KRL Jabodetabek Layak Dipuji

Ada janji dengan Ade Armando – Bang Ade, saya menyebutnya – di kampus Universitas Indonesia Depok.

Kali ini saya ingin mencoba jasa angkutan kereta listrik. Saya dengar, kini ada rangkaian gerbong berpendingin udara nyaman yang diberangkatkan pergi-pulang secara teratur antara Jakarta-Bogor.

Maka saya pergi ke Stasiun Kalibata dengan bus sedang.

Sesampai di sana saya melihat garis antrian dibedakan antara calon penumpang kereta ekonomi biasa dengan yang bererpendingin udara.

Saya mendekati jendela loket di antrian penjualan karcis kereta listrik berpendingin udara.

“Saya mau ke Depok,” kata saya kepada petugas loket. “Apa ada yang berhenti di Stasiun UI?”

Sang petugas sedang mengunyah makanan. Jadi, ia hanya bisa “berbicara” dengan kepala dan tangannya. Dia mengangguk, sedangkan telunjuknya mengarah ke lembar pengumuman keberangkatan yang tertempel di kaca. Pada lembar itu tertulis “Tujuan Bogor, pukul 11.38.” Saya menengok jam tangan digital saya. Sekarang pukul 11.15. Baiklah, masih ada waktu 23 menit.

“Ciri-ciri keretanya apa?” tanya saya, karena khawatir salah naik gerbong. Sebab ada rangkaian kereta cepat yang tidak berhenti di Stasiun UI.

“Nanti diberitahu lewat pengeras suara,” katanya. Kelihatannya ia sudah menelan seluruh makanannya.

Saya naik ke pelataran stasiun. Ada dua petugas berjaga-jaga di pintu masuk. Salah seorang meminta saya memperlihatkan karcis. Saya menunjukkannya. Dia mempersilakan saya lewat.

Sepertinya ada perubahan suasana di stasiun Kalibata. Biasanya – mungkin sampai dua-tiga pekan lalu — penjagaan pintu pelataran begitu longgar, sehinggga banyak orang yang mendapat tumpangan gratis.

Saya duduk di bangku besi panjang di pelataran. Sekitar sepuluh menit kemudian, kereta ekonomi non-AC masuk.

Penumpang berdesak-desakan. Tapi tidak ada yang naik ke atap. Situasinya amat berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya ketika banyak orang yang nekat duduk di atap gerbong. Akibatnya, banyak yang mati gosong lantaran terpanggang arus listrik tegangan tinggi. Atau terjatuh dengan darah yang berbekas pada anggota badan yang telah tercincang.

Pukul 11.37, petugas berseru dengan pengeras suara. “Perhatikan di jalur dua. Kereta ekonomi berpendingin udara tujuan Bogor akan masuk. Kereta akan berhenti di setiap stasiun.”

Saya takjub. Tepat pukul 11.38 Kereta saya benar-benar berhenti di hadapan saya. Luar biasa. Biasanya mereka tidak pernah menaati jadual. Ini kemajuan penting!

Pintu terbuka. Begitu saya masuk, pintu kembali tertutup. Badan yang sedari tadi gerah, menjadi nyaman dengan hawa sejuk di dalam. Berbeda dengan kereta nirpendingin udara, gerbongnya leluasa. Tapi karena tempat duduk di gerbong tempat saya masuk terisi semua, saya menyusuri gerbong lainnya, mencari tempat duduk kosong. Saya lihat ada seorang petugas berjaga-jaga di setiap pintu penghubung antargerbong.

Ketika saya hendak masuk ke gerbong berikut, seorang petugas meminta saya memperlihatkan karcis. Begitu juga ketika saya masuk ke gerbong berikutnya lagi, petugas yang lain menyakannya juga. Pengawasan ketat.

Akhirnya saya menemukannya juga di gerbong ketiga dari rangkaian terbelakang. Pada saat saya duduk, saya melihat di dinding seberang ada tulisan kanji terpampang. Oh, ini kereta bekas buatan Jepang. Kalau dilihat dari modelnya, sepertinya keluaran tahun 1960-an. Mengapa tidak membeli produksi dalam negeri sendiri, ya? ‘Kan ada PT INKA?

Kereta yang saya tumpangi berhenti di setiap stasiun. Dan setiap ada sekelompok penumpang yang masuk, para kondektur di gerbong masing-masing memeriksa mereka dengan ketat, memastikan bahwa mereka membeli karcis yang sesuai.

Akhirnya kereta berhenti di Stasiun UI. Saya melihat jam tangan. Pukul 11.53! Perjalanan hanya butuh 15 menit. Jika dengan bus, mungkin 40 menit sampai 1 jam karena banyak hambatan di jalan.

Saya turun dengan perasaan sesegar ketika saya naik tadi. Jadi terkenang betapa tersiksanya ketika menggunakan trayek yang sama sepuluh tahun silam. Sesak, pengap, bau, kotor, ngaret, copet….

Tapi itu dulu, karena Rupanya Divisi Perusahaan Umum Kereta Api yang mengelola rute Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi bersunguh-sungguh ingin mengubah wajah mereka. Tahniah!

Pantas Saja Mereka Kecewa

Detik.com sore ini memberitakan bahwa jumlah penumpang Trans Jakarta turun dari 210.000 menjadi 180.000 orang.

Kabar itu tidak mengherankan. Sebagai pelanggan setia Trans Jakarta saya frustasi berat. Bepergian di dalam kota dengan Trans Jakarta justru memperlambat perjalanan kita, jauh lebih lama daripada mobil pribadi, bahkan mungkin bus sedang semacam Metro Mini atau Kopaja.

Dulu Trans Jakarta mungkin unggul, karena moda ini membuat kita bisa pergi lebih cepat. Jalur khusus sempat (atau pernah untuk beberapa waktu) dijaga dengan disiplin oleh petugas.

Tapi semenjak kendaraan pribadi dan umum diperbolehkan — bahkan disokong oleh Presiden SBY — untuk masuk jalur khusus, naik Trans Jakarta sama saja dengan menyiksa diri. Sebab, arus armada bergerak lebih lamban, penumpang menunggu lebih lama, berdiri berdesak-desakan pun menjadi lebih melelahkan.

Pada jam-jam sibuk pulang kantor, umpamanya, arus kendaraan pribadi di jalur biasa malah mengalir lebih cepat ketimbang jalur khusus, sedangkan bus tertahan di tempat. Menyedihkan, bukan?

Tidak heran, pernumpang Trans Jakarta yang dulu beralih dari kendaraan pribadi menjadi marah dan kesal, dan akhirnya kembali mengendarai mobil mereka. Lebih baik macet, tapi duduk di dalam mobil dan berkuasa penuh terhadap kendaraan sendiri, daripada berebutan masuk atau berdiri berdesak-desakan dan saling dorong di dalam bus yang lama perjalanannya tidak dapat dipastikan lagi. Ya, tentu saja.

Meskipun begitu, Trans Jakarta masih unggul dalam tarif yang murah (untuk jarak jauh), bebas pedagang asongan, pegamen, asap rokok, serta aman (dari pencopet, preman, dan pendong). Tapi rupanya alasan-alasan itu belum cukup unggul untuk membuat pengendara mobil pribadi beralih kepadanya.

Monumen Nasional

”Tidak, saudara-saudaraku. Kita tidak membangun sebuah Monumen Nasional yang berharga setengah juta dolar hanya untuk membuang uang. Tidak! Kita sedang membuat ini, karena kita menyadari bahwa sebuah bangsa yang hebat, jiwanya dan hasratnya adalah kebutuhan yang absolut untuk kehebatannya, harus disimbolkan dengan sebuah benda materiil, sebuah benda yang hebat, yang kadang akan membuka mata dari bangsa-bangsa lain dengan penuh kekaguman.” (Pidato Bung Karno saat pemancangan pondasi Masjid Istiqlal, 24 Agustus 1961).

monas Ini sebenarnya tulisan lama tentang monas, aku tulis lagi di blog ini setelah baru baca “Rahasia Meede”, novel E.S. Ito yang aku rekomendasikan untuk pembaca sekalian terutama pencinta novel konspirasi. Aku menyempatkan diri mengunjungi Monas, bukan cuma ingin menikmati kota metropolitan Jakarta dari puncak monas, bukan pula hanya sekedar melewatkan waktu mengagumi kebesaran suatu monumen nasional, tetapi belajar dari masa lampau. Banyak yang bisa dipelajari dari sejarah. Baik awal pembangunan maupun makna di balik sekedar bentuk fisik. Monumen ini dibangun sejak tahun 1961 pada masa Presiden Sukarno hingga selesai tahun 1975 masa Presiden Suharto. Pada saat awal pembangunan banyak dikecam karena dianggap proyek mercusuar padahal saat itu kondisi ekonomi bangsa terpuruk. Tetapi pembangunan terus berjalan hingga Presiden Soeharto.

Baca selengkapnya »

Jakarta Bebas Unggas 2010

Guna mencegah flu burung, Pemerintah menargetkan pada tahun 2010 nanti, tiga Propinsi yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat bebas dari unggas yang ada di pemukiman. Data Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Departemen Kesehatan menyebutkan, dari 101 kasus kematian flu burung yang terjadi sejak 2005, 70% terjadi di ketiga propinsi itu.

Bagi warga Jakarta pembebasan area pemukiman dari unggas, sesungguhnya bukan hal baru. Awal tahun lalu Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Daerah Nomer 4 Tahun 2007, tentang pengendalian unggas. Salah satu ayatnya menyebut larangan memelihara unggas di pemukiman. Hanya unggas kategori hobi saja yang boleh dipelihara, dengan syarat memiliki sertifikat sehat dari petugas.

Awal Perda itu diluncurkan, Pemerintah Kota Jakarta Timur, Selatan, Utara, Barat dan Pusat, ramai-ramai memusnahkan unggas <em>non</em> hobi di lingkungan mereka. Menjadikan acara pemusnahan unggas sebagai media publikasi mereka. Karena setiap ada pemusnahan unggas, media massa pasti akan meliputnya. Maklum, isu flu burung masih menjadi komoditi utama media massa nasional waktu itu. Satu bulan dua bulan berikutnya, <em>sweeping </em>unggas di masyarakat masih berjalan. Memasuki bulan keempat, kelima dan seterusnya, mulai <em>mlempem </em>dan malah berhenti.

Hingga akhirnya di awal 2008, flu burung kembali memakan korban. Tidak tanggung-tanggung, bulan Januari saja sudah 4 korban tewas karena flu burung, 2 diantaranya di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengakui adanya kelemahan sistem pengawasan Perda Nomer 4 Tahun 2007, dan berjanji akan memperbaikinya. Secara teknis, Kepala Dinas Peternakan DKI Jakarta, Edy Setiarto mengatakan, pihaknya akan kembali menggiatkan <em>sweeping</em> unggas. Unggas dengan kategori bukan hobi, seperti ayam, itik, angsa, dan burung dara, akan langsung disita dan dimusnahkan. Sementara unggas kategori hobi, seperti burung kicauan, ayam bekisar, dan unggas dilindungi, harus memiliki sertifikat sehat. Jika tidak sehat, akan dimusnahkan. Edi menegaskan, sertifikasi unggas bukanlah hal sulit. Pemilik unggas cukup membawa unggas peliharaannya ke kantor kelurahan, untuk diperiksa petugas,tanpa dipungut biaya.

Penyitaan dan pemusnahan unggas ini, adalah peringatan kepada pemilik unggas. Jika peringatan itu tidak diindahkan, pemilik unggas akan terancam sangsi kurungan 3 bulan, atau denda hingga 50 juta rupiah.

Sebagai langkah lanjutan, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan relokasi penampungan unggas di tempat terpusat, yang rencananya akan dibangun di Rawa Kepiting, Pulogadung Jakarta Timur, dengan dana tidak kurang dari 9 milyar rupiah.

Langkah-langkah pencegahan flu burung ini mestinya perlu dipahami segenap lapisan masyarakat, jika ingin terbebas dari ancaman flu burung. Karena penelitian oleh Departemen Kesehatan sejauh ini, flu burung menular dari unggas ke manusia. Jadi satu-satunya langkah pencegahannya, adalah memisahkan unggas dari pemukiman kita. Partisipasi masyarakat, tentunya sangat diharapkan, agar flu burung tidak lagi memakan korban jiwa.

Resto : Situ Gintung


Resto : Situ Gintung
Originally uploaded by mycity.jakarta

Kemarin Puteri, istri Dani, adik saya, mengadakan syukuran wisudanya di restoran Situ Gintung. Kami turut diundang ke acara tersebut.

Resto ini berada di sekitar seberang Makro Ciputat. Hanya sekitar 10 menit dari Pondok Indah. Namun suasananya sudah serasa di luar kota.
Tamannya sangat luas. Anak-anak benar-benar puas berlarian & bermain disitu, sementara para orang tuanya bercengkrama & mengobrol.

Jika anak-anak sudah puas bermain, kemudian mereka bisa mendinginkan badan di kolam renang. Wow.

Makanannya pun enak-enak. Teristimewa adalah es kelapanya, dagingnya tebal & halus. Sangat menyegarkan juga.

Resto ini juga sering digunakan untuk acara pernikahan, seperti yng terjadi juga kemarin. Namun saking besarnya lokasi, acara tersebut tidak mengganggu acara kami.

Sangat direkomendasikan.

Mushalla : Senayan City


Mushalla : Senayan City
Originally uploaded by hsufehmi

Foto-foto disini adalah dari mushalla di senayan city. Ini adalah mushalla gedung/mall yang paling nyaman, karena :

1. Lokasinya di dalam gedung. Anda tidak perlu pergi ke basement parkir untuk sholat dan kemudian kembali lagi ke gedung tersebut.

2. Full AC - tidak membuat panas. Sebetulnya ACnya agak terlalu dingin, tapi saya yakin dengan demikian maka mushallanya akan tetap sejuk walaupun ketika sedang penuh sesak.

3. Luas : walaupun ada banyak yang sholat, saya belum pernah kehabisan tempat disini

4. Bersih : selalu ada petugas cleaning service yang bekerja dengan sangat rapi

5. Tenang : tidak seperti ketika sholat di basement parkir yang kadang berisik, sholat disini lebih nyaman

Salut untuk pengelola senayan city. Semoga bisa menjadi teladan bagi gedung-gedung lainnya.

Jakarta lautan, um, air


Jakarta lautan, um, air
Originally uploaded by hsufehmi

Foto ini diambil sekitar pukul 03:30 pagi, di underpass Senen.

Selepas bekerja di lokasi client, dan badai juga sudah reda, saya kemudian pulang ke rumah.
Di luar dugaan, saya menemukan banyak jalanan sudah berubah menjadi kolam renang :)

Sepertinya dari tahun ke tahun, banjir di Jakarta menjadi semakin parah saja.

Banyak mobil sedan yang berputar-putar, mencari jalanan yang tidak banjir. Moral of the story? Kalau tinggal di Jakarta, jangan beli mobil sedan.
Ini Jakarta bung ! :) daripada beli sedan, mending sekalian beli Hovercraft. He he.

Layanan SIM & STNK Keliling

Lokasi kantor polisi terlalu jauh ? Dan/atau Anda ingin terhindar dari menyuap / calo ketika memperpanjang SIM / STNK Anda ?

Kini sudah ada caranya, yaitu dengan mengurusnya di Bis Pelayanan SIM & STNK yang tersebar di penjuru Jakarta.

Daftar selengkapnya pada saat ini adalah sebagai berikut :

  1. Jakarta Utara : Mal Artha Gading.
  2. Jakarta Timur : Masjid At-Tien, TMII
  3. Jakarta Selatan : Pos Polisi Taman Makam Pahlawan Kalibata.
  4. Jakarta Barat : Carrefour Puri Kembangan.
  5. Jakarta Pusat : Masjid Akbar, PRJ Kemayoran.
  6. Tangerang : Perumahan Shangyang Regency, Jati Uwung
  7. Depok : Perumahan Mutiara, Sukmajaya.

Selain itu, kadang saya juga suka melihat ada satu bis tersebut yang mangkal di Mesjid Raya Pondok Indah.

Semoga bermanfaat !

Sumber / informasi selengkapnya : detikcom

Kemacetan di Ciputat

Kemacetan di Ciputar

Originally uploaded by hsufehmi

Pasar Ciputat sudah terkenal dengan kemacetannya. Namun kini situasi tersebut diperparah dengan :

  1. Pekerjaan pembangunan fly-over
  2. Angkutan umum yg justru ngetem di jalur paling sempit, seperti yang terlihat di foto.

Lokasi yang di foto tersebut adalah pertemuan dari 4 jalur jalan (2 jalu dari depan pasar, 2 jalur dari belakang pasar) — semuanya melewati 2 jalur di bawah fly-over; yang sebenarnya hanya efektif 1 jalur, karena 1 jalurnya selalu ada angkutan umum yang ngetem dengan santainya.

Jika Anda dari arah Lebak Bulus ke Pasar Ciputat, kemacetannya masih lumayan tidak terlalu parah. Tapi jangan sekali-kali mengambil jalur sebaliknya (pamulang — psr. Ciputat), karena anda akan mengalami yang ditampilkan di foto tersebut.

Yang menyedihkan; para supir angkutan umum ini marah-marah & berisik mengklakson karena kemacetan tersebut. Namun begitu tiba di lokasi tersebut, maka mereka justru ngetem selama-lamanya, serta cuek / marah ketika diklakson orang lain. Wow…. nyadar mas :)

Booz burger

Booz burger

Originally uploaded by hsufehmi

This one beats McDonald’s - every single time.

Bahkan istri saya, yang tidak terlalu suka burger, tidak bisa berhenti memakannya.

Booz burger mungkin ada di beberapa tempat, tapi yang saya ketahui adalah di Bintaro, di lapangan jajanan, di belakang McDonalds sektor 9.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)