Halte Dukuh Atas Lambat, Halte Senen Kacau
Karena ada janji berkaitan dengan pekerjaan, hari ini saya pergi dengan Trans Jakarta — Busway.
Saya berangkat dari Warung Jati pukul 10.40 dengan Trans Jakarta. Angin dari pendingin udara menyejukkan badan yang gerah karena tadi menunggu di kotak alumunium yang berhawa panas. Penumpang masih penuh. Tapi tidak sesesak satu jam yang lalu. Saya lihat ada bus yang lebih leluasa di menyusul belakang. Saya turun di Halte Duren Tiga dan naik bus di belakangnya. Perasaan sumpek berkurang. Tapi, kok saya tidak menemukan tempat sampah di bus ini, hanya kerangka besinya saja? Mudah-mudahan tidak ada fasilitas bus yang hilang :).
Mobil-mobil pribadi, sepeda-sepeda motor, dan bus-bus sedang sepertinya leluasa masuk jalur Trans-Jakarta. Polisi membiarkannya. Mungkin karena tekanan Susilo Bambang Yudhoyono kepada Gubernur Fauzi Bowo agar membuka jalur khusus bus ini untuk kendaraan lain. (Padahal sebelumnya kendaraan lain sudah biasa menyorobot jalur busway ini :) ).
Tentu saja itu tidak adil. Satu bus Trans-Jakarta paling tidak mampu memuat 85 orang duduk dan berdiri. Ini sebanding dengan 42 mobil pribadi yang penumpangnya duduk dengan nyaman. Kendaraan lain yang “numpang” melintas di jalur khusus ini menyebabkan laju bus terhambat.
Memasuki Jalan H.R. Rasuna Said, perjalanan lancar. Sebagian penumpang turun di kawasan niaga ini dan meninggalkan tempat duduk kosong. Asyik. Saya bisa tidur sambil setengah terjaga.
Ada tujuh bus bertumpuk di Halte Dukuh Atas karena bergilir menurunkan penumpang. Saya berada di dalam salah satunya. Entah mengapa lambat sekali. Padahal sudah 35 menit waktu yang dihabiskan sepanjang perjalanan sampai tertahan di belokan Halte Dukuh Atas ini. Butuh 15 menit lagi untuk sampai benar-benar turun. Menghabiskan waktu. Menghabiskan bahan bakar. Pengelola Trans-Jakarta harus memperbaiki ketidakefisienan ini.
* * *
Halte Trans-Jakarta Senen (Koridor Pulo Gadung - Harmoni) pukul 12.00 benar-benar menyiksa. Rasanya seperti dipanggang di oven. Matahari sedang panas-panasnya. Keringat bercucuran membasahi wajah, badan, dan tangan saya. Seharusnya, mereka memasang pendingin udara di sini.
Belasan penumpang dari Halte Senen Sentral (koridor Ancol - Kampung Melayu) berdatangan. Tapi mereka pun tidak bisa turun ke halte, karena sudah ada puluhan penumpang yang lebih dulu berdesak-desakan.
Di Halte Senen, pintu tempat turun-naik penumpang bus di dua sisi berhadap-hadapan, sehingga calon penumpang tujuan Pulo Gadung dan tujuan Harmoni saling dorong. Padahal tidak ada lagi ruang kosong tersisa dalam ruangan yang lebarnya cuma 2 meter itu.
Tak ada petugas yang mengatur Halte Senen. Para calon penumpang yang tidak sabar menunggu kedatangan bus yang frekeunsinya jarang dan selalu penuh itu tidak mengantri dengan tertib. Semua saling serobot satu sama lain. Mereka yang menunggu lebih awal, belum tentu naik lebih dulu.
Bus dari arah Pulo Gadung tujuan Harmoni tiba. Penumpang bus yang hendak turun sulit bergerak karena jalan mereka terhalang penumpukan penumpang. Calon penumpang yang menunggu sedari tadi saling berebut naik ke bus. Seorang perempuan tua terdorong arus penumpang yang keluar. Mudah-mudahan badannya yang uzur masih kuat menahan tekanan orang-orang di sekitarnya, karena saya sendiri saja kepayahan.
Suasana kacau dan tidak nyaman di Halte Senen ini hendaknya diperhatikan pengelola Trans-Jakarta. Karena berfungsi sebagai penghubung antarkoridor, lalu lintas penumpang di halte ini sangat tinggi. Keterlambatan bus beberapa menit saja, menyebabkan penumpang bertumpuk dengan cepat.
Halte Senen mutlak harus diperluas, entah bagaimana caranya. Salah satu pintu tempat turun-naik penumpang hendaknya digeser agar tidak berhadap-hadapan. Harus ada petugas dan pembatas, supaya penumpang mengantri dengan tertib. Harus ada pendingin udara, atau paling tidak kipas angin agar pernapasan tidak sesak, dan agar orang-orang tua tidak pingsan. :)

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
philry4n
hmmm biasanya halte senen ada yang jaga
December 10th, 2007 at 9:10 pm
Junarto
Oh ya? Wah berarti itu bukan hari yang bagus buat saya. :D
December 18th, 2007 at 8:49 pm