You're here: My City Blogging » Jakarta » Article: KRL Jabodetabek Layak Dipuji

KRL Jabodetabek Layak Dipuji

Junarto Imam Prakoso — March 1, 2008 / 7:04 pm

Ada janji dengan Ade Armando – Bang Ade, saya menyebutnya – di kampus Universitas Indonesia Depok.

Kali ini saya ingin mencoba jasa angkutan kereta listrik. Saya dengar, kini ada rangkaian gerbong berpendingin udara nyaman yang diberangkatkan pergi-pulang secara teratur antara Jakarta-Bogor.

Maka saya pergi ke Stasiun Kalibata dengan bus sedang.

Sesampai di sana saya melihat garis antrian dibedakan antara calon penumpang kereta ekonomi biasa dengan yang bererpendingin udara.

Saya mendekati jendela loket di antrian penjualan karcis kereta listrik berpendingin udara.

“Saya mau ke Depok,” kata saya kepada petugas loket. “Apa ada yang berhenti di Stasiun UI?”

Sang petugas sedang mengunyah makanan. Jadi, ia hanya bisa “berbicara” dengan kepala dan tangannya. Dia mengangguk, sedangkan telunjuknya mengarah ke lembar pengumuman keberangkatan yang tertempel di kaca. Pada lembar itu tertulis “Tujuan Bogor, pukul 11.38.” Saya menengok jam tangan digital saya. Sekarang pukul 11.15. Baiklah, masih ada waktu 23 menit.

“Ciri-ciri keretanya apa?” tanya saya, karena khawatir salah naik gerbong. Sebab ada rangkaian kereta cepat yang tidak berhenti di Stasiun UI.

“Nanti diberitahu lewat pengeras suara,” katanya. Kelihatannya ia sudah menelan seluruh makanannya.

Saya naik ke pelataran stasiun. Ada dua petugas berjaga-jaga di pintu masuk. Salah seorang meminta saya memperlihatkan karcis. Saya menunjukkannya. Dia mempersilakan saya lewat.

Sepertinya ada perubahan suasana di stasiun Kalibata. Biasanya – mungkin sampai dua-tiga pekan lalu — penjagaan pintu pelataran begitu longgar, sehinggga banyak orang yang mendapat tumpangan gratis.

Saya duduk di bangku besi panjang di pelataran. Sekitar sepuluh menit kemudian, kereta ekonomi non-AC masuk.

Penumpang berdesak-desakan. Tapi tidak ada yang naik ke atap. Situasinya amat berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya ketika banyak orang yang nekat duduk di atap gerbong. Akibatnya, banyak yang mati gosong lantaran terpanggang arus listrik tegangan tinggi. Atau terjatuh dengan darah yang berbekas pada anggota badan yang telah tercincang.

Pukul 11.37, petugas berseru dengan pengeras suara. “Perhatikan di jalur dua. Kereta ekonomi berpendingin udara tujuan Bogor akan masuk. Kereta akan berhenti di setiap stasiun.”

Saya takjub. Tepat pukul 11.38 Kereta saya benar-benar berhenti di hadapan saya. Luar biasa. Biasanya mereka tidak pernah menaati jadual. Ini kemajuan penting!

Pintu terbuka. Begitu saya masuk, pintu kembali tertutup. Badan yang sedari tadi gerah, menjadi nyaman dengan hawa sejuk di dalam. Berbeda dengan kereta nirpendingin udara, gerbongnya leluasa. Tapi karena tempat duduk di gerbong tempat saya masuk terisi semua, saya menyusuri gerbong lainnya, mencari tempat duduk kosong. Saya lihat ada seorang petugas berjaga-jaga di setiap pintu penghubung antargerbong.

Ketika saya hendak masuk ke gerbong berikut, seorang petugas meminta saya memperlihatkan karcis. Begitu juga ketika saya masuk ke gerbong berikutnya lagi, petugas yang lain menyakannya juga. Pengawasan ketat.

Akhirnya saya menemukannya juga di gerbong ketiga dari rangkaian terbelakang. Pada saat saya duduk, saya melihat di dinding seberang ada tulisan kanji terpampang. Oh, ini kereta bekas buatan Jepang. Kalau dilihat dari modelnya, sepertinya keluaran tahun 1960-an. Mengapa tidak membeli produksi dalam negeri sendiri, ya? ‘Kan ada PT INKA?

Kereta yang saya tumpangi berhenti di setiap stasiun. Dan setiap ada sekelompok penumpang yang masuk, para kondektur di gerbong masing-masing memeriksa mereka dengan ketat, memastikan bahwa mereka membeli karcis yang sesuai.

Akhirnya kereta berhenti di Stasiun UI. Saya melihat jam tangan. Pukul 11.53! Perjalanan hanya butuh 15 menit. Jika dengan bus, mungkin 40 menit sampai 1 jam karena banyak hambatan di jalan.

Saya turun dengan perasaan sesegar ketika saya naik tadi. Jadi terkenang betapa tersiksanya ketika menggunakan trayek yang sama sepuluh tahun silam. Sesak, pengap, bau, kotor, ngaret, copet….

Tapi itu dulu, karena Rupanya Divisi Perusahaan Umum Kereta Api yang mengelola rute Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi bersunguh-sungguh ingin mengubah wajah mereka. Tahniah!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.

  1. M Fahmi Aulia

    orientasi (visi-misi) PT INKA jika tidak salah sudah berubah, ‘tidak membuat’ badan kereta api…cmiiw

    March 2nd, 2008 at 12:11 pm

  2. antown

    ongkosnya berapa ya supaya bisa dapat pelayanan seperti itu?

    March 29th, 2008 at 6:59 pm

  3. Junarto

    6000 yang berhenti di setiap stasiun
    11000 yang berhenti di 3 stasiun.

    March 30th, 2008 at 6:28 pm

  4. Junarto

    @antonwn
    Ongkosnya Rp6000 berhenti di setiap stasiun.

    May 7th, 2008 at 7:24 pm

  5. candra

    omong2 soal kereta api, kemarin aku liat film china tahun 90an. kereta apinya dah caanggih..keren..cepat pake listrik.
    di indonesia?? bahkan kereta api yg paling bagus di indonesia skrg masih kalah ^_^


    http://about-health-information.blogspot.com/
    http://how-to-do-all-things.blogspot.com/
    http://ww4.yuwie.com/profile/Default.asp?id=706722
    http://bux.to/?r=candrarpdshare
    http://allinfohealth.wordpress.com

    July 15th, 2008 at 1:31 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • awis.wisnedi — Salam kenal boss.. Mf terlambat bergabung ama forum ASIABLOGGING kebetulan saya juga warga JABABEKA Cikarang.Menurut saya Prospek usaha disini ...
  • ale-silver — yg saya tahu di rawa bening jatinegara jakarta timur perak murni di jual di kisaran 4400. kalau ada yang mau ...
  • trusti — R "Rencana pengampunan dan penghentian penyidikan atas kasus mantan Presiden Soeharto jelas mencederai rasa keadilan masyarakat dan melanggar prinsip equality in ...
  • eshape — Wah aku gak nonton tuh. Ada penonton lain yang mau ngasih komentar?
  • GODEX — MOKASIH YO......... GETS SPIRIT FOR BENGKO LAND SALAM TOBO KITO
  • trusti — kalau melihat debat di TV One kemaren yang temanya kontroversi iklan PKS, saya justru melihat PKS bukan partai cerdas, dangkal ...
  • eshape — semoga komentar-komentar ini memberikan manfaat bagi kita semua amin
  • Aisyah — Bagi saya PKS adalah Partai Kroninya Soeharto. Suharto dari mulai pengambil alihan kekuasaan sampai akhir ia menjabat tak luput dari kekerasan ...
  • Zihah — semoga Bapak Bupati Sinjai mau melanjutkan pembangunan pelabuhan lare-rea itu hingga benar-benar indah dan bermanfaat bagi warga sinjai maupun para ...
  • m.faisal — waduhh baru gw mau bikin penulisan feature tentang pasar tumpah di bekasi udah ada duluan tapi bener tuh bikin macet kalo ...