You're here: My City Blogging » Jakarta » Article: Bulan Kritis DBD : Desember-Maret
Warga DKI Jakarta perlu waspada ancaman penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Diperkirakan pada sekitar bulan Desember-Maret menjadi bulan kritis dimana akan banyak terdapat korban penyakit berbahaya ini. Seperti dikutip dari Berita Jakarta online hari ini untuk mengantisipasi melonjaknya penderita demam berdarah dengue (DBD) yang diprediksi bakal terjadi pada Maret, April, dan Mei 2009, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat kembali menggalakkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di delapan kecamatan.
Walikota Jakarta Barat, Djoko Ramadhan, mengimbau sebaiknya lebih aktif melakukan PSN selama 30 menit di rumah masing-masing. Sebab, memasuki musim hujan biasanya jentik nyamuk mulai banyak. Dan telur nyamuk aedes aegypti menetas menjadi jentik nyamuk. “Bulan Desember ini hingga Maret nanti adalah bulan kritis DBD karena dalam masa itulah perubahan iklim dari kemarau ke musim hujan terjadi, dan telur nyamuk mulai menetas dan menjadi jentik. Karena itu, harus kita berantas sedini mungkin,” ujar Djoko Ramadhan, saat pencanangan PSN di Kecamatan Kebonjeruk, Jumat (5/12).
Selain melakukan PSN, mantan Bupati Kepulauan Seribu itu juga meminta warga untuk senantiasa melakukan kegiatan 3M yaitu menguras, menutup, dan mengubur barang yang menampung air. Karena jika tidak dilakukan, maka tempat-tempat tersebut akan menjadi tempat berkembangbiak nyamuk. “Saat musim banyak bermunculan genangan-genangan air, karena itu tempat-tempat yang dapat menampung air harus ditutup, kalau sudah tidak terpakai harus dikubur, dan jangan lupa selalu menguras bak mandi. Apabila 3M itu tidak dilakukan, maka tempat-tempat tersebut sangat berpotensi menjadi tempat berkembangbiak nyamuk termasuk nyamuk aedes aegypti,” ujarnya.
Djoko menuturkan, wabah DBD sebenarnya bukan penyakit baru. Sebab, jenis penyakit ini sudah muncul sejak tahun 1968 atau sekitar 40 tahun lalu. Dan sejak saat itulah penyakit mematikan ini ditetapkan sebagai musuh bersama. “Jadi saya kira tidak ada alasan untuk tidak mempedulikanya, semua elemen masyarakat harus ambil bagian” tandasnya.
Ida Bagus Nyoman Banjar, Kasudin Kesehatan Jakarta Barat menambahkan, meski saat ini belum terjadi peningkatan jumlah penderita DBD, namun masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap mewabahnya penyakit ini, mengingat saat ini sudah memasuki musim penghujan. Ia menuturkan, hingga Desember 2008, kasus DBD di Jakarta Barat sebanyak 4.246 kasus, 4 orang diantaranya meninggal dunia. Dan dari delapan kecamatan, tiga kecamatan angka kasusnya masih cukup tinggi yaitu Kecamatan Cengkareng sebanyak 895 kasus (1 orang meninggal), Kecamatan Kebonjeruk sebanyak 870 kasus, dan terakhir di Kecamatan Palmerah sebanyak 668 kasus. Sementara di Kecamatan Kalideres tercatat sebanyak 365 kasus, Kecamatan Kembangan sebanyak 362 kasus (1 orang meninggal), Kecamatan Grogolpetamburan sebanyak 575 kasus (2 orang meninggal), Kecamatan Tambora 417 kasus, dan Kecamatan Tamansari sebanyak 297 kasus.
Nyoman menjelaskan, untuk mencegah merebaknya DBD di Jakbar, Sudin Kesehatan Jakbar telah melakukan berbagai upaya mulai dari penyuluhan ke masyarakat hingga pelaksanaan fogging serta PSN selama 30 menit. Upaya itu memang cukup berhasil, karena jumlah kasus DBD di Jakarta Barat dibilang menurun jika dibanding tahun 2007 lalu. Pada tahun lalu, jumlah kasus DBD di Jakarta Barat sebanyak 4.873 kasus, 21 diantaranya meninggal dunia. “Kita tidak boleh puas, tapi harus terus berusaha untuk menekan angka tersebut,” tukasnya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.