You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Daeng Sikki Mengenang Ranggong Daeng Romo
Lelaki tua itu, terkekeh ketika saya menanyakan umurnya. Kami bertemu di suatu siang yang teduh di tepi sungai Pappa, Polongbangkeng, kabupaten Takalar. Sebelum menjawab, dia keluarkan tembakau dari kantong plastik. Ia memilinnya dengan kertas rokok putih tipis. Dengan bantuan jilatan dari lidahnya, tembakau itupun jadi rokok. Siap diisap.
“Aih tenamo kuurangi siapa umurukku,” ucapnya dalam bahasa Makassar dengan dialek agak asing bagi saya. Artinya, ia tidak ingat lagi umurnya. “Tapi attunna nia Japanga, nia’mo anakku”. Namun, dia meneruskan bahwa ketika Tentara Jepang datang, dia sudah punya anak. Dapat diduga, jika sekitar tahun 1942 Jepang mendarat di tanah Sulawesi maka sekarang, umur lelaki tua itu akan mendekati seratus tahun.
Namanya Maling Daeng Sikki. Siang itu ia sedang mengawasi panen ubi jalar putih di kebunnya yang seluas 10 x 30 meter di samping rumahnya. Kebun itu terletak di tepi sungai yang membelah kota Pattallassang, ibukota kabupaten Takalar. Tinggal seorang diri di keluarahan Maraddekaya dia mengurus dirinya sendiri karena keempat anaknya telah memisahkan diri. Ia memiliki 20 orang cicit.
“Nia’mo ruang pulo cucu kulantukku.” Katanya, ia sudah bercicit. 20 orang.
Ketika ditanya soal umurnya dia hanya tersenyum lebar dan bercerita umurnya mendekati seratus tahun dan salah seorang anaknya yang beristri empat telah meninggal dunia.
“Nakke tena kubiasa nganre dageng” Saya tidak biasa makan daging, katanya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
Daeng Sikki dikebunnya
Mengenal dan Memuja Sang Pahlawan Obrolan ini menjadi istimewa karena ia bertutur tentang seorang pahlawan nasional asal daerah Polongbangkeng Takalar. Dia bercerita dengan takjub. Seraya duduk di gundukan tanah, sesekali mengisap rokoknya dia bercerita tentang Ranggong Daeng Romo.
Menurut Daeng Sikki, warga Polongbangkeng bangga punya pahlawan seperti Ranggong Daeng Romo yang rela berkalang nyawa demi prinsip yang dipegangnya. Ranggong Daeng Romo adalah pejuang yang anti kompeni dan layak ditiru oleh generasi muda sekarang.
Dari berbagai catatan, Ranggong Daeng Romo lahir pada tahun 1915, di daerah sekitar Polombangkeng, kabupaten Takalar. Menilik dari latar belakang keluarganya yang bergelar Gallarang atau Jawara, Daeng Romo memang banyak bersentuhan dengan orang-orang penting kala itu. Ia merupakan anak dari pasangan Gallarang Moncokomba, Mangngulabbe Daeng Makkiyo dengan Bati Daeng Jimo. Sebagai anak seroang Gallarang, Ranggong kecil besar dalam didikan yang disiplin dan keras.
Ranggong muda juga sempat belajar agama Islam sebelum lanjut ke Sekolah Rakyat atau Inlandsche School. Tidak banyak catatan tentang sekolahnya namun disebutkan bahwa beliau pernah bersekolah di Taman Siswa sebelum akhirnya berhenti. Menikah pada usia 18 tahun, dan mempunyai istri bernama Bungatubu Daeng Lino, puteri Gallarang Bontokandatto, Tarasi Daeng Bantang.
Menurut cerita Daeng Sikki, ketika dia masih muda, dia banyak mendengar nama Ranggong daeng Romo ketika Jepang masuk di Takalar, termasuk terkait dengan kegiatan penyediaan beras untuk serdadu Jepang. Takalar merupakan salah satu wilayah strategis penyuplai beras selama masa perang kemerdekaan.
Selain itu, Ranggong Daeng Romo juga dikenal sebagai salah seorang pentolan “Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS),” yang terdiri dari gabungan 19 organisasi laskar perjuangan. Ranggong Daeng Romo diangkat sebagai Panglima LAPRIS (Ketua Bidang Ketentaraan/Kemiliteran). Melalui organisasi ini Ranggong mulai banyak dikenal oleh pihak luar. Merekalah yang gencar melakukan perlawanan kepada KNIL yang di motori oleh Westerling yang terkenal biadab itu.
Bersama pengikutnya, Ranggong Daeng Romo beberapa kali memimpin pertempuran dengan Belanda di sepanjang wilayah pesisir dan bukit-bukit di Takalar. Ranggong Daeng Romo, gugur pada tanggal 28 Februari 1947 dalam salah satu pertempuran di sekitar wilayah Lengkese, Polongbangkeng. Daeng Sikki bertutur bahwa, dia sedang berada ditepi sungai ketika Ranggong Daeng Romo dikejar oleh tentara KNIL. “Waktu itu, kami mendengar dari beberapa gerilyawan bahwa Ranggong Daeng Romo tertembak kakinya” Katanya.
Dia meneruskan bahwa pada saat itu, Ranggong Daeng Romo, diminta menjauh oleh para kawan-kawannya untuk masuk ke tengah hutan. Tapi Daeng Romo, malah bertahan dan menukas “Passangma nakke ammantang, i kau ngasengmo lari” “I nakke na’boya puli”. Ucapnya dalam bahasa Makassar yang artinya, biarlah saya yang tinggal, kamu semua larilah, saya akan mencari korban supaya impas.
Mata Maling Daeng Sikki berbinar seakan memuji sikap heroik dari Ranggong Daeng Romo. Ketika sedang bertarung dengan tentara Belanda dan tertembak kakinya, Ranggong Daeng Romo, tetap bertahan dan mencoba melawan.
Ranggong mati muda pada umur 32 tapi berkat jasa dan kecintaannya pada negara, dia tercatat sepanjang jaman sebagai pahlawan nasional.
Asap rokok Daeng Sikki menciptakan kabut tipis di udara, lalu lenyap. Tapi bayangan dan kenangan tentang Ranggong Daeng Romo menjadi jelas di tengah kebun ubi jalar, siang itu.
Catatan:
Tulisan ini juga dimuat di media orang biasa, Panyingkul.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
rara
ah fotonya Ranggong Dg Romo yang ada di Museum La Galigo. Saya liat ki waktu acara Blogger Peduli Sejarah.
Cakep yak hehehe
August 20th, 2008 at 4:19 pm
rara
eh lupa.. btw ayah saya juga berasal dari polongbangkeng selatan.. sekeluarga ama Daeng Sibali. Kata maceku sih katanya ada hubungannya dengan Dg Romo juga tapi lupa dari mananya.
August 20th, 2008 at 4:23 pm