“Makan Mi’..!”
Membaca judul di atas orang tentu akan berpikir kalau itu bermakna mengajak orang untuk makan mie. Tapi coba ucapkan kalimat itu pada orang Sul-sel ato minimal orang yang tau logat lokal sini, ditanggung maknanya akan beda. Penggunaan partikel MI di belakang kata “makan” bagi orang Sul-Sel bermakna mempersilakan atau secara kasar menyuruh, jadi makna kalimat “makan mi” bagi orang Sul-Sel kurang lebih sama dengan “silakan makan”.
Logat dalam bahasa Indonesia orang Sul-Sel memang unik, penggunaan beberapa partikel di belakang kata-kata utama sangat memberi warna bagi bahasa itu sendiri. Kadang-kadang partikel itu sendiri agak sulit untuk ditentukan definisi khususnya, utamanya tentang penempatan partikel tersebut. Ambil contoh partikel MI di atas, dalam kalimat “makan mi”, partikel MI bermakna mempersilakan, tapi dalam kalimat lain, misalnya ” besar mi”, partikel mi berubah fungsi sebagai penegasan kalau orang/benda yang dimaksud telah besar (dewasa). Dalam kalimat lain, misalnya “jadi satumi” partikel MI kembali berfungsi sebagai penegasan jika benda/orang telah menjadi satu, beda dengan kalimat lain seperti “ambil mi” dimana MI berfungsi kembali untuk mempersilakan orang mengambil barang/benda. Cukup membingungkan, bukan?
Padahal itu baru satu partikel, masih banyak partikel lain yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia versi Sul-Sel, partikel itu adalah: PI,JI,KI,MO. Beberapa contoh penggunaannya adalah sebagai berikut:
- Partikel PI = “satu pi” (bermakna menegaskan kalau subjeknya masih kurang satu lagi),contoh yang berbeda: “malam pi” yang artinya kurang lebih “nanti malam”, biasanya dipakai untuk kalimat seperti “malam pi ko datang” (kamu datangnya ntar malam aja).
- Partikel JI = khusus pada partikel ini, maknanya kurang lebih sama dengan hanya,contohnya pada kalimat “satuji saya bawa” yang artinya kurang lebih “saya cuman bawa satu” (perhatikan tatanan penempatan kalimat yang agak berantakan..hehehe). Tapi kadang-kadang partikel ini juga bermakna menegaskan, misalnya pada kalimat ” besarji rumahnya ” yang artinya sama dengan ” rumah besar kok..”, wah anda mungkin makin bingung..
Sebagai info, Propinsi Sulawesi Selatan terdiri atas banyak suku yang berbeda dan kemudian digolongkan dalam 3 kelompok suku terbesar (dulunya ada 4 sebelum suku Mandar sekarang mayoritasnya berada dalam wilayah Sulawesi Barat). Suku-suku itu adalah : Bugis,Makassar dan Toraja yang ketiganya memiliki perbedaan mencolok dari segi bahasa daerah. Ketiga suku tersebut kemudian terpisah lagi dalam beberapa sub-suku yang lebih kecil. Suku Bugis misalnya, ada Bugis Bone (yg lingkup bahasa dan wilayahnya paling luas), bugis Sinjai dan beberapa sub suku Bugis lainnya yang kadang-kadang juga punya bahasa yang agak berbeda. Sementara suku Makassar terbagi atas beberapa sub suku yang lebih kecil yang mempunyai logat dan bahasa yang juga berbeda, misalnya daerah Bulukumba dan Selayar yang secara fisik dianggap suku Makassar namun memiliki bahasa daerah yang lumayan berbeda dengan bahasa Makassarnya orang Gowa dan Takalar.
Sebagai info lagi, sebuah kabupaten kecil sebelah utara kota Makassar bernama Enrekang terbagi atas 3 daerah berbahasa berbeda, sebelah selatan bahasanya mirip bahasa Bugis karena memang berbatasan langsung dengan daerah suku Bugis, bagian tengah berbahasa daerah sendiri, sementara bagian utara berbahasa daerah yang mirip bahasa Toraja karena memang berbatasan langsung dengan daerah Toraja. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya orang-orang di Sul-Sel kalau bahasa Indonesia tidak ada.
Bahasa Indonesia yang kemudian dipakai sebagai bahasa pemersatu kemudian ter-influence oleh bahasa daerah itu sendiri. Beberapa istilah bahasa daerah kemudian ikut mewarnai penggunaan bahasa Indonesia, di antaranya ya partikel-partikel itu tadi. Celakanya peleburan bahasa daerah ini ke dalam bahasa Indonesia juga mengacaukan susunan kalimat, merusak tatanan MD, Subjek Objek sehingga terkadang logat Sul-Sel terdengar sangat kacau. Dengarkan kalimat ini: “malam pi baru saya bawa bukumu nah..?”, yang dalam bahasa Indonesia yang benar kira-kira seperti ini ” bukumu aku bawa nanti malam saja ya ?”. kacau kan..?,hehehe..
Penggunaan bahasa Indonesia logat Sul-Sel ini juga terkesan sangat menghemat penggunaan kata,walaupun ya itu tadi,merusak tatanan bahasa yang benar. Sebagai contoh lagi: “kau mo yang bawaki” atau sama dengan kalimat ” nanti biar kamu aja yang bawa”..cukup hemat bukan ?,belum lagi bila diucapkan terkadang ada discount lagi menjadi ” ko mo yang bawaki “..terkesan males banget ya..?,hehehe..
Itu baru segelintir contoh-contoh dari uniknya bahasa Indonesianya orang Sul-Sel, sangat beragam dan kadang-kadang bagi orang luar Sulawesi jadi terdengar lucu. Tapi ya itulah keistimewaan Indonesia yang punya banyak keanekaragaman yang memperkaya khazanah budaya kita. Jadi,bila anda berkunjung ke Makassar jangan salah sangka bila ada orang yang berkata kepada anda “makan mi”,jangan sampai anda mengira ditawari makan mie..hehehe..
Makassar bisa tonji *
*: Makassar juga bisa, diambil dari judul lagu band lokal Art2Tonic, istilah ini cukup populer digunakan untuk membangkitkan fanatisme kedaerahan anak muda Makassar yang belakangan mulai sering sok ngomong pakai logat Jakarte.
Ditulis oleh Syaifullah Daeng Gassing dipublikasikan dengan seiijin penulis asli.



Ikuti diskusi Ada 15 komentar untuk artikel ini.
Adink
Kalo di kampungku (sidrap) adalagi tambahan partikel JE’
Trus soal ucapan kalimat yang banyak diskonnya, menurut Sy itu adalah cara orang kita menghemat energi. Secara style kita kalo bicara sukanya keras-keras
November 7th, 2007 at 11:11 am
mappe
To Adink… Kata je itu kadang juga berarti makanan di.. yang terbuat dari ketan di campur gula merah dan di bungkus daun jagung….
baje di diskon jadi je…. dalam rangka penghematan energy…..
Sebaiknya di galakkan di BAlikpapan biar gak sering mati lampu…( kok malah ngaco )…
He…he…
November 7th, 2007 at 11:54 am
daeng rusle
wah, daeng Gassing jadi pengamat bahasa makassar…he2
kuru sumange cappo, ini informasi yang sangat bagus, terutama buat rekan2 lain yg ingin belajar dan memahami dialek makassar
November 7th, 2007 at 11:57 am
Laksono
pertama kali datang ke makassar dan masuk rumah makan, pelayannya langsung tanya
“Kita Makan Apa?” temen2 yang sama saya pada bingung, koq “kita”? emang pelayan ini ikut makan??
hehe, sekarang masih sering senyum sendiri kalo ada yang tanya seperti itu
November 7th, 2007 at 12:32 pm
deen
klo okkots itu gimana?..
November 7th, 2007 at 1:24 pm
Rara
makan je’?? halah aneh rasanya..
makan mi’
ayo makan mi
*melapar*
*komen ndak penting
*kabuuurrr
November 7th, 2007 at 1:51 pm
Sukri Sulaiman
Tulisan ini sangat bagus sekali … trus kembangkan daeng Gassing, semoga teman2 yang lain bisa ikut memberikan sumbangsih disini … salut buat dg.Gassing & P’ Amril TG . Sukses ya
*Mencari bahan tuk nulis juga
*he he he
November 7th, 2007 at 4:14 pm
Mus_
kalau di kampungku, balikpapan, ngomongnya “Makan, sudah!”
hahahahaha… agak lucu juga, kan belum dimakan, tapi sudah dibilang ’sudah’.
November 7th, 2007 at 5:31 pm
hammy
tapi…..kata teman saya logat makassar boros.
contoh.
” nanti-pi beso` kuantarkan-ki buku-ta ” (besok saya antarkan bukunya).
” sebentar malam-pi baru-ka bisa bawa-i poto-kopi ” (nanti malam baru bisa saya copy).
tabe`.
HM
November 8th, 2007 at 12:11 pm
hammy
buat rara n adink’
kalau : “makan-mi” bisa diartikan; ayo dimakan,
“makan-mi`je” berarti; ayo dimakan saja,
“makan-je`” berarti; makan saja.
mana yang sopan ya?
barangkali “makan ma-ki`di” (mari, silakan makan)
tabe`
HM
November 8th, 2007 at 1:30 pm
Dungu tak berarti Idiot — Makassar
[…] struktur bahasanya sangat kacau, tapi di sinilah letak keunikannya. (Baca tulisan ipul berjudul “Makan mi!”) Mendengar kata dungu di atas, orang luar yang tidak terbiasa dengan logat Makassar kemungkinan […]
November 9th, 2007 at 4:33 pm
Ina
walah…ada makanG - makanG disini.
*serbuuuu…
November 10th, 2007 at 12:56 pm
anbhar
mantap “mentong”
November 11th, 2007 at 9:41 pm
JaF
Dg Gassing,
Tolong ki bahas juga penggunaan kata “kodong”..
Secara baru mulai mencoba berlogat lagi.. Kadang2 malu ka karena salah menempatkan ‘kodong’ nya kodong
hehehe
November 14th, 2007 at 3:55 pm
achie
pertama kali belajar bahasa makassar …
saya juga rada puyeng loh …
soalnya banyak imbuhannya …
kekekekekeke …
untung sekarang udah bisa …
August 5th, 2008 at 4:05 pm