You're here: My City Blogging » Makassar » Article: 8 Tahun Setelah Karamnya Kapal Pengangkut Kayu
<
Musim timur yang kering di daratan Sulawesi. Di laut Arafura beberapa awak kapal pengangkut kayu asal Galesong sedang berjibaku menyelamatkan diri. Terjangan badai musim timur, memaksa perahu sarat berbobot sekitar 25 ton yang ditumpangi 11 awak itu, oleng kemudian pecah. Disesaki air laut, kapal itu perlahan tenggelam. Kayu-kayu bayam yang dimuat tidak membuatnya mengapung, malah mempercepat karamnya kapal. Beberapa awak meraih jerigen, papan dan segala yang bisa mengapung.
“Alleia…alleia…alleai kodong” tolong, tolong, tolonglah kasihan. Itu yang sempat diteriakkan beberapa awak kapal, ucap Supiaty, seorang keluarga korban meniru awak yang selamat.
Kenangan cerita diatas muncul ketika saya bertemu Cinda daeng Rannu bersama sanak keluarganya di desa Tamalate, Galesong Utara, Takalar dalam bulan Agustus 2008. Sudah delapan tahun tak bersua karena kisruh antar anggota keluarga dekat . Konflik itu dipicu oleh tragedi karamnya kapal kayu di laut Arafura yang merenggut korban. Sebanyak 8 ABK tak diketahui keberadaanya setelah dihempas gelombang ganas musim timur.
Apa pasal? Beberapa saat setelah kejadian tragis itu, Daeng Rannu bersama suaminya Siara Daeng Tayang, nakhoda kapal itu tak lagi bermukim di Kampung Jempang, Galesong Utara, tempat yang sering saya kunjungi. Walau keluarga dekat, mereka dicerca dan tak diterima oleh kerabat keluarganya sendiri yakni keluarga korban kapal kayu yang tenggelam. Mereka tidak menerima kejadiaan memilukan tersebut. Status Daeng Tayang sebagai nakhoda, dia dianggap lalai dan lepas tanggung jawab.
Minggu lalu, mata Supiaty berkaca-kaca ketika saya menanyakan nama-nama korban selain kerabat dekat. Supiaty adalah ponakan sang nakhoda sekaligus kakak kandung salah seorang korban tenggelam. Juga sepupu saya. Supi seperti keluarga lainnya nampaknya masih sedih dan geram, hanya nakhoda bersama dua orang ABK lainnya yang menyelamatkan diri, ketika para ABK lainnya satu persatu tenggelam ditelan ganasnya ombak bulan Juni.
Kerabat Dekat.
Kini, di bulan suci ramadhan, masih banyak dari mereka menangis jika mengenang tragedi itu. Ketika banyak keluarga berziarah kubur dan mendoakan arwah keluarga mereka masing-masing, keluarga korban tidak tahu kemana harus menuju.
Walau telah berlalu lebih dari 8 tahun. Kenangan bersama keluarga dekat dan korban musibah itu sulit terhapus dari benak. Sebanyak 8 orang anak buah kapal (ABK) tenggelam, dan sampai kini tak jelas keberadaannya. Pun tidak ada berita di koran atau media lokal. Banyak pihak yang tidak mengetahui ihwal kejadiannya. Diatas kapal itu, 11 ABK bersama seorang nakhoda tanpa berbekal ijazah pendidikan pelayaran menjadi korban. Mereka datang dari beragam latar belakang, pelaut, nelayan, patorani, pedagang, hingga anak muda yang baru saja tamat sekolah menengah atas.
Daeng Ngai, wanita beranak dua itu kini menjadi janda setelah suaminya Sulaeman daeng Rani tak diketahui keberadaannya. Daeng Rani yang mirip mantan pemain bola nasional Zulkarnanen Lubis di era 80an itu hilang bersama Syahrir alias Riri, berumur sekitar 20 tahun, tamatan SMA. Mereka tinggal berdekatan rumah. Mengenai nama-nama korban lain selain keluarga dekat saya, Supriadi anak kandung Daeng Rani bercerita dengan lancar. Menurutnya, ikut bersama ayahnya, adalah Ahmad daeng Tuppu, lelaki beranak satu. Yang tinggal di depan rumah daeng Rani Lalu Nasir daeng Nyonri, tamat SMA tanpa skill pelayaran yang memadai. Daeng Nyonri belum setahun menikah yang saat kejadian istrinya sedang hamil tua. Dia tdak sempat lagi menatap wajah anaknya yang lahir beberapa bulan sejak tenggelamnya.
Saat ini anaknya, telah berumur 8 tahun bernama Rizky ikut dengan ibunya yang kini telah menikah lagi dan tinggal di Salodong, Biringkanaya, Makassar. Demikian pula Wawan, asal Kendari dan Ruslan, lelaki asal Campagaya, Galesong Utara. Seperti Daeng Nyonri, Ruslan tidak sempat melihat anaknya yang lahir beberapa saat setelah kejadian itu. Lalu Arpa, anak daeng Saming, anak muda tamatan SMA bersama daeng Paruru, lelaki paruh baya tenggelam bersama kapal kayu yang nahas itu. Begitu cerita Supriadi tentang nama-nama korban.
Dari kesebelas awak kapal itu, hanya Hengky asal Ambon sang masinis atau biasa disebut bas kapal, dan daeng Empo bersama sang Nakhoda yang selamat. Mereka terdampar setelah diombang ambing arus dan terdampar pada satu pulau bermercusuar.
Daeng Tayang adalah paman Nasir daeng Nyonri, om dari lelaki Syahrir. Kini, lelaki beranak tiga itu sejak pindah ke Sampulungan, kembali menjadi nelayan patorani atau pencari telur ikan terbang dan merambah daerah Fak Fak di Papua Barat.
Bisnis Kayu
Bisnis kayu di Galesong saat itu memang sangat marak. Berjejer perahu bertonase diatas 20 grosston di pesisir pantai. Banyak pemilik modal yang membiayai bisnis pengangkutan kayu, entah karena perizinannya longgar atau karena hal apa. Biasanya kapal-kapal pengangkut kayu, membutuhkan waktu 4 hari empat malam berlayar dari perairan Galesong hingga Ambon.
Para ABK begitu bangga dengan gaji Rp. 350ribu persekali trip. Sementara seorang nakhoda dapat memperoleh lebih dari sejuta dan komisi dari sang pemililk kayu. Masinis atau bas, peroleh 500ribu hingga 700ribu. Menurut cerita, dalam sebulan armada mereka mampu beroperasi hingga 2 trip ke Maluku. Jarak tempuh empat hari empat malam dan proses bongkar muat membutuhkan 15 hari. Itu jika cuaca bersahabat.
Sayangnya, tidak ada standar khusus yang mesti dipenuhi oleh jasa pengangkutan kayu tersebut. Mereka adalah pelaut turun temurun tanpa keterampilan khusus. Salah seorang korban, Riri, tidak punya kemampuan berenang. Dia hanya sempat menikmati 3 trip sebelum kejadiaan naas tersebut.
Tidak ada santunan atau asuransi. Namanya juga kapal rakyat. Terkait faktor keselamatan pelayaran, praktis tidak ada sarana komunikasi yang memadai, tidak ada pelampung atau alat navigasi lainnya. Itulah makanya, banyak dari mereka menjadi korban ketika kapal mereka pecah dihantam gelombang. Belakangan diketahui kalau pemilik perahu dan pengusaha kayu asal Galesong tersebut tersangkut perkara hukum dan dipenjara.
Kapal pengangkut kayu bayam dari Maluku saat itu memang lalu lalang di sepanjang jalur Makassar, perairan Selayar hinggan Sulawesi Tenggara. Selain ke arah timur, banyak pula dari mereka yang mengarungi selat Makassar hingga merapat di Kalimantan Selatan dan Timur untuk berbisnis kayu. Sekarang ini, hanya pemilik modal besar yang mampu bertahan. Berbisnis kayu mengingat sulit dan besarnya biaya perizinan usaha. Kalaupun ada itu mesti mendapat mitra perusahaan besar.
Daeng Tayang dan beberapa awak kapal yang kerap melayari selat Sulawesi hingga perairan Maluku adalah contoh pelaut yang tidak dilengkapi sarana pelayaran yang layak. Sangat ironi karena jumlah mereka yang banyak di sepanjang peraiaran selat Makassar layak mendapat perhatian pihak terkait.
Bukan Sekali Saja
Pada beberapa bulan lalu, tepatnya di bulan Juli. Daeng Majja Benggo, nelayan patorani asal Galesong yang kerap mencari telur ikan terbang di perairan Kalu-Kalukuang, bersama empat anggota keluarganya yang ikut berlayar sampai sekarang tak ditahu kemana rimbanya. Diatas kapal kayu patorani, Benggo bersama menantu dan kemenakannya tak ada kabar hingga kini. Keluarganya tidak tahu kemana harus bertanya. Banyak yang menduga kapal mereka tertabrak kapal besar, ketika beroperasi di malam hari. Seperti cerita kapal kayu yang karam itu, sudah jamak kejadian seperti ini namun tidak membuat jera para patorani.
Berbagai cerita tentang tragedi kecelakaan dan musibah di laut tersebut hanya menjadi cerita dan kilasan kesedihan belaka. Tradisi dan pekerjaan turun temurun, dengan melaut rupanya tetap menjadi pilihan. Orang-orang kaya pemilik modal sudah selayaknya memberi kemudahan bagi pekerjanya. Biaya pertanggungan dan pengayoman pada anggota keluarga korban sudah selayaknya diperhatikan.Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah bekal keterampilan melaut walaupun kemampuan dasar kepelautan.
Saat ini, ratusan perahu besar dan kecil di sepanjang pesisir Galesong, membutuhkan pengelolaan dari berbagai pihak untuk satu sistem pelayaran yang aman. Tentang perizinan, kelayakan laik laut dan segala standar operasional dalam pelayaran. Sebab jika tidak tragedi yang sama akan berulang jika otoritas terkait tidak membenahi prosedur pelayaran, baik tradisional maupun semi modern.
Catatan:
Tulisan ini juga dimuat di Blog saya
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
DG NONGKA
galesonng utara adalah daerah yang berootensi di kembangkan sektor perikanan dan wisata bahari
October 22nd, 2008 at 6:54 am