khususnya tentang Limboto dan Boalemo (13 halaman). Tentang alam, manusia dan lingkungan (14 halaman) turut pula dibahas pada edisi terakhir Po-Noewa.
Keterangan Lain
Sampai pada terbitan ke-8, pelanggan tetap Po-Noewa berjumlah 53 orang dengan anggota tetap “Gorontalo Instituut” hanya 8-9 orang. Tapi, mereka sangat terbuka dengan laporan keuangan mereka, termasuk jumlah pemasukan, pengeluaran dan saldo-nya. Terakhir, saldo mereka f.27,50.
Pada edisi kedelapan majalah Po-Noewa (30 Juni 1932) memuat sebuah pengumuman panjang dan penting dari “Gorontalo Instituut” di Kwandang. Mereka kembali menyampaikan harapan luhur mereka di sana bahwa: “…selidikilah dengan pasti segala sebab yang cenderung menjadi pokok segala pencederaan kefahaman, supaya akan sadar kita pada jalan-jalan kebenaran, peredaran alam dengan zamannya…” Kalimat ini adalah motto utama Po-Noewa sejak edisi pertamanya, 30 November 1932.
Tapi, dengan kalimat luhur dan indah itu pula, yang GI tegaskan di Kwandang, di ujung utara Gorontalo, rupanya sekaligus menjadi kalimat perpisahan. Setelah itu, Po-Noewa tidak lagi terbit. Dan entah bagaimana dengan nasib “Gorontalo Instituut” sendiri. Sebuah riwayat sudah tamat. Kita pantas bertanya: mengapa GI dan Po-Noewa yang begitu bersemangat luhur itu bisa “mati” sebelum wajah zaman di Gorontalo yang mereka impikan belum berubah? Jejaknya terasa hilang begitu saja…
Saya tetap penasaran. Mungkin juga pembaca. Halaman Pengantar S.R. Nur dalam skripsi SH-nya tahun 1962 di UNHAS itu sedikit memberi catatan tambahan tentang kematian Po-Noewa. Rupanya dia mati karena:”…banyak memperoleh ejek-ejekan, tuduhan-tuduhan dan perlakuan tidak enak…”. Beliau tak memberi uraian lebih lanjut tentang hal ini. Hanya itu kalimat yang ada. Jadi, biarlah saya, atau kita, tetap penasaran tentang riwayat Po-Noewa. Tapi, dari sini kita (mungkin) bisa belajar tentang “riwayat” matinya sebuah cita-cita. Tentang hilangnya sebuah ikhtiar peradaban. Tentang sebuah jembatan lintas generasi di Gorontalo yang pernah ada. Kini, yang jauh lebih penting adalah mengambil pelajaran darinya dan menjadi “cermin” bagi generasi baru dan perjalanan peradaban Gorontalo selanjutnya.
Semoga!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.