You're here: My City Blogging » Makassar » Article: MFS 2000, Mencetak Pesepakbola Handal Makassar

MFS 2000, Mencetak Pesepakbola Handal Makassar

Amril Taufik Gobel — November 21, 2007 / 8:37 am

bz!Blogaraga

Kota Makassar, sejak era trio PSM : Ramang, Nursalam, dan Suardi Alam, tidak pernah berhenti menelurkan bakat-bakat sepakbola Nasional. Hingga kini, tidak ada penggemar sepakbola nasional yang tidak mengenal Syamsul Bachri Haeruddin dan Syamsidar sebagai pemain sepakbola andalan PSM Makassar dan Tim Nasional Indonesia di berbagai kompetisi.

Adalah wajar jika ibu kota Sulawesi Selatan ini tidak pernah berhenti mencetak pesepakbola handal nasional. Selain memiliki warga yang memiliki minat yang sangat besar pada sepakbola, kota Makassar juga memiliki Lapangan Karebosi, yang selain sebagai alun-alun kota, juga adalah sebagai pabrik calon-calon pesepakbola handal.

Sejak matahari baru membagikan sedikit sinar paginya di kota Makassar, Karebosi sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk memainkan bola. Entah itu hanya sekedar sesekali menonton atau menendang bola, atau juga yang serius mengikuti latihan di beberapa sekolah sepakbola. Hingga malam menjelang, masih saja Karebosi tidak berhenti menyajikan pemandangan tentang orang-orang yang sibuk berlari kesana-kemari dengan bola di antara mereka.

Selain digunakan oleh klub sepak bola PSM Makassar sebagai tempat latihan utama, Lapangan yang terletak tepat di titik nol kilo meter kota Makassar ini juga digunakan sebagai base camp dan tempat latihan oleh beberapa sekolah sepakbola. Beberapa sekolah sepakbola resmi terdaftar sebagai pengguna tetap Lapangan Karebosi, di antaranya Persis dan Makassar Football School (MFS) 2000 dan beberapa sekolah sepakbola lainnya.

Keberadaan sekolah sepakbola ini tentu menjadi nilai paling positif dari pemanfaatan dan fungsi Lapangan Karebosi. Keberhasilan beberapa sekolah sepakbola ini dalam mendidik anak-anak usia dini dan remaja tentang sepakbola menjadi kunci utama lahirnya bakat-bakat baru insan sepakbola Makassar khususnya dan Tanah Air.

Piala Dunia Junior

Makassar Football School (MFS) 2000 misalnya, sebagai sekolah sepakbola yang didukung langsung oleh pemerintah kota Makassar, sekolah sepakbola paling ternama di kota Anging Mammiri ini telah melahirkan pemain-pemain sepakbola handal. Salah satu yang paling kita kenal adalah Syamsul Haeruddin. Kapten termuda dalam sejarah PSM Makassar ini adalah alumnus MFS 2000 binaan Diza Rasyid Ali. Setelah 3 tahun dididik di MFS 2000, Syamsul Haeruddin direkrut oleh PSM Makassar, kemudian menjadi pemain inti klub, dan kini menjadi salah satu andalan Tim Merah Putih.

Selain itu, sekolah sepakbola ini juga mempunyai prestasi fenomenal di tingkat nasional dan internasional. Di tingkat nasional, mereka adalah penguasa Turnamen Piala Danone Indonesia. Di antaranya adalah pada tahun 2005, MFS 2000 keluar sebagai juara setelah pada partai final yang dilangsungkan di Stadion Sumantri Brojonegoro Kuningan, Jakarta, Minggu 26 Juni lalu, anak-anak MFS 2000 mampu mengalahkan tim dari Jawa Timur dengan skor tipis 1-0. Hasil ini mengantarkan MFS 2000 kembali menjadi wakil Indonesia ke Piala Dunia Junior Danone 2005 setelah pada tahun sebelumnya mereka juga menjadi wakil Indonesia di ajang yang sama.

Lalu bagaimana dengan prestasi bertaraf Internasional? Di berbagai ajang yang mereka ikuti, MFS 2000 telah beberapa kali mengharumkan nama bangsa. Di antaranya adalah pada tahun 2004 di kejuaraan Piala Dunia Danone di Perancis, MFS 2000 berada di urutan 26 dari 32 peserta dari seluruh dunia. Hasil yang tidak begitu mentereng memang, namun pada event yang baru pertama kali mereka ikuti ini mereka mampu mengalahkan tim-tim besar eropa, seperti Inggris, tuan rumah Perancis, dan Polandia. Dan lebih membanggakan lagi, pada event ini mereka juga mendapatkan predikat sebagai tim dengan kekompakan terbaik. Salut.

Keberhasilan menembus kejuaraan dunia tahun 2004 berulang di tahun berikutnya. Setelah menjuarai turnamen Danone Indonesia di tahun 2005, MFS 2000 kembali berhak mendapatkan tiket untuk mengikuti Kejuaraan Dunia U-12 di Lyon, Perancis. Dan lebih baik dari hasil di tahun sebelumnya, di turnamen ini anak-anak MFS 2000 berhasil menduduki peringkat 10 dunia, 16 peringkat lebih baik dari tahun sebelumnya, dan berhasil meraih penghargaan sebagai tim dengan serangan terbaik (best attack) karena dari 32 negara peserta, anak-anak Makassar menjadi tim dengan produktivitas gol terbaik, dan berhasil memecahkan rekor gol selama penyelenggaraan piala dunia junior, yaitu 24 gol. Dan Irvin Museng, striker andalan mereka memperoleh penghargaan sebagai striker terbaik dan top scorer dengan 10 gol.

Dan pada akhir Juli 2006, pada Festival U-12 Internasional Danone Cup, MFS 2000 kembali menjadi wakil Indonesia. Lebih hebat dari tahun-tahun keikutsertaan mereka sebelumnya, MFS kembali mengharumkan nama bangsa setelah berhasil mengalahkan tim-tim besar eropa dan asia, dan kemudian berhasil menduduki peringkat 4 dunia. Selain itu, mereka juga mendapatkan penghargaan sebagai tim dengan pertahanan terbaik (best defence) setelah hanya kebobolan 1 gol.

Prestasi tingkat internasional yang berhasil MFS 2000 dapatkan tidak berhenti di situ saja. Di awal September 2006, sekolah sepakbola yang dipimpin oleh Diza Rasyid Ali ini mendapatkan undangan khusus untuk mengikuti Holland Cup di Amsterdam. Dan tidak tanggung-tanggung, prestasi yang didapatkan anak-anak Makassar ini : Runner Up, dan hanya kalah melalui adu penalti dari Irlandia di babak Final.

Dari Karebosi, sampai Ajax Amsterdam : Dari Lampu Merah hingga Paris, Perancis Setiap tim-tim besar dunia selalu memiliki pemain yang menjadi maskot timnya. Raul Gonzales adalah maskot Real Madrid, Paolo Maldini adalah maskot AC Milan, dan Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo adalah maskot dari tim Manchester United. MFS 2000 juga memiliki pemain yang menjadi maskot tim. Dan pemain itu adalah Irvin Museng.

bz!BlogaragaPemain yang 2 kali membawa MFS ke putaran piala dunia junior ini adalah kunci permainan tim MFS 2000. Bersamanya MFS 2000 berhasil menjadi tim paling kompak di tahun 2004. Dan pada tahun berikutnya, berkat tambahan 10 golnya di ajang Piala Dunia Danone, ia berhasil mencatatkan rekor gol piala dunia junior untuk tim Indonesia (24 gol) dan menjadikan Indonesia sebagai tim tersubur sedunia. 10 gol yang berhasil diciptakannya di ajang ini juga mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak dan striker terbaik.

Prestasi ini tidak pelak lagi membuatnya dilirik beberapa klub ternama dunia. Ajax Amsterdam (Belanda) kemudian resmi memanggilnya untuk mengikuti seleksi masuk Akademi Sepakbola Ajax. Suatu penghargaan yang luar biasa membanggakan bagi Indonesia, karena pengguna nomor punggung 10 di MFS 2000 ini adalah satu-satunya wakil dari Asia yang dipanggil mengikuti seleksi.

Setelah melalui seleksi yang ketat, kini putra Makassar berusia 13 tahun ini resmi berlatih di Akademi Sepakbola Ajax. Dan ketika ditanya apa harapannya kelak, ia hanya berujar, “Saya ingin main di Tim Nasional jika nanti dibutuhkan.”

Nasib beruntung lain diterima Abanda. Berbeda dengan Irvin Museng, pemain MFS 2000 yang berposisi sebagai stopper ini hingga kini masih berlatih seperti biasanya di Lapangan Karebosi.

Bakat sepakbola yang dimilikinya telah mengubah nasibnya. Siapa sangka, Abanda yang di rumahnya akrab disapa dengan sebutan Aco ini dulunya adalah pengemis jalanan dan tinggal di pemukiman kumuh khusus penderita kusta.

Menurut pengakuan Daeng Halimah, nenek Abanda, remaja kelahiran 24 April 1994 ini sudah mengemis sejak berusia belum sebulan. Dengan digendong sang kakak, menghampiri setiap pete-pete (angkutan kota) yang berhenti di perempatan untuk mengemis uang receh penumpang. Hingga usia sekolah dasar, Abanda masih juga rutin menjalani pekerjaannya tersebut setiap hari untuk membayar hutang sang nenek dan membayar biaya sekolah.

bz!BlogaragaAbanda tidak sekalipun membayangkan akan bermain bersama anak-anak lainnya di MFS 2000. Mahalnya biaya masuk dan iuran bulanan membuatnya tidak berani memimpikannya. Namun berkat bantuan teman baiknya, Herli, Abanda akhirnya bisa ikut berlatih di sekolah sepakbola di MFS 2000. Uniknya, hal ini dikarenakan Herli yang ngambek, tidak mau masuk MFS 2000 jika Abanda juga tak ikut. Abanda tentu tak mungkin mendapatkan uang lima ratus ribu rupiah. Herli membujuk ayahnya untuk membiayai Abanda. Dan ayah Herli, yang juga adalah salah seorang anggota DPRD Sulsel, menyanggupi permintaan anaknya. Dan akhirnya Abanda masuk, dan diterima sebagai siswa MFS 2000.

Bersama Herli, Abanda menjadi pemain MFS 2000 untuk kompetisi Liga Danone 2005 di Jakarta. Posturnya yang tinggi membuat Ahmad Palolo, pelatihnya memposisikan Abanda sebagai stopper. Dan keputusan ini tidak salah. MFS 2000 menjadi juara di Jakarta, dan pada Kejuaraan Dunia Danone di Perancis, berkat penjagaan pertahanan yang dimotori Abanda, Indonesia berhasil memperbaiki prestasi yang mereka raih di tahun sebelumnya.

Berkat prestasi yang ditorehkannya, Abanda diangkat sebagai anak oleh Diza Rasyid Ali, manajer Makassar Football School 2000. Dan kini ia menempati sebuah bangunan di salah satu sudut selatan Lapangan Karebosi, tidak jauh dari tempat latihan MFS 2000.

Berkat bakat besarnya, nasib Abanda kini berubah. Ia tak perlu lagi turun ke jalan mengemis uang logam untuk membeli makan, membayar hutang neneknya dan membiayai sekolahnya. Oleh ibu angkatnya, ia disekolahkan di SMP Nasional Makassar, di Jl. Ratulangi. Kini ia hanya perlu berkonsentrasi untuk sekolah, menyelesaikan tugas sekolah, dan berlatih sepakbola. Benar-benar bakat yang mengubah segalanya.

Sementara itu, di sudut Lapangan Karebosi, ‘Irvin Museng-Irvin Museng’ lain sedang berlatih menendang bola dan mencetak gol untuk mencoba mengharumkan nama bangsanya, dan ‘Abanda-Abanda’ lain sedang belajar mendrible bola untuk mengubah nasib hidupnya masing-masing. Dan bersama giringan-giringan bola itu, bintang-bintang baru tidak pernah berhenti terbit dari Lapangan Karebosi.

Ditulis oleh : Mohammad Mustamar Natsir a.k.a. Mus_/Profmustamar)

Tulisan diatas juga sudah pernah dimuat di Majalah Online Blogfam dan beberapa topik tentang Abanda pada tulisan ini diambil berdasarkan tulisan M. Aan Mansyur berjudul Bola Nasib Abanda di Panyingkul dot com.

Tulisan ini dipublikasikan kembali atas izin penulisnya. Foto-foto dibuat oleh Mus.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Citilink Garuda

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ristianto "cnyo" — saya merupakan penduduk yang lahir,tumbuh dan berkembang di surabaya,memang benar adanya kalau eksisaensi budaya yang ada di sby kini terancam ...
  • » Padang Butuh Waktu 5 Tahun Untuk Pulih ~ Blog Archive ~ Padang (Asia Blogging Network) — [...] Gempa yang melanda Padang beberapa waktu lalu ternyata cukup dahsyat dan merusak. Setidaknya butuh waktu 5 tahun hingga didapat ...
  • Ingrid — Bantuan dari WSI ini akan disalurkan melalui Habitat for Humanity Indonesia, NGO yang memang membangunkan rumah & sekolah bagi korban ...
  • garagara — tetap waspada, sebb kita tidak bs memprediksi kondisi alam. semoga Tuhan tdk memberi cobaan yg lebih berat lg kepada kita.
  • » Rp 200 Miliar Untuk Rekonstruksi Pascagempa ~ Blog Archive ~ Padang (Asia Blogging Network) — [...] Sumbar mengeluarkan dana hingga Rp 200 miliar untuk membantu dana pemulihan dan rekonstruksi pasca gempa dan tanah longsor yang ...
  • hery — thx... untuk info2 nya....
  • hery — hmm..........
  • fajar — smoga memang pilihan yang terbaik
  • fajar — trim's infonya
  • afrizal — Pemilihan Beliau Saya fikir cukup tepat, Karana beliau adalah pekerja yang ulet dan fisioner apalagi beliau telah berhasil meng efisienkan ...