You're here: My City Blogging » Kendari » Article: Mencicipi Ikan Bakar Aroma Labbakkang di Kendari
<
p>Warung makan bermenu ikan bakar itu, posisinya tepat di jalan poros dari Kota Kendari ke Kendari beach atau pantai kota Kendari lama. Tepatnya, jl. H Edi Sabara (bypass no. 38) yang di depannya terdapat rimbunan pohon bakau.
Aco tukang ojek asal Pomalaa yang berdarah Bugis Bone yang memperkenalkannya padaku. Menyebut bahwa warung makan itu kerap kali dikunjungi artis dan tokoh politik nasional.
Gotcha! Begitu batinku. Betapa tidak, bukankah menarik untuk mengetahui sesuatu yang istimewa? Apalagi ini usaha kuliner yang branded SulSel?
Setelah memutar dari jalan utama kota Kendari, dengan motor ojek sayapun sampai di warung itu. Tidak sulit karena di depan warung terdapat dua papan nama yang besar.
Kesan bersih, itulah yang pertama terekam dari warung ikan bakar khas asal Pangkep ini. Warung yang banyak diperbincangkan warga kendari.
Tomat, jeruk nipis, cabe, bawang, daun kemangi, timun plus sambel kacang, ditambah tatakan jeruk manis untuk makanan penutup tersaji diatas meja. Semua terlihat begitu rupa dan tertata apik.
Benar omongan Aco bahwa warung ini memang kerap dikunjungi orang ternama. Berbagai pajangan foto dan piagam terpampang di dinding. Ada Iis Dahlia, Muchsin Alatas dan Titik Sandora, Nia Dicky Zulkarnaen Sihasale.
“Ada beberap foto lain yang tidak sempat saya pajang” kata Haji Hamsinah ketika saya menunjukkan kekaguman saya.
Siang menjelang sore itu, hanya saya dan dua orang pengunjung lain yang menjadi tamu. Sebagian tenaga kerja warung sedang membersihkan lantai, mengepel dan sesekali melap dan menata ulang meja.
Di cold box, berbagai jenis Ikan seperti ikan kakap, ikan beronang, ikan kerapu, ikan bandeng ukuran diatas rata2 tertata dengan baik dengan kepala menghadap keatas dan disisip bongkahan es halus..
Khas Pangkep
Orang tua kami yang asal Pangkep telah lama tinggal di Kendari. “Kata Haji Hamsinah, yang kala itu baru saja selesai makan dengan menu raca raca taipa dan ikan pallu ce’la”
Inisiatif pertama berusaha datang dari Hamsiah muda yang oleh orang tuanya disiapkan tenda kecil di daerah Kendari Beach pada tahun 1992.
Kala itu, menunya adalah nasi dan ikan bakar laut. Setelah melihat bahwa usaha ini mulai berkembang pesat. Dia mulai berpikir untuk investasi dengan membeli tanah di jalan bypass. Itu juga setelah ada penataan dari pemerintah kota tentang Kendari Beach.
“Sebenarnya tidak adaji yang beda dengan dulu tetapji ikan kakap, katamba, titang, kerapu, bandeng. Namun beberapa jenis hasil laut lainnya juga mulai diminati pelanggan seperti udang, cumi, kepiting” kata Hajjah Hamsinah. Makanya, dia memperbanyak jenis pilihannya.
“Ada yang dibakar, asem manis, saos tiram tergantung pesanan pelanggan. Kata Hamsinah.
Pekerja di warung dulu itu sekitar 6 orang, berasal dari Bugis, Tolaki dan Muna. Dulu hanya 6 meja kecil dengan enam bangku memanjang. Usaha di daerah pantai Kendari itu berlangsung selama 4 tahun.
Kami memulai usaha ini disini, sejak tahun 1995. Itu setelah membeli lahan dan memperluas warung.
Satu hal yang menarik dari warung ini, menurut kata orang adalah aroma ikannya setelah dibakar.
“Itu karena kami menggunakan bumbu bakar” kata Hajmsinah yang dibenarkan oleh Amiruddin asal Buton, sang juru bakar. Kami mendapatkannya dari suami, Pak Haji Saenong yang memang orang tuanya, jago membuat bumbu ikan di Pangkep.
Ditanya tentang jam buka warung, Amiruddin menyebut sejak jam 10 hingga larut malam. Tergantung pengunjungnya. “Kadang-kadang hingga Jam 1 malam, Kadang jam 2? imbuh Amir.
Warung ini juga menyiapkan menu otak otak, yang dibuat khusus oleh satu keluarga tetangga Hajjah Hamsinah.
Hajjah Hamsinah adalah wanita keturunan Pangkep yang lahir di Kendari. Bersuamikan Haji Saenong yang juga asal Pangkep.
Mereka mempunyai hubungan dengan beberapa pedagang ikan sebagai penyuplai ikan di warungnya. Ikan-ikan didatangkan dari daerah Raha, Kassi Pute, pulau Wowoni, Wanci yang dikirim khusus dengan perahu.
Kami membayar cash kepada pengantar dengan terlebih dahulu menyeleksi ikan-ikan bagus. Ikan-ikan itu kemudian dibersihkan ulang oleh anggotanya. Sekarang ini warung Aroma Labbakkang memperkerjakan sepuluh orang.
Penataan meja yang hanya tiga jalur terlihat rapi. Warna plastik coklat muda menutup masing-masing meja. Lantai krem terlihat bersih.
9 meja panjang, dan 18 bangku panjang berbaris pada tiga jalur. Dilangit2 tertata lampu dan plafon sederhana namun indah. . Kenapa disebut warung Aroma Labbakkang? Itu nama kampung Haji Laki-Laki. Kata Hajjah Hamsinah, maksudnya suaminya.
“Eh anu juga daeng, pernah pula datang penyanyi dangdut seperti Fetty Vera, Vina Panduwinata dan pejabat dari Jakarta, Yusril Ihza dan Andi Mallarangeng” katanya sebelum saya mencegat ojek lagi.
Catatan:
Dikutip atas izin penulisnya dari Blog Kamaruddin Aziz Daeng Nuntung
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.