← Kembali ke halaman depan

“Efek Sepeda Motor” Mengintai Nyawa

Naik sepeda motor di Jakarta benar-benar mengancam nyawa. Hampir semua teman atau kenalan saya yang berkendara dengan roda dua ini pernah celaka di jalan raya.

Akibat kecelakaan, ada saja kawan yang persendiannya bergeser, terkilir otot, ataupun menderita luka dalam. Seorang kawan sampai-sampai tidak mampu bekerja karena gerakan anggota badannya terbatas.

Untung, dia selamat. Tapi seorang kawan saya yang lain mati muda secara mengenaskan. Batok kepalanya pecah karena benturan keras dengan jalan. Dia meninggalkan seorang istri dan tiga anak perempuan yang belum masuk usia sekolah dasar.

Data Jasa Raharja menyebutkan, pada tahun 2005 sebanyak 36.000 orang tewas karena kecelakaan lalu lintas, dan 19.000 di antaranya adalah pengendara roda dua. Dengan kata lain, kecelakaan mematikan di jalan raya lebih berpeluang dialami oleh pengendara sepeda motor daripada yang lain.

Angka ini pasti terus bertambah seiring dengan pertumbuhan pembelian roda dua ini setiap tahun, yang pada tahun 2008 akan mencapai 6 juta unit.

Sepeda motor awalnya dipilih warga Jakarta karena irit, luwes, mampu menorobos di antara deretan mobil yang stagnan dalam kemacetan. Namun, dengan jumlah yang terus bertambah, bahkan sepeda motor pun kini tidak jarang terjebak dalam antrian sesama mereka sendiri di antara kendaraan-kendaraan lain.

Tiga belas tahun lalu, saya pernah bersepeda motor ke kampus. Entah mengapa, ketika memasuki jalan raya yang lebar, panjang dan leluasa – seperti Jalan Tanjung Barat sampai Lenteng Agung — saya terangsang untuk memacu motor saya secepat-cepatnya, melebihi batas yang diizinkan.

Saya suka sekali menyela dua kendaraan roda empat yang tengah berlari sejajar. Atau, tertantang untuk menyalib kendaraan lain dari lajur lain sambil mengira-ngira, mampukah saya mendahuluinya sebelum kendaraan dari arah berlawanan mencapai posisi saya.

Atau, ketika saya disalib pengendara lain, kepala saya menjadi panas, tidak senang, tidak rela. Lantas saya mengejar dan mendahuluinya. Pada saat jalan tengah padat, saya menerabas bahu jalan, meskipun mestinya itu untuk pejalan kaki. Tidak jarang saya melanggar lampu merah bila perempatan terlihat kosong, walaupun sesungguhnya itu berbahaya.

Peristiwa yang membuat saya insaf adalah, saya pernah hampir saja menabarak gerbang kampus dalam kecepatan tinggi karena ugal-ugalan. Jika kemudi tidak mampu saya kendalikan sedikit lagi, mungkin saya takkan pernah menulis artikel ini.

Apakah jenis kendaraan mempengaruhi cara kita berkemudi?

Bentuk sepeda motor yang ramping secara psikologis membuat pengemudi merasa bebas, atau ingin leluasa menggerakkannya ke mana saja. Jika kendaraan roda empat dibatasi oleh bilik tertutup, sepeda motor langsung berhadapan dengan ruang terbuka. Ketiadaan batas ini membuat pengemudi sepeda motor merasa lebih mampu mengendalikan kendaraan mereka, sehingga mereka berani mengambil resiko lebih tinggi.

Jika kendaraan roda empat atau lebih memungkinkan pengendaranya bersandar sejenak ketika berhenti, atau mengemudi sambil menyambi aktivitas kecil, sepeda motor mengharuskan pengemudi senantiasa berada dalam posisi siaga. Bahkan dalam keadaan berhenti, satu kakinya harus menahan tubuh kendaraan.

Bisa jadi semua ini membuat pengemudi roda dua lebih cepat letih, dan lebih tidak sabaran daripada pengemudi kendaraan lain. Silahkan coba, Anda akan merasakan “efek sepeda motor” ini.

Saat ini saya tidak lagi berkendara dengan sepeda motor setelah dokter saya menganjurkan demikian karena alasan kesehatan. Dalam kecepatan tinggi, paru-paru kita dipaksa menghirup milyaran partikel debu kotor, asap knalpot, dan segala jenis limbah udara lain. Ini tidak bagus buat sistem pernapasan kita.

Saya hanya mengajurkan agar kawan-kawan yang menggunakan roda dua ini dapat mengatasi “efek sepeda motor” tersebut. Mudah-mudahan dengan menaati peraturan lalu lintas, menghormati pejalan kaki, mengenakan pelindung kepala yang bagus dan selalu waspada – usia Anda akan lebih panjang.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)