You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Daeng, Antara Do’a dan Harapan

Daeng, Antara Do’a dan Harapan

Amril Taufik Gobel — November 5, 2007 / 3:57 pm

Nama Daeng dilokasi 

Keterangan foto: Contoh Penggunaan Nama Daeng (foto: Syaifullah) 

Kota Daeng, siapa yang tak kenal julukan ini. Julukan ini disematkan kepada kota Makassar, ibukota Sulawesi Selatan dan sekaligus sebagai pintu gerbang Indonesia bagian timur. Namun saya yakin masih banyak orang yang belum paham tentang makna “Daeng” itu sendiri, utamanya orang-orang yang berasal dari luar pulau Sulawesi.

Ada perbedaan dalam suku Bugis dan suku Makassar sebagai dua suku terbesar di Sulwesi Selatan dalam memaknai “daeng” itu sendiri. Dalam tradisi suku Bugis, kata “daeng” hanya dipakai sebagai kata sapaan kepada orang yang lebih tua, laki-laki maupun perempuan. Sedangkan dalam kebudayaan suku Makassar, kata “daeng” selain sebagai sapaan kepada orang yang lebih tua juga berfungsi sebagai nama tambahan selain nama kandung yang sudah dibawa sejak aqiqah.  

Orang Makassar jaman dulu pada umumnya punya dua nama. Areng kasara, atau nama kasar yaitu nama yang diberikan saat orang tersebut baru lahir, atau pada saat aqiqah. Sedangkan areng alusu, nama halus atau lazim disebut paddaengang diberikan saat yang bersangkutan telah melalui proses khitan. Sebagai contoh Tajuddin daeng Ruppa. Tajuddin adalah nama yang diberikan pada saat yang bersangkutan diaqiqah, sedangkan nama di belakang “daeng” adalah nama yang diberikan pada saat yang bersangkutan telah melalui proses khitan. 

Dalam suku Makassar jaman dulu dikenal 3 strata sosial atau kasta. Kasta tertinggi adalah Karaeng atau bangsawan yang punya beberapa sub kasta lagi. Kasta berikutnya adalah To Maradeka atau orang merdeka (orang kebanyakan). Kasta terendah adalah kasta Ata atau budak. Hanya orang-orang yang berkasta Karaeng dan To Maradeka yang berhak memberikan nama paddaengang pada keturunannya. Sementara kasta Ata tidak berhak untuk menggunakan nama paddaengang. Walaupun jaman sekarang kasta Ata sudah tidak dikenal lagi, namun aturan pemberian paddaengang ini masih dipegang teguh di beberapa daerah suku Makassar.  

Nama paddaengang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya dengan merujuk nama-nama paddaengang milik orang-orang tua mereka atau kerabat dekat dalam keluarga mereka, nama paddaengang tidak pernah dibuat baru. Sebagian besar nama paddaengang adalah nama-nama yang berisi doa dan harapan, namun ada juga nama paddaengang yang dilekatkan berdasarkan ciri-ciri fisik atau sifat yang bersangkutan.  

Paddaengang yang berisi doa dan harapan misalnya, daeng Lewa (tegak) dengan harapan sang anak nantinya bisa menjadi orang yang menegakkan keadilan dan kebenaran. Contoh lain misalnya daeng Gassing, atau kuat. Jelas nama ini sebagai pengharapan agar sang anak bisa jadi orang yang kuat dan tegas. 

Sedangkan contoh nama paddaengang yang diberikan sesuai ciri-ciri fisik atau sifat-sifat sang anak misalnya daeng Kebo, atau putih. Jelas nama ini ini diberikan kepada anak yang berkulit putih. Contoh lain misalnya daeng Calla, yang berarti mencela, biasanya diberikan kepada anak-anak yang kelihatannya suka mencela atau pilih-pilih. 

Sebelum memberi nama paddaengang orang tua biasanya berembuk dulu, mencari nama yang cocok. Biasanya sambil mengingat kerabat atau keluarga mereka (biasanya orang yang sudah meninggal) yang punya kelebihan-kelebihan atau disegani orang banyak karena sifatnya yang baik atau karena hal-hal positif lainnya. Setelah kata sepakat ditemukan, maka dalam rangakaian acara khitanan baik untuk laki-laki maupun perempuan, nama paddaengang sang anak pun diumumkan kepada khalayak ramai. 

Sesaat setelah resmi diberi paddaengang dalam acara khitan maka sang anak akan lebih sering disapa dengan nama paddaengang-nya. Nama aslinya atau areng kasarak-nya pun jadi jarang disebut. Makanya tidak heran bila banyak orang suku Makassar yang susah dikenali bila hanya menyebut areng kasarak-nya saja. Biasanya areng kasarak hanya ditulis inisialnya saja di depan nama paddaengang, misalnya H.M dg. Lawa. 

Karena namanya yang areng kasarak atau nama kasar, maka adalah hal yang tidak sopan bila orang-orang yang lebih muda memanggil langsung nama seseorang tanpa menggunakan paddaengang-nya.  Biasanya teguran akan diberikan kepada si anak yang memanggil tersebut karena dianggap melanggar norma-norma kesopanan dalam tatanan kehidupan suku Makassar. 

Paddaengang juga bisa diberikan kepada orang-orang yang bukan bersuku Makassar. Biasanya sebagai pernghormatan atas jasa-jasa yang bersangkutan terhadap masyarakat banyak, atau karena kedekatan secara historis. Khusus untuk pemberian yang diberikan oleh kaum bangsawan, acara pemberian paddaengang akan melalui suatu upacara khusus.  

Saat ini gelar-gelar paddaengang telah mengalami pergeseran. Anak-anak muda suku Makassar mungkin masih tetap mendapat nama paddaengang dari orang tua mereka, tapi hanya sedikit sekali yang mau memakainya. Alasan utamanya karena nama paddaengang berkesan ketinggalan jaman atau jadul istilah anak sekarang. Apalagi karena nama daeng saat ini identik dengan masyarakat golongan kelas bawah di kota Makassar, misalnya tukang becak, tukang sayur, tukang ikan, dll.  

Biasanya anak-anak muda yang bangga dengan nama daeng-nya adalah justru anak-anak muda yang hidup jauh dari Makassar atau para perantau. Jejak nama daeng bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia atau bahkan di luar negeri seperti di Malaysia atau Singapura. Karena identik dengan suku Makassar, maka daeng pun digunakan sebagai penanda bahwa si pemakai nama daeng adalah perantau yang berasal dari Makassar. 

Bagaimana dengan saya sendiri ?. Sebagai orang yang berdarah Makassar asli, saya mendapat gelar daeng Bella dari nenek saya. Nama ini berarti Jauh dan diambil dari nama kakek ibu saya yang adalah seorang pejuang yang tegas dan berani, jelas nenek berharap saya memiliki sikap yang sama dengan bapak beliau. Sayangnya dalam konteks kehidupan modern saat ini, nama paddaengang saya ini terdengar agak feminin. Alasan ini juga yang membuat saya tidak pernah mempopulerkan nama paddaengang saya. 

Namun saat ini tumbuh kesadaran dalam diri saya untuk memelihara peninggalan budaya nenek moyang saya hingga kemudian saya mengambil keputusan untuk mengganti nama paddaengang saya dengan nama daeng Gassing, nama milik almarhum kakek saya yang juga dikenal sebagai orang yang cedas dan berani membela kebenaran. Dan saat ini sayapun bisa dengan bangga menuliskan nama saya, Syaifullah daeng Gassing.  

Ditulis oleh : Syaifullah Daeng Gassing

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. Indra

    saya juga punya paddaengang ….
    daeng mangitungi
    salam kenal daeng gassing

    November 7th, 2007 at 11:54 am

  2. .:State of Love and Trust:. » Selamat datang di Rumah Baru

    […] Trus, kenapa namanya http://daenggassing.com ?, pertama nama daeng gassing adalah nama resmi paddaengang saya sebagai suku asli Makassar. Nama tersebut bisa dibilang nama halus, atau areng alusu. Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini. […]

    December 3rd, 2007 at 3:32 pm

  3. Hadindah daeng mawara doeni

    nama daeng yang saya miliki pemberian ayah, namun saya tidak mengetahui apa arti khusus di dalamnya. namun yang saya ketahui daeng mawara salah satu tokoh yang di segani di daerah ayah.saya memang tidak pernah ke makassar, namun selain orang-orang terdekat saya lebih senang dipanggil daeng.

    November 4th, 2008 at 9:15 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • awis.wisnedi — Salam kenal boss.. Mf terlambat bergabung ama forum ASIABLOGGING kebetulan saya juga warga JABABEKA Cikarang.Menurut saya Prospek usaha disini ...
  • ale-silver — yg saya tahu di rawa bening jatinegara jakarta timur perak murni di jual di kisaran 4400. kalau ada yang mau ...
  • trusti — R "Rencana pengampunan dan penghentian penyidikan atas kasus mantan Presiden Soeharto jelas mencederai rasa keadilan masyarakat dan melanggar prinsip equality in ...
  • eshape — Wah aku gak nonton tuh. Ada penonton lain yang mau ngasih komentar?
  • GODEX — MOKASIH YO......... GETS SPIRIT FOR BENGKO LAND SALAM TOBO KITO
  • trusti — kalau melihat debat di TV One kemaren yang temanya kontroversi iklan PKS, saya justru melihat PKS bukan partai cerdas, dangkal ...
  • eshape — semoga komentar-komentar ini memberikan manfaat bagi kita semua amin
  • Aisyah — Bagi saya PKS adalah Partai Kroninya Soeharto. Suharto dari mulai pengambil alihan kekuasaan sampai akhir ia menjabat tak luput dari kekerasan ...
  • Zihah — semoga Bapak Bupati Sinjai mau melanjutkan pembangunan pelabuhan lare-rea itu hingga benar-benar indah dan bermanfaat bagi warga sinjai maupun para ...
  • m.faisal — waduhh baru gw mau bikin penulisan feature tentang pasar tumpah di bekasi udah ada duluan tapi bener tuh bikin macet kalo ...