Pantas Saja Mereka Kecewa
Detik.com sore ini memberitakan bahwa jumlah penumpang Trans Jakarta turun dari 210.000 menjadi 180.000 orang.
Kabar itu tidak mengherankan. Sebagai pelanggan setia Trans Jakarta saya frustasi berat. Bepergian di dalam kota dengan Trans Jakarta justru memperlambat perjalanan kita, jauh lebih lama daripada mobil pribadi, bahkan mungkin bus sedang semacam Metro Mini atau Kopaja.
Dulu Trans Jakarta mungkin unggul, karena moda ini membuat kita bisa pergi lebih cepat. Jalur khusus sempat (atau pernah untuk beberapa waktu) dijaga dengan disiplin oleh petugas.
Tapi semenjak kendaraan pribadi dan umum diperbolehkan — bahkan disokong oleh Presiden SBY — untuk masuk jalur khusus, naik Trans Jakarta sama saja dengan menyiksa diri. Sebab, arus armada bergerak lebih lamban, penumpang menunggu lebih lama, berdiri berdesak-desakan pun menjadi lebih melelahkan.
Pada jam-jam sibuk pulang kantor, umpamanya, arus kendaraan pribadi di jalur biasa malah mengalir lebih cepat ketimbang jalur khusus, sedangkan bus tertahan di tempat. Menyedihkan, bukan?
Tidak heran, pernumpang Trans Jakarta yang dulu beralih dari kendaraan pribadi menjadi marah dan kesal, dan akhirnya kembali mengendarai mobil mereka. Lebih baik macet, tapi duduk di dalam mobil dan berkuasa penuh terhadap kendaraan sendiri, daripada berebutan masuk atau berdiri berdesak-desakan dan saling dorong di dalam bus yang lama perjalanannya tidak dapat dipastikan lagi. Ya, tentu saja.
Meskipun begitu, Trans Jakarta masih unggul dalam tarif yang murah (untuk jarak jauh), bebas pedagang asongan, pegamen, asap rokok, serta aman (dari pencopet, preman, dan pendong). Tapi rupanya alasan-alasan itu belum cukup unggul untuk membuat pengendara mobil pribadi beralih kepadanya.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.