You're here: My City Blogging » Makassar
Ini sebuah fenomena menarik dikalangan PNS Makassar setelah Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengungkapkan, kasus perceraian pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Makassar, termasuk tinggi.”Hampir setiap hari saya menandatangani surat izin bercerai. Beban berat harus dipikul karena saya yang harus menyetujui. Aturannya mengharuskan begitu,” kata Ilham di depan istri-istri PNS di Gedung Graha PKK, Jl Anggrek, Selasa (10/6) seperti dikutip dari Tribun Timur online. Mereka serentak tertawa mendengar pernyataan wali kota. Tanpa menyebutkan detail data, dan angka, Ilham menyayangkan putusnya tali perkawinan suami-istri PNS di lingkup pemkot itu.
Hingga tahun 2009, jumlah PNS di makassar sekitar 14.165. Sekitar 75 persennya adalah tenaga pendidik. Ilham menyampaikan itu saat memberi sambutan pada pelantikan Pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP), Pengurus Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dan Pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Sebuah gebrakan baru datang dari Makassar.
AstaMedia Group, sebuah induk perusahaan dari beberapa perusahaan online dan offline yang bergerak di bidang internet marketing, blog advertising dan Search Engine Optimalization services akan mencanangkan Blogging School Pertama di Asia.
Grand Launching AstaMedia Blogging School pada hari Sabtu besok (16/05) bertempat di Krakatau Room, Hotel Horison Makassar. Event ini akan dirangkaikan dengan sejumlah acara seperti Talk Show Pendidikan dan Internet, serta Blogging dan Kampanye Internet Sehat. Selain itu, juga akan dilakukan pengumuman dan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba blogging, lomba essay dan lomba mading antar SMU se-Kota Makassar.
“Grand launching ini merupakan sebuah momentum berarti bagi kami untuk lebih memperkenalkan AstaMedia Blogging School kepada seluruh lapisan masyarakat kota Makassar dan sekitarnya”, ujar Muhammad Ikbal,Manager Marketing AstaMedia Group seperti dikutip dari Press Release resminya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
“Dengan menjual jamu berarti membuat keluarga saya senang, karena dapat uang” Ujar si Mba dari balik sepeda mininya yang dijejali botol-botol besar. Dia menjawab sambil terkekeh ketika saya bertanya tentang pilihannya menjual jamu.
Seperti biasa pada setiap pagi, demi alasan kebugaran saya selalu memesan satu gelas kecil pada Dwi Safitri. Jamu Safitri adalah jamu pahit dari berbagai campuran tanaman seperti umbi jahe, kencur, gula merah, garam, gula putih, kunyit, ketumbar, adas, daun sirih, buah pinang, asam dan daun sambiroto yang diraciknya sendiri. Ada delapan botol bekas minuman buah markisa yang ditempatkan diboncengan sepedanya. Botol-botol yang sudah hampir setengah isinya habis ini, adalah wadah jamu hasil racikannya. Botol plastic yang satu berisi larutan gula merah sebagai penawar pahit jamu.
Pagi ini, tepat pukul 08.30 seperti biasa dia melintas di depan rumah kami di Perumahan Tamarunang, Somba Opu Sungguminasa. Safitri wanita muda beranak satu ini, adalah penjual jamu yang sudah lama menjadi langganan para ibu-ibu dan warga kompleks lainnya termasuk anak-anak. Tidak seperti penjual jamu yang lazim ditemui dengan menggendong bakul jamunya, Safitri menggenjot sepeda dari rumahnya di Borong Untia, Pallangga mulai dari pukul 06.00 pagi hingga perumahan di daerah jalan Malino. Dari terminal lama Sungguminasa hingga kompleks perumahan kami. Dia akan menyudahi kayuhannya pada pukul 10 ketika matahari mulai menyengat.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Pemilu legislatif sudah berlalu hampir seminggu dan eksesnya makin kerasa. Mulai dari rombongan warga yang kecewa karena haknya memilih tercerabut gara-gara administrasi yang berantakan, senyum manis para petinggi partai yang perolehan suaranya sangat menggembirakan, hingga yang paling sering kita dengar belakangan ini adalah tingkah norak atau efek stress berat yang menimpa para calon legislatif yang tak lolos ke gedung perwakilan rakyat.
Pemilu kali ini rasanya memang sangat berbeda dengan pemilu 5 tahun atau 10 tahun yang lalu, di mana sekarang ini parade para calon anggota legislatif rasanya sudah seperti parade warga masyarakat yang mengantri formulir pendaftaran PNS. Jumlahnya luar biasa banyak hingga perbandingan antara pelamar dan kursi yang tersedia sungguh sangat njomplang.
Ini sebuah fenomena baru, di mana begitu banyak orang yang kemudian berlomba-lomba menjadi calon anggota legislatif. Gaji dan guyuran rupiah serta fasilitas berlimpah jelas sangat menggoda mereka untuk berjuang ke gedung DPR/DPRD. Siapa saja, tak peduli status sosial, latar belakang pendidikan atau latar belakang lainnya. Semua orang tiba-tiba merasa sangat pantas mengemban amanah dari rakyat yang sesungguhnya sangat berat itu. Kemudian untuk memuluskan perjalanan mereka, beragam cara ditempuh. Sebagian besar adalah cara-cara yang meminta tebusan berupa rupiah yang tak sedikit. Karena itu pula, banyak para calon yang kemudian seperti berjudi. Menukar harta meraka dengan kesempatan duduk enak di kursi DPR/DPRD.
Belakangan, meski hasil pemilu belum final, efek berjuang habis-habisan para caleg itu kemudian muncul ke permukaan. Para caleg yang tak lolos dan kemudian mendapati kenyataan kalau suara dukungan untuk mereka tak seperti yang diharapkan mulai dihinggapi beragam penyakit. Mulai dari penyakit fisik hingga penyakit mental.
Ada yang tiba-tiba jatuh sakit, tekanan darahnya meninggi, jantungnya berdetak di luar batas normal atau penyakit fisik lainnya yang disebabkan oleh stress akibat kenyataan yang tak sesuai harapan. Ada juga yang kemudian linglung dan bertingkah selayaknya orang gila, penyebabnya tentu sama. Stress karena kenyataan yang tak sesuai harapan.
Ada juga yang lebih lucu dan norak. Sadar kalau angan-angan manis menjadi anggota dewan yang terhormat sudah hilang tak berbekas, mereka mulai menunjukkan taringnya. Taring yang selama ini disembunyikan di balik seringai penuh keramahan dan persahabatan. Saru persatu materi yang mereka gelontorkan selama ini, yang katanya diberikan secara ikhlas mulai mereka tarik dengan sedikit memaksa.
Di Mamuju-Sulawesi Barat, ada tim sukses seorang caleg yang mengusir beberapa warga yang tinggal di atas sebidang tanah miliknya. Penyebabnya adalah karena para warga tersebut gagal memberikan suara sesuai persyaratan. Sang warga yang terusirpun hanya bisa pasrah membiarkan rumah mereka dibongkar.
Di Palopo-Sulawesi Selatan, ada seorang caleg yang merangkap pengusaha kost-kostan tega mengusir penghuni kost-annya karena mendapati kenyataan para penghuni kostannya ternyata tak mencontrengnya di pemilu kemarin.
Di beberapa tempat lain di Nusantara juga terdengar kabar bagaimana para caleg yang frustasi dan jadi norak itu meminta kembali sarung atau benda lain yang sebelumnya sudah mereka bagi-bagikan. Bahkan di Bone ada caleg yang sungguh tak tahu malu dan menarik kembali karpet yang tadinya dia sumbangkan ke Masjid, Masya Allah…sungguh luar biasa..
Tindakan-tindakan norak dan tak tahu malu itu rasanya sungguh membuat miris kita-kita yang mendengarnya. Saat harapan mereka tak bertemu dengan kenyataan, taring asli mereka kemudian tampak. Mereka tak lain dari para oportunis egois yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa mau tahu urusan orang lain. Sungguh tak pantas untuk mengemban sesuatu tugas suci bernama amanah.
Sebenarnya ini adalah sebuah keuntungan juga bagi para masyarakat kebanyakan. Untung karena mereka-mereka ini tak terpilih sehingga taringnya kelihatan lebih awal. Andai saja mereka-mereka yang bersifat setan itu benar terpilih dan melenggang ke gedung DPR/DPRD maka silakan anda bayangkan sendiri kerusakan macam apa yang bisa ditimbulkannya,
Alih-alih berjuang untuk para konstituennya, mereka dipastikan akan sibuk menghitung kembalinya modal kampanye mereka sebelum mulai berhitung nilai keuntungan materi buat mereka dan konco-konconya. Sungguh luar biasa…
Di antara para caleg yang ternyata mampu mendapatkan kursi dambaan mereka, saya yakin masih banyak yang sebenarnya punya wajah asli serupa setan. Tak semua tulus mau mengabdi untuk rakyat, bahkan rasa-rasanya banyak dari mereka yang punya agenda tersembunyi demi kesejahteraan diri sendiri dan orang-orang terdekatnya. Seandainya saja ada yang bisa membuat program atau alat yang bisa menampakkan niat asli sang caleg, maka saya yakin program atau alat tersebut akan mampu membuat kita geleng-geleng kepala saking banyaknya para caleg yang tak serius mengemban amanah.
Hal-hal seperti inilah yang kemudian berhasil membuat banyak rakyat menjadi apatis dan sama sekali tak berselera untuk ikut bergabung di pesta yang katanya pesta rakyat ini. Banyak yang sudah terlanjur patah arang melihat kelakuan para calon wakil rakyatnya, dan ini kemudian membuat mereka tak mau ambil pusing tentang siapa yang akan lolos dan siapa yang tak lolos. Lolos atau tidak kan sama saja, sama-sama maling berjubah orang suci.
5 tahun ke depan harus ada satu mekanisme ketat yang menyaring para caleg sehingga kemudian jumlah maling atau setan berjubah orang suci itu bisa diminimalisir, syukur-syukur (meski berat) dapat dihilangkan. Kami rakyat kecil ini hanya ingin hidup damai dalam sebuah balutan kepercayaan yang tinggi pada orang-orang yang kami anggap mampu mengemban amanah dari kami. Bukan orang-orang yang otaknya hanya dipenuhi strategi memperkaya diri dan menempatkan kebutuhan masyarakat di urutan seratus sekian.
Maaf kalau saya terkesan apatis pada para caleg, tapi rasanya kenyataan sudah bisa memberi sedikit bukti kalau banyak dari mereka yang sesungguhnya memang adalah setan (Tuhan, saya senang sekali menggunakan istilah ini). 5 tahun ke depan, semoga semuanya bisa lebih baik, sehingga gedung DPR/DPRD bisa dihuni lebih banyak oleh para wakil yang sesungguhnya, bukan para setan berjubah orang suci. Kami tak butuh setan..!!!.
Catatan:
Tulisan ini juga dimuat di blog saya
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Suara mikrofon yang keras memecah keheningan sabtu pagi, tanggal 28 Maret 2009 di kawasan perumahan Kompleks Nusa Tamarunang, sekitar 3 kilometer dari Kota Sungguminasa. Suaranya tepat dari arah bangunan “Rumah Pemotongan Hewan” Tamarunang, Somba Opu, Gowa. Sayapun segera keluar dari halaman rumah. Terlihat satu unit mobil kijang tua, berwarna hijau tua bergerak perlahan melambat mengarah ke sungai Jeneberang.
“Mariki semua, para warga yang masih punya sampah di rumah, naikkan di mobil” Suara dari mobil itu.
“Kita akan antar ke tempat sampah pembuangan akhir” Kata Daeng Sikki di balik stir. Di belakangnya menggelantung tiga orang anak muda. Mereka siap menjemput kantung plastik berisi sampah warga. Tidak jauh dari mobil itu, Ibu Sri dari RT 4 tersenyum dan bergegas menyerahkan satu kantung plastik sampahnya ke anak-anak itu. Dia senang dengan datangnya mobil sampah ini. Mobil yang sepertinya tidak nampak sebagai mobil sampah.
Mobil ini dioperasikan atas inisiatif H. Abdul Hafid Latief caleg nomor 1 PKB untuk daerah pemilihan kecamatan Somba Opu.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Dari milis Komunitas Blogger Makassar saya dapat informasi tentang sebuah situs Social Network Site (SNS) berbasis Makassar dengan tampilan ala “facebook” telah mengangkasa di jagad maya. Namanya Channel Makassar. Silahkan klik disini untuk lebih jelas. Sama halnya dengan “sang inspirator” situs Channel Makassar yang bertema “Temukan, Sosialisasikan dan Bagikan” ini juga menyediakan beberapa opsi yang dapat diisi oleh pendaftarnya seperti blog, album foto, pooling, musik, dll. Yang unik di situs ini ada fasilitas untuk mengubah tampilan theme profil kita. Seementara ini baru ada 6 pilihan theme-nya.
Saya sendiri sudah mendaftar kesana hari ini dan mencoba menjalin interaksi dengan para peserta Channel Makassar yang sudah terdaftar disana. Nah anda tertarik mau ikut bergabung pula dengan “facebook ala Makassar” ini, silakan daftar disini.
Selamat datang di jagad maya Channel Makassar!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Pasien pengguna obat generik di Makassar layak mengelus dada. Seperti diberitakan Tribun Timur online, Beberapa distributor obat kini melakukan penundaan pengiriman obat generik bersubsidi ke sejumlah rumah sakit (RS) di kota Makassar. Pasalnya, utang obat RS dan unit pelayanan kesehatan belum dilunasi hingga saat ini.Menurut salah seorang area manager distributor obat yang tidak mau disebutkan namanya saat dikonfirmasi melalui telepon tadi malam mengatakan, hingga saat ini utang-utang obat RS yang dijanjikan oleh dinas kesehatan (Dinkes) akan segera dibayar, ternyata masih menunggak.
“Stok obat sebenarnya masih ada, namun utang obat belum dibayar. Jadi, kami terpaksa menunda pengiriman obat sampai utangnya dilunasi,” ungkap sumber tersebut. Obat-obat generik bersubsidi yang ditunda pengirimannya antara lain adalah Amoksisilin 500 mg, Ciprofloksasin 500 mg, Diazepam 2 mg dan 5 mg. Ditambahkan pula, pihaknya sendiri masih belum tahu kapan utang obat RS bakal segera dilunasi. “Katanya secepatnya, namun sampai sekarang masih belum dibayar,” kata sumber tersebut. Read full entry »
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Sebuah email undangan tiba di inbox saya kali ini. Dari Makkunrai Project yang akan menggelar acara Monolog “Nyonya Juga Caleg”. Monolog ini merupakan bagian dari Monolog, Jazz dan Dialog Pemilu 2009 kerjasama Makkunrai Project dengan Harian Tribun Timur, Hotel Clarion, Panyingkul!, Komunitas Ininnawa, Kafe Baca Bibliocholic, Taksi Putra, KPID Sulsel, FPMP Sulsel,Performa, yang akan dilaksanakan pada Hari Sabtu, Pkl.15.00-18.oo bertempat di Hotel Clarion Makassar.Acara ini GRATIS, tapi mengingat ruang pertunjukan yang sangat terbatas, untuk komunitas Panyingkul! kami menyiapkan 30 kursi. Silakan mendaftarkan nama, alamat email dan nomor kontak anda ke Nilam Indahsari (nilam_indahsari@yahoo.com) atau ke Group Makkunrai Project di Facebook (pada kolom event) selambatnya tanggal 28 Maret 2009. Kami akan mengirimkan nomor reservasi ke email Anda pada tanggal 30 Maret 2009. Maaf, hanya penonton dengan nomor reservasi yang dapat memasuki ruang pertunjukan.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Lelaki itu berjalan perlahan dengan mata awas. Tidak luput, dipandanginya horizon di kawasan pedesaan pesisir selatan Sulawesi itu. Juga, cakupan lansekap kehidupan desa dari titik terjauh hingga yang ada di sekitarnya. Saat itu, lelaki tua ini sedang menjadi ‘orang luar’ yang hendak membaca dengan teliti kehidupan warga, di satu desa pesisir kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Beberapa wanita dewasa, mendekati dan memulai pembicaraan. Tidak dengan lelaki tua itu, namun pada asistennya. Menyampaikan sesuatu, seperti berbisik. Walaupun dalam bahasa setempat namun lelaki itu mencoba memperhatikan dialog itu. Dialog yang membuatnya kemudian ikut menimpali.
“Kami mengalami persoalan dalam memperoleh air minum di desa ini” Kata ibu paruh baya itu. Harus mengambil air pada jarak jauh dan harus berjalan kaki. Lalu lelaki tua itu, menyambutnya dengan mata menyelidik. O ya? Singkat lelaki itu. “Mohon ada bantuan bagi desa kami, supaya kami tidak sulit lagi peroleh air”. Lanjut ibu itu. Namun, lelaki tua itu menahannya dengan pertanyaan baru. “Selama ini, kegiatan mengambil air itu telah dilakukan sejak kapan?”. “Lama sekalimi, pak” Kata seorang temannya. Sejak puluhan tahun lalu, warga desa kami mengambil air jauh ke tepi bukit.
Wada Nobuaki, lelaki yang telah menua itu, menutup dialog dengan tegas: “ini bukan masalah” bukan issu bagi masyarakat desa ini, buktinya, mereka bertahan tetap mengambil air walau jaraknya jauh. Bagi Wada-san persoalan air di desa itu, bukanlah issu pembangunan, karena masyarakat menikmati kehidupan pedesaan seperti itu, tanpa mereka harus memeras keringat menyelesaikan ‘persoalan’ itu. Itu menjadi hal lumrah, sepanjang warga tidak mengambil tindakan untuk mencari alternatife lain.
“Tapi gambaran dialog diatas akan menjadi lain dimata para perencana yang hanya menilai dari satu sisi, dari sisi keinginan”. Jika menggunakan kacamatanya sendiri. Menganggap bahwa untuk memperoleh air harusnya dekat dan tidak buang tenaga. Tentu yang ada di pikirannya adalah, demi pemberdayaan warga, mari kita buatkan proyek sumur atau bantuan pipa.
Itulah satu bagian cerita selama tiga hari bersama Wada-san atau bapak Wada Nobuaki pada salah satu sesi pertemuan kami di Makassar di minggu kedua bulan Maret 2009. Dia pekerja sosial senior pada lembaga SOMNEED, atau Society for Mutual Aid, Networking, Environment, Education and Development, satu LSM Japan dan memiliki basis kegiatan di India dan Nepal. Saat ini banyak menghabiskan waktunya di Vishakhapatnam Area, negara Bagian Uttar Pradesh, India pada komunitas kumuh kota di negera berpenduduk kedua terbesar di dunia itu.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Diruang inbox Facebook saya datang sebuah undangan dari M.Aan Mansyur, kawan saya, sesama blogger yang mengundang untuk datang menghadiri perhelatan memperingati 5 tahun Kafe Baca Biblioholic di Makassar. Berikut isi undangannya:
Sejak berdiri 13 Mei 2004, lembaga literasi ini sudah menjaring lebih dari 1.000 anggota, 7.000-an koleksi buku, sejumlah fasilitas pendukung seperti kafe dan hotspot, menjalankan sejumlah kegiatan (baik regular maupun tidak) yang dikelola oleh puluhan relawan. (anggota group kafe baca biblioholic di facebook ini juga sudah melampaui angka 1.100) Di usia lima tahun, Biblioholic akan mengadakan sebuah perayaan sederhana. Pada tanggal 13 Mei 2009, di Kafe Baca Biblioholic akan berlangsung acara FACE of BOOK berisi sejumlah kegiatan, di antaranya:
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
XML error: Reserved XML Name at line 2, column 38