You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Makan tanpa ikan, berarti belum makan..

Makan tanpa ikan, berarti belum makan..

ipul — November 20, 2007 / 11:02 am

 Pallumara bandeng, salah satu olahan ikan khas Bugis Makassar

“ Makassar ya Mas ?, adduh aku pernah ke sana. Hidangannya tiap hari ikan, aku sampai tidak doyan makan “, demikian salah satu komentar di blog saya sewaktu saya menulis tentang makanan khas Makassar. Ada semacam pameo bahwa orang Bugis Makassar memang tidak bisa dipisahkan dengan ikan.

Ikan dan berbagai jenis olahannya memang menjadi santapan khas Bugis Makassar. Makan tanpa ikan ibaratnya belum lengkap, bahkan terkadang dianggap belum makan. Setiap hari di meja makan sebagian besar orang Bugis Makassar bisa kita temukan binatang laut ini terhidang. Tak peduli dibakar, dimasak, atau digoreng. Yang penting makan harus dengan ikan.

Hal ini mungkin sedikit banyaknya terkait dengan kondisi geografis kota Makassar dan sebagian besar kota-kota di propinsi Sul-Sel yang berada di garis pantai sehingga tak pelak lagi ikan serta berbagai hasil bumi dari laut menjadi santapan utama. Hal ini berlaku pula untuk tempat-tempat yang jauh dari pantai atau laut. Ikan air tawar yang hidup di sungai, danau atau empang menjadi pilihan utama.

Tak sulit mencari warung makan yang menjadikan ikan sebagai menu utama. Ikan bakar adalah salah satu primadonanya. Berbagai jenis ikan ditawarkan. Mulai dari ikan air payau sebangsa bandeng (di Makassar namanya ikan Bolu), hingga ikan air asin yang berbadan cukup besar sebangsa ikan Kakap, ikan Baronang, atau ikan Sunu. Kitapun tidak harus merogoh kantong dalam-dalam. Untuk warung sekelas pinggir jalan, cukup Rp. 5.000,- rupiah, hidangan ikan yang lezat bisa mengganjal perut.

Ada yang berbeda dengan ikan-ikan laut tangkapan nelayan Sulawesi Selatan. Rasa dan aroma ikannya boleh dibilang masih sangat berkualitas. Dagingnya lebih empuk bila dibandingkan berbagai jenis ikan di pulau Jawa.

Hidangan ikan di kota Makassar boleh dibilang kurang bumbu. Untuk ikan yang dibakar, bumbu utamanya paling hanya irisan cabe yang dibakar bersama ikannya. Atau kadang malah tidak dibumbui sama sekali, hanya minyak kelapa yang dioles ke tubuh sang ikan saat berada di atas pemanggangan.

Hidangan yang cukup terkenal adalah ikan Pallumara, dalam bahasa Makassar artinya “masak kering”. Ikan yang diolah dengan cara dimasak ini hanya dibumbui dengan garam, kunyit dan asam untuk menghilangkan amis. Tambahan lainnya paling-paling hanya belimbing sayur plus tomat atau cabe. Itupun sudah sangat menggoda selera para pecinta ikan, apalagi bila ditemani nasi putih yang mengepul serta sayur bening atau sayur santan yang juga masih hangat. Hmmm….ditanggung bisa lupa utang..

Bila ingin merasakan ikan goreng, tak perlu susah-susah. Ikan yang sudah dibersihkan cukup direndam sebentar di dalam campuran asam jawa dan garam. Kalau bumbunya sudah meresap, silakan masukkan ke wajan berisi minyak goreng. Tunggu sampai garing kalau memang anda suka yang garing-garing. Habis itu ya silakan dinikmati..simpel dan sama sekali tidak merepotkan.

Ada yang bilang kualitas ikan di perairan sekitar pulau Sulawesi dan pulau-pulau lainnya di Indonesia bagian timur relatif masih bagus karena lautnya yang masih belum tercemar limbah industri. Benar atau tidaknya mungkin masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Tapi sejauh ini sudah banyak kenalan saya yang datang dari Jawa terheran-heran dengan cara orang Bugis Makassar mengolah ikan dengan bumbu yang minimalis tapi dengan hasil yang maksimalis.

Tips untuk anda, bila sempat adalah lebih asyik menikmati ikan bakar di tepi pantai dengan ditemani semilir angin yang berhembus. Lebih asyik lagi bila ikannya adalah ikan yang baru dijemput dari nelayan yang baru berlabuh.

Ikan cukup dibakar saja dengan tambahan olesan minyak kelapa atau minyak goreng, kemudian santap dengan nasi putih tanpa sayur. Sambalnya pun sederhana, cukup dengan tomat, cabe seperlunya, garam, sedikit gula pasir dan kecap dicampur air. Dengan semilir angin laut di tepi pantai, saya yakin rasa nikmatnya akan benar-benar terasa. Beberapa orang malah lebih memilih makan ikan dan sambal saja tanpa nasi, rasanya juga sama nikmatnya.

Jadi kalau anda penggemar ikan, sempatkanlah berkunjung ke Makassar dan nikmati beragam olahan ikan dari kota Anging Mammiri.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 8 komentar untuk artikel ini.

  1. Amril Taufik Gobel

    Wow..gambar ikan Pallumara-nya bikin saya ngiler. Nanti kalo ke Makassar tanggal 25 November mesti makan Pallumara’ ah!. Thanks Ipul atas tulisannya yg langsung membuat perut saya keroncongan disiang hari bolong ini..hehehe

    November 20th, 2007 at 11:24 am

  2. mappe

    Pallumara, pallukaloa, Palluce’la, pallubasa, pallubutung, edede….. di jamin bikin battala

    November 20th, 2007 at 1:56 pm

  3. Sukri Sulaiman

    Mantaf … dari penggambaran tulisan diatas membuat hati tambah rindu akan makanan tersebut dan rindu semua suasana dikampung halaman. Jujur sudah lama sekali tidak merasakan makan di sari laut losari beach. Buat dg.Ipoel … selamat bagus tulisan ta

    November 20th, 2007 at 4:59 pm

  4. Akhmad

    Ihh …. rinduku pulang ke makassar … Makan ikan bakar ….. Thanks Daeng Ipul

    November 20th, 2007 at 11:51 pm

  5. rizal

    bukan cuma ikan jenis seafoodnya makassar. Banyak juga kepiting, udang, ikan jappang…(mmm mmm nyam nyam)

    November 21st, 2007 at 8:15 am

  6. ir1uno

    tau ndak kenapa dikasi nama ‘Pallumara’? Liatmi itu ikannya sampe kuning begitu gara-gara dimarai waktu nipallui….salam kenal semua

    November 26th, 2007 at 12:41 pm

  7. meiditami

    Saking ikan mania-nya itu orang di Makassar, kalo terdampar di propinsi yang tidak ikan mania kayak Jateng, tojeng2, merana na. Waktu pertama sa di Jogja, sa suka merasa kehilangan atmosfer makan yang baik dan bener (menurutku). Lele paling familiar di Jogja. Sementara orang2 dari Makassar cenderung mencibir pada si Lele. Mungkin karena Lele dianggap berada pada kasta paria perbendaharaan ikan orang2 Mks, hehehehehe.

    Top banget deh.
    Sa rindu pallumara ces. Tojeng2 ka.

    January 2nd, 2008 at 10:25 pm

  8. rahmat

    wah… betulki bos… namanya orang bugis kalo belum makan bale belum makan namanya, spertimi saya inikodong yang tinggal di kab.tabalong kalimantan selatan, sesssa sekalika cari ikan laut, yang ada cuma ikan balebalang yang jadi favorit orang banjar, kalo dimakassar tidak dibati-bati kodong. (ugis-makassar society of tabalong), itumi nabilang orang merana

    February 14th, 2008 at 2:05 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • awis.wisnedi — Salam kenal boss.. Mf terlambat bergabung ama forum ASIABLOGGING kebetulan saya juga warga JABABEKA Cikarang.Menurut saya Prospek usaha disini ...
  • ale-silver — yg saya tahu di rawa bening jatinegara jakarta timur perak murni di jual di kisaran 4400. kalau ada yang mau ...
  • trusti — R "Rencana pengampunan dan penghentian penyidikan atas kasus mantan Presiden Soeharto jelas mencederai rasa keadilan masyarakat dan melanggar prinsip equality in ...
  • eshape — Wah aku gak nonton tuh. Ada penonton lain yang mau ngasih komentar?
  • GODEX — MOKASIH YO......... GETS SPIRIT FOR BENGKO LAND SALAM TOBO KITO
  • trusti — kalau melihat debat di TV One kemaren yang temanya kontroversi iklan PKS, saya justru melihat PKS bukan partai cerdas, dangkal ...
  • eshape — semoga komentar-komentar ini memberikan manfaat bagi kita semua amin
  • Aisyah — Bagi saya PKS adalah Partai Kroninya Soeharto. Suharto dari mulai pengambil alihan kekuasaan sampai akhir ia menjabat tak luput dari kekerasan ...
  • Zihah — semoga Bapak Bupati Sinjai mau melanjutkan pembangunan pelabuhan lare-rea itu hingga benar-benar indah dan bermanfaat bagi warga sinjai maupun para ...
  • m.faisal — waduhh baru gw mau bikin penulisan feature tentang pasar tumpah di bekasi udah ada duluan tapi bener tuh bikin macet kalo ...