You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Akulturasi Haji Masyarakat Bugis Makassar

Akulturasi Haji Masyarakat Bugis Makassar

daengrusle — December 14, 2007 / 12:56 pm

 haji-zamzam-dan-keluarga-yg-akan-berangkat.JPG Gambar: Jemaah Haji asal Bugis Makassar

Dalam kultur sebahagian masyarakat Bugis-Makassar atau Nusantara, gelar haji yang diperoleh setelah menunaikan ibadah haji itu dianggap sebagai sebuah gelar prestise yang menunjukkan status sosial di masyarakat yang ‘lebih’ dibanding yang lain. Status sosial ini tidak saja karena tuntutan para alumnus ibadah haji, tapi dielaborasi justru karena adanya penghargaan yang disematkan oleh masyarakatnya.

Penghargaan ini terlebih dikarenakan untuk menunaikan ibadah haji itu perlu pengorbanan yang besar; waktu, harta dan kadang nyawa. Apalagi di jaman dulu sebelum transportasi semudah jaman sekarang, menunaikan ibadah haji teramat sulit dan lama. Memerlukan ketahanan dan kesabaran untuk mengarungi lautan luas dan ganas selama 3-6 bulan untuk sampai ke sana. Kalau sekarang, hanya 8-10 jam saja naik pesawat terbang sudah cukup memindahkan badan dari tanah air ke tanah suci sana.

Selepas berhaji di tanah suci, dalam kultur bugis/makassar ada semacam ritual wisuda yang dinamakan ‘mappatoppo’ haji, dengan penyematan songkok/kopiah haji dan gamis panjang berwarna putih yang dilakukan oleh syekh atau ulama yang disegani. Di jaman dulu, orang Bugis-Makassar yang belum menunaikan ibadah haji, akan malu dan segan mengenakan songkok putih karena masyarakat tahu dan akan mencibir kalau pada kenyataannya yang bersangkutan belum pernah naik haji. Orang ini akan dikatakan sebagai haji palsu, atau diolok-olok dalam bahasa bugis sebagai haji tallattu’. Sebaliknya, orang yang sudah pernah naik haji terkadang tidak mau melepas songkok putihnya lagi apabila bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya, agar supaya identitas ke-hajinya tetap melekat. Untuk yang perempuan, biasanya disimbolkan dengan kerudung kepala yang dipuntir mengelilingi tepi rambut dan dipasangi manik-manik atau hiasan berwarna emas atau perak.

Orang yang sudah berhaji, biasanya akan mendapat tambahan gelar haji di depan namanya, dan dengan demikian akan mendapat panggilan atau sapaan ‘haji’ atau ‘hajjah’ menggantikan atau menambahkan nama yang bersangkutan. Misalnya Haji Andi Sultan Daeng Raja, untuk menyebut salah satu pahlawan nasional berdarah Bugis yang pernah melaksakan ibadah Haji. Ada aturan tidak tertulis, bahwa sangat tidak sopan apabila menuliskan nama seseorang yang sudah berhaji tanpa menyebut gelar haji itu seperti dalam undangan. Kelupaan menulis gelar haji, bisa berakibat fatal; yang bersangkutan akan merasa tidak dihargai (ifaleppei siri’na) dan akan merenggangkan hubungan sosial diantara keduanya.

Uniknya juga, dalam prosesi lamaran pernikahan dalam budaya bugis makassar, faktor ke-haji-an kerap menjadi penentu dalam menetapkan uang panaik atau dui’menre’ atau uang mahar bagi mempelai perempuan. Calon pengantin perempuan yang sudah bergelar ‘hajjah’ sudah barang tentu mahar atau uang naiknya akan jauh lebih mahal dibanding yang belum hajjah. Besaran ‘perbedaan’ uang panaik/dui menre atau maharini kadang dihitung berdasarkan tarif resmi ONH yang diberlakukan pemerintah. Sebaliknya, adalah suatu kebanggaan buat mempelai perempuan, apabila calon penganten laki-lakinya suda bergelar haji dan dengan demikian, bisa menjadi nilai tambah dalam menentukan diterima atau tidaknya lamaran yang bersangkutan. Akan berat perjuangan seorang laki-laki yang belum haji yang hendak meminang seorang hajjah, kecuali si laki-laki mengkompensasi nya dengan uang panaik yang tidak sedikit.

Menurut Fuad Rumi, seorang ulama dan cendekiawan Makassar, kehajian terakulturasi ke dalam budaya kita untuk memberi simbol status bagi seseorang. Menjadi haji, adalah sebuah kehormatan, dan kehormatan itu disimbolkan dengan gelar dan pakaian.

Animo untuk naik haji bagi Masyarakat Bugis-Makassar ini cukup besar, sehingga walaupun terhalang oleh sistem pembatasan jamaah haji atau quota yang diberlakukan pemerintah, tetap saja banyak jalan yang ditempuh. Diantara jalan itu adalah dengan bertebaran ke propinsi-propinsi lain yang masih membuka pendaftaran. Kemudahan pembuatan KTP dan pengurusan berkas menjadi celah lebar yang memungkinkan proses diaspora jamaah asal Bugis Makassar ini. Sehingga tidak heran, sebuah koran Nasional pernah memberitakan petugas haji di Magelang sempat kelabakan mengurus dan menghadapi 116 calon jamaah haji yang hanya bisa berbahasa Bugis saja!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. bundadzaky

    Yang dipakai para hajja itu namanya talullung. di kampung saya kalo ada hajatan (perkawinan) biasanya seseorang yang belum hajja, dia kebagian cuci piring ato kerja di dapur, tapi kalo sudah hajja dia jadi pagar ayu.

    February 12th, 2008 at 1:36 pm

  2. hamsin

    Ass..mf klau ada salah kata sebelumnya.maksud kedatangan saya kesini cuma numpang nanya, saya dari kalimantan orang Bugis dan Makassar itu beda gak, koq kebnyakan entah dari makassar, mandar dan bugis disini umumnya dsebut orang bugis. makasih atas petunjuknya, saya tunggu di email saya hamsin_kdl@yahoo.co.id

    April 21st, 2008 at 2:59 pm

  3. rahim

    terlalu kuno sekali mi apa yang kau bahas cappo’. tidak adamikah “makanan” bagus bisa disajikan sehingga “makanan basi” seperti ini yang harus kami baca?

    carilh ide yang lebih kreatif kawan…

    May 13th, 2008 at 8:18 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • awis.wisnedi — Salam kenal boss.. Mf terlambat bergabung ama forum ASIABLOGGING kebetulan saya juga warga JABABEKA Cikarang.Menurut saya Prospek usaha disini ...
  • ale-silver — yg saya tahu di rawa bening jatinegara jakarta timur perak murni di jual di kisaran 4400. kalau ada yang mau ...
  • trusti — R "Rencana pengampunan dan penghentian penyidikan atas kasus mantan Presiden Soeharto jelas mencederai rasa keadilan masyarakat dan melanggar prinsip equality in ...
  • eshape — Wah aku gak nonton tuh. Ada penonton lain yang mau ngasih komentar?
  • GODEX — MOKASIH YO......... GETS SPIRIT FOR BENGKO LAND SALAM TOBO KITO
  • trusti — kalau melihat debat di TV One kemaren yang temanya kontroversi iklan PKS, saya justru melihat PKS bukan partai cerdas, dangkal ...
  • eshape — semoga komentar-komentar ini memberikan manfaat bagi kita semua amin
  • Aisyah — Bagi saya PKS adalah Partai Kroninya Soeharto. Suharto dari mulai pengambil alihan kekuasaan sampai akhir ia menjabat tak luput dari kekerasan ...
  • Zihah — semoga Bapak Bupati Sinjai mau melanjutkan pembangunan pelabuhan lare-rea itu hingga benar-benar indah dan bermanfaat bagi warga sinjai maupun para ...
  • m.faisal — waduhh baru gw mau bikin penulisan feature tentang pasar tumpah di bekasi udah ada duluan tapi bener tuh bikin macet kalo ...