Kebelet Pipis, Kebelet Pipis…!
Lucu juga, beberapa kali saya taksengaja melihat kondektur, supir taksi, dan supir bus, buang air kecil sembarangan. Entah di pagar tembok gedung, atau halte di pinggir jalan, atau bahkan di salah satu roda angkutan mereka sendiri.
Hari ini, misalnya, saya menyaksikan seorang supir bus besar celingak-celinguk di samping pagar tembok kantor LIPI di Jalan Gatot Subroto, di belakang sebuah halte umum di jalan itu. Busnya yang kosong terparkir di depan halte. Sejenak dia lihat kiri dan lihat kanan. Kemudian, dia membuka resleting celana. Selanjutnya, saya tidak tahu. Mungkin dia berhasil dengan mission impossible-nya setelah saya berjalan beberapa langkah melewati dia dan busnya itu.
Saya juga pernah berada di dalam bus sedang yang terjebak di tengah kemacetan di Jalan Warung Buncit Raya. Sang kondektur turun dari bus, dan secara spontan buang air kecil di salah satu roda bus. Seorang perempuan penumpang mengalihkan pandangannya karena risih. Entah, beberapa ribu mata yang menyaksikan tindakannya. Tapi, dia kelihatan takpeduli.
Di seberang Terminal Gambir, di pinggir Jalan Merdeka Timur, di depan sebuah bangunan, di dekat jembatan penyebarangan pejalan kaki, para supir taksi armada perusahaan tertentu beristirahat melepas lelah sambil memarkirkan taksi-taksi mereka. Biasanya mereka kencing di tembok pagarnya. Bau amoniak pun tercium sampai beberapa meter.
Profesi membuat mereka selalu berada di ruang terbuka sehingga mereka enggan berupaya mencari tempat yang pantas buat buang hajat. Atau, mungkin memang tidak perlu, selama lubang jamban bisa diganti pohon, tiang, tembok, atau selokan. Maka, buang air kecil pun menjadi praktis. Sepertinya itu biasa buat mereka, sewajar yang kita lakukan di kamar kecil rumah, mal, restoran, kafe, hotel, atau gedung perkantoran.
Kebelet pipis, perasaan ingin buang air kecil, tak dapat disangkal, adalah panggilan alam yang mendesak. Otak memerintahkan kita mengosongkan kantong urin kita yang sudah full tank. Secara naluri kita lantas mencari tempat yang nyaman untuk melakukannya.
Kalau itu terjadi saat kita berada di tempat umum sedangkan toilet tidak ada, apa yang kita lakukan? Mungkin kita terpaksa masuk restoran, berpura-pura memesan makanan, lalu bertanya kepada pramusaji, “Di mana kamar kecil?” Tiang, pohon, tembok, selokan, roda kendaraan mungkin pilihan terakhir. :D
Persoalannya, bau amoniak urin bisa membuat orang lain mual, ingin muntah. Jadi, jangan buang air kecil sembarangan. Cobalah jalan-jalan di Terminal Lebak Bulus, tempat awak angkutan umum dalam dan luar kota berdatangan. Banyak tempat di sana yang bau pesingnya minta ampun. Apakah Anda bisa bertahan?
Mungkin pemerintah kota perlu memikirkan juga bagaimana agar toilet-toilet umum disediakan dan disebar di kota. Saat ini di Jakarta ada 7 juta warga di malam hari dan 13 juta di siang hari. Bayangkan, seandainya pada saat kebelet pipis, semua buang air kecil sembarangan. Jadilah Jakarta laksana jamban umum terbesar di dunia.

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
antown
iya, saya juga pernah melihat itu langsung dengan mata kepala saya sendiri. Justru yang buang air itu penumpang.
Jadi ceritanya begini. Saat berhenti di lampu merah. Ada seorang penumpang yang ngakunya habis minum obat. Situasi hujan ia manfaatkan begitu saja. Berjalan menuju pintu depan bus lalu currrrr…..
sebel bgt liat kayak gitu.
antown.blogspot.com
usmany.deviantart.com
January 14th, 2008 at 5:01 am
Junarto
He he he… ada ada aja ya…
January 25th, 2008 at 2:40 pm