You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Mencoba Rumput Baru Lapangan Karebosi

Mencoba Rumput Baru Lapangan Karebosi

syaifullah — October 27, 2008 / 7:53 am

<

p align=”center”>Sudah bisa digunakan bermain sepakbola. Foto: Syaifullah.

“Besok siap-siap ya, kita akan bertanding di Karebosi ”, kata-kata manager tim sepakbola kantor kami itu kontan membuat saya bersemangat. Selain karena sepakbola adalah olahraga favorit saya, rasanya sudah cukup lama juga sejak terakhir kali saya bermain di Karebosi, dan tentu saja saya penasaran ingin mencicipi rumput Karebosi yang baru.

Sejak akhir tahun lalu, Karebosi tiba-tiba menjadi buah bibir warga Sulsel pada umumnya dan warga Makassar pada khususnya. Rencana pihak Pemkot Makassar untuk merevitalisasi lapangan Karebosi mengundang pro dan kontra, terutama karena adanya niatan dari pihak penanam modal yang mengubah sebagian lapangan Karebosi menjadi area bisnis.

Di tengah berbagai kecaman dan dukungan dari semua lapisan masyarakat, pihak Pemkot tetap berjalan sesuai rencana. Mereka juga berjanji kalau nantinya Karebosi yang baru akan jadi lebih baik berkali-kali lipat dibandingkan Karebosi yang lama.

Hampir setahun berselang, dan Karebosi betul-betul telah berubah. Area bisnis yang berada di bagian utara Karebosi nyaris rampung. Bulan Ramadhan tahun ini, Carrefour sebagai salah satu penyewa lahan bisnis tersebut memaksakan diri untuk melayani pembeli tepat di momen saat nafsu belanja warga Makassar sedang tinggi-tingginya. Carrefour berada di bawah tanah dan diatapi oleh hamparan beton yang finishingnya belum selesai 100%. Di atas hamparan beton tersebut nantinya akan ada lapangan upacara, heli pad dan arena olahraga. Hampir seperti Carrefour di bagian bawah, hamparan beton ini juga sudah melalui tahapan soft opening yang ditandai dengan acara sholat Ied tahun ini.

Di bagian selatan Karebosi terhampar 3 lapangan sepakbola berukuran standard. Ketiga lapangan ini dipisahkan oleh jalan setapak yang terbuat dari beton kasar. Di sisi kanan kiri jalan setapak tersebut pohon-pohon tinggi ditanam dalam deretan yang rapih. Setiap pohon diberi label yang terbuat dari plastik tipis. Entah apa yang tadinya tertulis di label tersebut karena saya hanya melihat sisa coretan spidol yang tak terbaca lagi.

Bila masuk dari arah Jl. Kartini atau sebelah selatan Karebosi kita terlebih dahulu harus melewati sebuah pintu besi. Sepanjang sisi Karebosi memang sudah dipasangi pagar BRC. Di pintu tersebut berdiri seorang satpam-sebenarnya ada dua orang satpam-berpakaian dinas lengkap dengan handy talkie di tangan. Tidak sembarang orang yang boleh melintasi pintu tersebut. Bila anda tak punya kepentingan dalam pertandingan yang sedang digelar, tentu sang satpam akan berkeras untuk mengusir anda. Tadinya saya sempat bertanya dalam hati, bukankah dengan perlakuan satpam itu Karebosi nantinya tidak akan menjadi public space lagi ?. Namun saya beroleh keterangan bahwa tindakan protektif satpam tersebut hanya sementara karena toh Karebosi masih berada dalam proses pengerjaan dan belum rampung 100%.

Setelah melewati pintu besi kita akan segera bertemu dengan suasana yang tidak begitu jauh berbeda dengan Karebosi yang lama. Jalur beraspal selebar kurang lebih 3 meter dengan pedestrian di kanan kirinya. Pohon-pohon besar dan tumbuhan semaknya juga masih tetap seperti dulu. Pohon dan semak inilah yang dulunya sering digunakan para bencong penghuni karebosi sebagai tempat “bekerja”. Untuk bisa mencapai lapangan sepakbola Karebosi yang baru kita harus menapaki 8 anak tangga yang masing-masing setinggi kira-kira 20 cm dengan lebar kurang lebih 3 m. Pihak pengembang memang telah menambah ketinggian tanah Karebosi untuk mencegah tergenangnya air di musim hujan. Di beberapa poster yang dipasang pihak Pemkot Makassar terlihat jelas kondisi Karebosi lama yang selalu berubah menjadi danau di kala musim hujan datang.

Hari itu kami menggunakan lapangan yang berada di sebelah timur. Sementara lapangan di bagian tengah nampak sedang dipergunakan belasan anak muda berkostum PSM. Menurut informasi mereka adalah tim junior PSM.

Di antara lapangan yang berada di ujung timur dengan lapangan yang berada di tengah terletaklah situs tujua. Tujuh gundukan yang diyakini sebagai kuburan keramat. Situs yang telah dipercantik tersebut dikelilini pagar BRC sehingga terkesan sedikit kaku. Entah apakah pagar itu nantinya akan berada di sana selamanya atau hanya sekedar pagar sementara.

Dahulu Karebosi terdiri dari 6 buah lapangan sepakbola dengan kondisi yang beragam. Kondisi lapangan yang paling terawat tentu saja adalah salah satu lapangan di sebelah selatan yang dikelola oleh tim Makassar Football School (MFS). Perbedaannya jelas sekali. Lapangan milik MFS berumput hijau segar dengan ketebalan yang merata. Di sekeliling lapangan juga dipasangi pagar BRC yang tentu saja bermaksud untuk mencegah pihak tak berijin untuk menggunakannya. Biaya sewa lapangan MFS dulunya adalah sebesar Rp. 250.000,- satu partai atau kurang lebih 2 jam.

Lapangan lain yang kondisinya cukup lumayan adalah lapangan milik pak Kamal. Bagi para warga yang sering nongkrong di Karebosi, nama pak Kamal tentu bukan nama yang asing. Lelaki tua yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi pelatih sepakbola amatir tersebut bisa dianggap legenda bagi mereka yang akrab dengan Karebosi. Nah, lapangan tempat pak Kamal melatih kondisinya memang tidak sebagus lapangan milik MFS, meski memang lebih bagus daripada lapangan lain yang tidak terawat. Untuk menggunakan lapangan milik pak Kamal kita cukup merogoh kocek sebesar Rp. 150.000,- per partai.

Kondisi lapangan Karebosi yang lama sebenarnya rata-rata tidak bisa dibilang layak untuk sebuah pertandingan sepakbola. Rumputnya kasar dan tidak rata, sementara tanahnya sedikit keras dan berpasir. Untuk para pemain sepakbola yang gemar melakukan sliding tackle, kondisi ini sungguh tidak nyaman. Bila posisi sliding tackle kurang bagus maka bisa dipastikan bagian lutut akan langsung terkelupas, berwarna putih dan sejurus kemudian berwarna merah oleh darah. Perih dan sungguh tidak nyaman.

Selain itu, bila bermain di Karebosi kita harus cermat memilih sepatu. Jangan coba-coba menggunakan sepatu dengan pul yang keras apalagi dengan pul besi. Kondisi tanah yang keras ditanggung akan membuat betis langsung keram dan salah-salah kepala langsung pusing. Akselerasipun tentu tak akan selincah bila menggunakan sepatu dengan pul yang lembek.

Kondisi Karebosi yang baru sedikit berbeda. Tanahnya lebih gembur dan lembek. Tak perlu takut bila anda melakukan sliding tackle atau terjatuh saat beradu otot. Meski rumputnya belum terlalu rapat, namun jenisnya yang lembut lumayan bisa menghilangkan kekhawatiran saat bermain sepakbola di atasnya. Di pinggir lapangan nampak selang air sepanjang berpuluh-puluh meter yang menandakan kalau rumput di lapangan tersebut sering disiram. Pendek kata kondisi lapangan yang baru sudah cukup representatif untuk digunakan.

Tapi, lapangan Karebosi yang baru bukan tanpa kekurangan. Saat ini belum ada satupun WC umum yang disediakan di sekitar lapangan sepakbola. Kondisi ini tentu agak menyulitkan para pemain dan penonton, sehingga saat keinginan untuk buang air kecil tak tertahankan lagi, pohon-pohon besar dan tumbuhan semak kemudian menjadi pilihan. Jelas ini mengganggu kenyamanan.

Kekurangan lainnya adalah belum adanya tempat beratap semacam shuttle bus yang bisa dipergunakan untuk para pemain cadangan atau penonton untuk berteduh. Bila hujan tiba bisa dipastikan orang-orang yang tidak ikut bermain tentu akan lari terbirit-birit mencari perlindungan.

Saya belum tahu bagaimana perencanaan lapangan Karebosi selanjutnya, termasuk apakah nantinya lapangan tersebut dapat dipergunakan secara bebas oleh warga Makassar. Saat pertandingan digelar saya mendengar kabar kalau pihak penyelenggara membayar Rp. 500.000,- kepada pihak pengelola sebagai biaya sewa lapangan.

Sore itu selepas pertandingan digelar, saya berdiri di salah satu sudut lapangan Karebosi. Ada ada banyak kenangan tentang Karebosi lama yang berlarian di kepala saya. Karebosi memang telah banyak berubah, meski kondisinya lebih baik namun ada kesan angkuh dan dingin yang saya tangkap. Semoga saja kesan itu hanya untuk sementara sebelum nantinya Karebosi kembali menjadi alun-alun kota yang hangat, ramah dan terbuka bagi siapa saja tanpa harus membayar sepeserpun

 

Catatan :

Juga dimuat di situs jurnalisme orang biasa, Panyingkul

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Citilink Garuda

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT