You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Coto Makassar, primadona di kota Daeng
Jam 10 di pagi hari saat perut mulai keroncongan sementara waktu makan siang masih lama, kira-kira makanan apa yang ada di benak anda yang cocok untuk jadi pengganjal perut sampai tiba waktu makan siang ?. Kalau anda sedang berada di Makassar dan kebetulan sedang mengalami situasi seperti itu, maka sepertinya Coto Makassar menjadi salah satu pilihan yang tepat.

coto Makassar, ketupat, jeruk nipis dan sambal, paduan tepat untuk mengisi perut
Sebagai makanan khas kota Makassar, coto memang selalu menjadi primadona pengganjal perut di saat sedang lapar. Walaupun kandungannya berat namun seringkali Coto Makassar “hanya” dijadikan sebagai makanan paruh waktu antara sarapan dan makan siang, atau antara makan siang dan makan malam.
Tidak ada catatan resmi sejak kapan Coto Makassar ditemukan serta siapa yang pertama kali menemukan serta memperkenalkannya. Saat ini orang hanya tahu kalau Coto adalah hidangan khas Makassar. Sebagian besar pedagang Coto adalah warga Sul-Sel yang berasal dari suku Makassar, hingga muncul dugaan kalau Coto memang adalah makanan khas suku Makassar.
Bahan dasar coto adalah jeroan sapi, biasanya berisi hati, limpah, jantung, usus dan daging. Di daerah Jeneponto, daging sapi digantikan dengan daging kuda, bahkan di beberapa tempat ada juga Coto dari daging ayam, walaupun sangat jarang. Bahan-bahan jeroan dan daging tersebut direbus terlebih dahulu hingga lunak. Selanjutnya saat akan disajikan, bahan-bahan tersebut dicampur dengan kuah yang dimasak di tempat terpisah. Daging dan jeroan yang sudah direbus biasanya masih menggumpal dalam jumlah yang besar sebelum kemudian dipotong kecil-kecil sesuai pesanan.
Kuah Coto umumnya berwarna coklat tua, namun ada juga yang berwarna putih. Kuahnya adalah campuran dari rempah-rempah semacam sereh, lengkuas, kemiri, bawang, dll yang kemudian ditambah gilingan kacang tanah yang sudah digoreng. Bahan-bahan kuah ini kemudian dimasak di dalam panci yang terbuat dari tanah liat. Panci dari bahan tanah liat ini dipercaya dapat menambah kekuatan rasa dari kuah Coto. Kuah Coto memegang peranan penting dalam menentukan enak tidaknya sebuah Coto Makassar. Tidak heran bila beberapa penjual Coto ternama memiliki rahasia khusus dalam meracik kuah tersebut.
Pasangan sejati dari Coto adalah ketupat. Tak lengkap rasanya makan Coto kalau tanpa ketupat, dan rasanya akan berbeda bila ketupat tersebut diganti dengan nasi atau lontong, walaupun sama-sama dari beras. Ketupat biasanya dibungkus dengan janur atau daun kelapa, tapi ada pula yang membungkusnya dengan daun pandan. Khusus untuk yang dibungkus dengan daun pandan, aromanya menjadi khas dan bisa membangkitkan selera. Saat ini penggunaan daun pandan sebagai pembungkus ketupat sudah sangat berkurang karena jenis tumbuhan ini juga sudah semakin sedikit jumlahnya.
Saat memasuki sebuah warung Coto, anda punya hak untuk memilih isi dari Coto yang anda pesan. Anda bisa memesan Coto yang hanya berisi Hati, Limpah dan Jantung (biasa disingkat Halija) atau Hati dan daging, atau Hati saja. Pilihan ada pada anda. Bila tidak memesan khusus, maka Coto yang datang adalah Coto campur, berisi campuran berbagai bahan-bahan dasar jeroan tadi. Jeroan yang sudah dicampur dengan kuah tadi kemudian ditambah dengan potongan daun seledri dan daun bawang beserta taburan bawang goreng. Jumlahnya bisa disesuaikan dengan selera.
Sebelum menyantap Coto, ada beberapa “ritual” yang biasanya dilakukan. Ritual tersebut adalah menambahkan beberapa elemen untuk menambah rasa. Yang tidak bisa dilepaskan adalah jeruk nipis. Jeruk nipis adalah sahabat karib hampir semua makanan khas Sulawesi Selatan, mulai dari Coto, Sop Saudara, Sop Konro, hingga ikan bakar. Tanpa jeruk nipis, rasa Coto tidak akan sempurna. Selanjutnya adalah menambahkan sambal sesuai selera dan kemudian ditutup dengan kecap manis, terserah pada selera anda. Kalau kurang asin, anda bisa menambah garam yang pasti selalu tersedia di warung Coto. Bila rasanya sudah pas, silakan menyantap semangkuk Coto bersama ketupatnya.
Di Makassar, Coto disajikan dengan harga yang beragam. Dari mulai Rp. 3.500,- per mangkuk hingga Rp. 7.000,-, tergantung kelas si pedagang. Beberapa pedagang Coto yang paling terkenal seperti Coto Gagak, Coto Latimojong dan Coto Paraikatte biasanya sudah dipadati pengunjung sejak pagi hari sekitar pukul 7. Warung-warung Coto ini biasanya buka hingga malam. Ada juga beberapa warung yang mengambil spesialisasi buka di malam hari hingga pagi hari tiba, namanya Coto Bagadang (begadang). Waktu yang paling tepat untuk menyantap Coto memang adalah di pagi hari hingga siang hari, atau malam hingga tengah malam. Tapi itu bukan patokan utama, karena Coto sebenarnya bisa disantap kapan saja.
Karena bahan dasarnya yang berasal dari jeroan sapi berserta dagingnya, maka Coto sangat tidak dianjurkan untuk anda yang menderita tekanan darah tinggi, asam urat, kolesterol dan penyakit jantung. Kalau porsinya sedikit dengan rentang waktu yang tidak kerap, maka mungkin anda bisa saja mencobanya. Tapi kalau keseringan dan porsinya banyak, maka bahaya serangan penyakit-penyakit tersebut pasti akan mengintai. Coto juga tidak disarankan untuk anda yang sedang menjalani program diet, kandungan lemak yang tinggi pasti bisa membuat diet anda sia-sia.
Tapi saya tidak yakin kalau aroma Coto bisa membuat anda tahan akan godaannya, jadi kalau cuma sekali-sekali dan porsinya tidak berlebihan bolehlah Coto Makassar menjadi pililhan anda mengisi perut yang sedang keroncongan. Jadi, sempatkanlah untuk mencicipi Coto Makassar, sang primadona di tanah para daeng. Tapi ketagihan adalah di luar tanggungan saya lho..
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 11 komentar untuk artikel ini.
Amril Taufik Gobel
Ipul, postingmu ini sungguh menggugah selera untuk menyantap coto makassar. Sampai ketemu di Makassar ya dan Awas..anda mesti temani saya makan coto…hehehe
November 23rd, 2007 at 7:39 am
naw!r gan!
betul itu pak amril, saya saja bacaki ini postingan,air liur ku jadi menetes, jadi ngiler ka’ kodong, rindu lagi bisa makan coto di makassar…
November 23rd, 2007 at 6:23 pm
Ina
Nikmatnya bisa makan coto bersama-sama.
November 25th, 2007 at 11:09 am
fiuz
hai saya fius saya mau tahu cerita tentang coto
January 23rd, 2008 at 9:49 pm
rahmat
my coto makassar is the best food ever in my life
February 14th, 2008 at 2:13 pm
irfan
benar, itu adalah bu,bu coto makassar. namun saya pernah coba coto makassar yang betul-betul enak. bahkan lebih enak daripada coto yang ada di mal ambasador jakarta. rasamya asli seperti berada di makassar. nama warungnya adalah coto makassar bu tati di taman narogong indah bekasi. sesama turis kuliner, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi yang lainnya. silahkan mencoba
July 30th, 2008 at 9:46 am
irfan
oh iya, saya punya nomor HP salah satu manajernya : “Daeng Gun” (081804193872). pasti ketagihan…
July 30th, 2008 at 9:48 am
ty
Bagi resepnya donk cara bikin coto makassar…
makasih.
July 31st, 2008 at 12:08 pm
James Anthony
salam kenal om…
saya mahasiswa perantau di pulau Jawa
liat makanan khas Makassar, jadi ingat kampung halaman…:-)
salam….
August 24th, 2008 at 11:19 pm
dedyisn
Jadi lapar
eit Puasa
September 2nd, 2008 at 8:02 am
darwis kadir
maunya sih makan sekarang,krn baru baca perut keroncongan,tapi lagi puasa, alaaaaamaakkk,ntar malem aja dah………
September 13th, 2008 at 8:07 am