Bus Sedang Sebaiknya Dikandangkan
“Maaf Pak, Bu. Pindah ke bus depan!” seru kondektur itu kepada para penumpang. Maka sambil menggerutu dan memaki kami pun bergegas turun dari bus merah itu menuju bus yang ada di depannya. Yang membuat saya tak tega adalah seorang ibu yang terlihat kepayahan menggendong bayinya menuju bus di depan yang justru penuh-sesak itu.
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
“Cepat, cepat, cepat!”seru kondektur bus lain yang berada di depan dengan nada tidak sabar. Sopir bus di depan bahkan sudah menginjak pedal gas pelan-pelan sehingga bus itu bergerak.
“Tunggu, Bang!” jerit ibu itu tergopoh-gopoh mecoba menaiki tangga di pintu belakang bus itu. Sementara itu, sebuah sedan di belakangnya sudah membunyikan klakson berkali-kali sehingga ibu itu menjadi gugup.
Saya sering bepergian di dalam kota dengan menumpang bus sedang seperti Metro Mini atau Kopaja. Hampir setiap kali saya menyaksikan, bahkan mengalami sendiri perlakuan takmanusiawi para awak bus sedang. Cerita di atas potongan kecil saja.
Para penumpang diperlakukan bukan sebagai manusia, tapi barang dagangan. Dengan memindahkan penumpang ke bus lain, para awak bus mendapatkan keuntungan. Bus pertama yang memindahkan penumpang bisa berputar ke arah berlawanan dan mendapatkan jalur yang lebih ramai penumpang. Bus kedua yang sudah penuh penumpang mendapatkan tambahan uang dari tawar-menawar sebagai imbalan atas pemindahan penumpang itu, tanpa harus bersusah payah mencari sendiri.
“Jika suami Ibu bekerja seperti kami, PASTI DIA AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA!” teriak kondektur Metro Mini dengan gusar kepada seorang ibu yang memprotes perlakuan takpantas itu. Kondektur itu, dengan muka merah padam bilang, mereka terpaksa melakukan itu demi megejar setoran.
Selain perilaku seenaknya itu, para awak bus sedang sering mengemudikan bus dengan ugal-ugalan: tidak saja kebut, tapi juga dengan sengaja melanggar rambu-rambu lalu lintas. Mereka menurunkan Anda di tengah-tengah jalan, sedangkan kendaraan-kendaraan di belakang Anda melaju cepat menuju Anda! Seruduk sana, seruduk sini. Serempet sana, serempet sini. Pokoknya semua diterjang. Dengan gaya seperti itu, nyawa penumpang bisa menjadi taruhan. Bahkan, pengendara lain bisa menjadi korban. (Kok bisa-bisanya ya mereka mendapat SIM – Surat Izin Mengemudi?)
Kebanyakan kendaraan sudah berusia dua puluh tahun lebih. Kelihatan usang, kusam, kotor, dan rongsok. Ketika berlari, bus-bus ini meninggalkan gas buang hitam pekat yang menyesakkan nafas. Tidak baik buat kesehatan.
Tidak jarang, kaki harus kita tekuk rapat-rapat sedangkan punggung harus menekan sandaran kursi lantaran begitu sempitnya jarak antarkursi di dalam bus. Mungkin bagi pemilik dan awak bus, itu adalah efesiensi. Akan tetapi, bagi penumpang, itu penyiksaan yang panjang karena kita harus bertahan duduk menahan pegal-pegal dan nyeri di tengah kemacetan ibukota yang biasanya berlangsung selama berjam-jam.
Sudah seharusnya bus-bus sedang semacam ini dikandangkan saja. Pemerintah daerah harus mewajibkan pemilik kendaraan mengganti bus-bus tua mereka dengan bus yang modern, dan manusiawi.
Pemerintah kota bisa mengadopsi sistem yang diterapkan pada Trans-Jakarta Busway. Bus-bus sedang dikelola bersama oleh sebuah konsorsium yang mewakili seluruh perusahaan bus di Jakarta. Para awak bus dibayar dengan gaji bulanan agar mereka tidak gelisah dikejar-kejar oleh target setoran. Kondektur cukup menagih karcis dari para penumpang yang membeli karcis dari loket-loket yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.
Konsorsium hendaknya juga menjaga mutu kendaraan dan melakukan peremajaan secara teratur. Tidak saja standar kenyamanan penumpang di dalam bus, tapi juga uji gas buang. Selama ini bus-bus di ibukota menyumbangkan polusi udara dari pipa buangan secara signifikan tanpa terkena sanksi meskipun aturan daerah sudah mengelolanya dengan tegas.
Para awak bus, baik sopir maupun kondektur, harus diseleksi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan profesional dan mental. Mereka yang lolos saringan diberikan pelajaran tentang etiket maupun gagasan tentang pelayanan umum, sehingga mereka benar-benar berorientasi pada kepuasan publik.
Adalah kewajiban pemerintah kota untuk membuat warga betah tinggal di ibukota. Jakarta, gerbang Indonesia, menggambarkan karakter dan bagaimana orang Indonesia mengelola negara. Fasilitas umum yang buruk, menghancurkan citra negara kita secara keseluruhan.

Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
Thomas Arie
Wah, beberapa cerita kok mirip dengan yang terjadi di Jogjakarta. Disini juga juga banyak armada bus yang mungkin saatnya “dikandangkan”.
Katanya, bulan ini (atau bulan depan) mau dibuat semacam busway gitu di Jogja. Tapi belum banyak tau sosialisasinya disini… Kita liat saja nanti…
December 10th, 2007 at 6:18 pm
M Fahmi Aulia
saya pernah tulis artikel yg nyaris serupa.
permasalahannya hanya 1, apakah para juragan bus2 itu mau? karena cicilan yg ditawarkan kadang terlalu tinggi…akibatnya jadi seperti lingkaran setan
December 13th, 2007 at 1:59 pm
Junarto
Entah bagaimana caranya, tapi harusnya angkutan umum prioritas pemerintah daerah. Subsidi lebih baik daripada pemborosan uang negara akibat kemacetan setiap hari.
December 14th, 2007 at 2:31 pm
Junarto
Kalau Jogja ada busway, semakin enak dikunjungi kali ya… :D
December 18th, 2007 at 8:50 pm
Herman
Walah… kapan sih naik bis di Jakarta bisa nyaman? Kalo tentang ugal-ugalannya, saya pernah meneriaki bis PPB Tanah Abang - Kp. Rambutan saat terus menerus nyaris menabrak mobil dan sepeda motor sepanjang jalan dari arah Senen - Jatinegara. Saya tahu semua penumpang tidak suka dengan kelakuan si sopir. Tapi semua diam dan ternganga ketika tahu ada pengendara sepeda motor yang nyaris nyungsep. Saya teriaki si sopir supaya nyetir yang bener, tapi malah sopirnya ganti meneriaki, “siapa tadi itu, silahkan turun, hayo turunnnnn”.
Mimpi kali ye, berharap bis-bis di Jakarta pada tertib. Semua persoalan di kota ini saling mempengaruhi, tetapi tidak ada keberanian siapapun untuk memperbaiki. Istilah kate “asal jangan gue aje yang jadi korban…” Sedih kan.
January 8th, 2008 at 3:18 pm