You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Sirondo-Rondoang, Menaklukkan Bukit Cadas di Majene, Sulbar
<
p>Wanita paruh baya itu berkacamata tebal, berjilbab abu abu. Terus berjalan ringan. Saya berhenti menyeka keringat dan sesekali memandang ke puncak bukit. “Masih jauh, kataku”. Dia terlihat perkasa dengan sepatu boot karet dan dengan gesitnya terus melangkah ke arah kebun di bukit Tandaera, dusun Puawang kelurahan Baruga Dhua, kecamatan Banggae. Kabupaten Majene.Berbatasan dengan kabupaten Polewali Mandar.
“Bukan main, kataku”. Karena berat diayun, saya bahkan harus menaruh sendal yang penuh lumpur dibawah pokok pisang. Berjalan gontai memandang ibu tadi yang semakin menjauh. Hujan semalam, mengguyur kawasan Puawang dan melicinkan jalan setapak menuju perbukitan. Keringat bercucuran dan napas semakin rapat.
Hari masih pagi, sekitar pukul 9 pagi ketika saya bersama beberapa orang kawan menyisir wilayah lereng bukit itu. Kami mengunjungi salah satu titik yang menjadi lokasi kegiatan perkebunan warga. Saya lelah, tapi tidak wanita itu. Wanita berkacamata tebal tadi, sedang membawa dua keranjang kotoran ternak yang hendak dimanfaatkan untuk menyuburkan kebun mereka di puncak bukit. Dia bersama beberapa warga dusun memang sedang mengembangkan usaha perkebunan palawija, sayuran disana. Yang menarik, warga dusun itu, sedang menggalakkan perkebunan diatas bukit berbatu. Bagaimana bisa?
Bukit Puawang adalah perbukitan tandus dengan batu-batu besar dan cadas. Sudah lama kawasan itu dibiarkan kosong namun sejak beberapa bulan terakhir mereka menemukan ide baru, memperbaiki struktur lahan dengan memecah batu-batu tersebut lalu menatanya sebagaimana layaknya lokasi perkebunan.
Mereka harus bekerja keras, memecah batu besar jadi bongkahan kecil lalu membuat bedengan atau terasering. Membuat kotak-kotak lahan tanah bertingkat dengan pembatas bambu dan kayu. Warga membentuk kawasan bukit itu seperti berundak-undak. Disitulah mereka menanam tomat, cabai, bawang merah, di sekelilingnya ditanami ubi kayu, ubi jalar dan beberapa tanaman penting lainnya seperti kacang tanah, jagung, kedelai, terong.
Jumlahnya tidak banyak, karena masih dalam tahap uji coba. Beberapa jenis telah menunjukkan pertumbuhan yang pesat bahkan sudah dipanen dengan sukses. Ya, lahan campuran batu, tanah dan kotoran ternak kambing. Hasilnya memuaskan, mereka dapat memanen tomat, cabai, bawang dan memasarkannya ke Majene.
Warga menyebutnya, “berkebun bukan ditanah bukan juga di batu” atau dalam bahasa Mandar sebagai “mabathu nappa andiang wai”, berbatu dan tiada air. Mereka bergantung pada curah hujan, menyiapkan drum bekas aspal dan mengairi kebunnya dengan pipa-pipa kecil. Jika kita berada di bagian bawah bukit pada beberapa titik kita akan melihat gubuk jaga dan drum bekas aspal diatas bukit.
Menurut pak Abd Hamid, kegiatan ini masih relatif baru dan satu inisiatif dengan memanfaatkan kebiasaan mereka bergotong royong. Mereka bekerjasama dalam memecah batu, memasang pematang, terasering dan membuka jalan ke kebun. Warga dengan sukarela membantu warga lainnya untuk menata kebunnya. Ini juga salah satu upaya untuk memanfaatkan buangan ternak dan kerjasama dalam keluarga meningkatkan pendapatan.
“Dari pada kampung bau oleh kotoran kambing?”Katanya setengah bercanda.
“Saat ini kami sedang, menyiapkan bibit pohon lokal yang diambil dari hutan sebanyak tiga ribuan. Kami akan menanamnya sesegera mungkin” kata pak Hamid. Ini penting untuk bisa menjaga resapan air di bukit dan mengalirkan air ke sungai-sungai yang membelah kampung, katanya. Di sekitar perkampungan ditumbuhi banyak pohon, kelapa, jati, palem, nipah, pohon rambutan dan langsat. Diantaranya, mengalir sungai-sungai kecil dengan batu-batu besar tapi menurut pengakuan warga debit airnya semakin berurang dari tahun ke tahun.
Namun demikian pada beberapa rumah warga, di pekarangannya dijumpai juga tanaman vanili, salak, kakao namun tidak dalam jumlah banyak. Namun ini menandakan bahwa hampir semua tanaman dapat tumbuh di kawasan ini.
Sempitnya lahan perkebunan di dalam dan disekitar pemukiman membuat warga mencari inisiatif, mereka berkebun di puncak bukit. Namanya, puncak Tandaera dan Pakkea. Saat kami mengunjungi kebun-kebun mereka, terdapat, kacang tanah, cabai, tomat, ubi jalar, singkong, pisang, kelapa dan banyak lagi. Ubi kayu, bahkan ada yang sebesar betis lelaki dewasa.
Lokasinya tepat di sebelah utara kelurahan. Dari sini terlihat hamparan hijau dan pesisir Majene, di sisi kirinya terdapat ngarai dengan dindingnya terlihat menghitam. Konon, wilayah itu adalah tempat berdiamnya ular-ular besar khas Tanah Mandar, sebangsa phyton.
Desa Komplit
Kelurahan Baruga Dhua, hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari jalan raya nasional yang membelah kota Majene, Sulawesi Barat. Untuk sampai di desa ini, kita melewati instalasi PLN kota Majene. Suasana jalan dan sekitarnya cukup asri walau terasa sempit sebagaiman jalan batas kota, dikelilingi anak-anak sungai yang masih ramai oleh warga yang mandi dan mencuci pakaian.
Walau dekat dengan ibu kota kabupaten namun, jangan berharap bisa menjumpai perkampungan dengan situasi yang serba wah sebagaimana kelurahan yang dekat dengan kota, suasana begitu tenang dan sunyi. Hanya sesekali motor tukang ojek keluar masuk kampung. Warga memang mempunyai televisi dengan antena parabolanya, namun kesibukan di kebun nampaknya lebih menyita perhatian mereka.
Jangan kaget karena terlalu banyak lolongan anjing (yang juga jadi penjaga kebun) dan suara kambing yang mengembik di kolong rumah warga. Pada beberapa kolong tergantung sisiran pisang kuning atau pisang manurung, menurut bahasa Mandar. Kembang-kembang warna warni menghiasi pekarangan dan teras depan rumah panggung warga. Saya bahkan nyaris tidak menjumpai rumah batu permanen.
Pada pagi hari, kita akan menyaksikan rombongan anak-anak muda yang berbekal parang panjang, bersepatu boot plastik, mereka muda tapi jangan berprasangka tentang kebiasaan nongkrong di deuker atau mejeng di depan rumah mengganggu orang lewat, mereka adalah pekerja kebun. Lalu, ibu-ibu yang menenteng rumput untuk pakan ternak, anak-anak yang berlarian mengejar jam masuk sekolah.
Di tengah dusun Puawang terdapat pohon besar. Namanya pohon landi, nampaknya inilah pohon paling besar di tengah kampung. Diameter batang bawah hingga dua meter dengan batang bawah termasuk akar sampingnya memanjang hingga delapan meter.
Dititik inilah warga banyak mencari sinyal dan menelpon. Terdapat pula aneka jenis pohon pada beberapa sisi sungai atau tepatnya kali, mereka menyebutnya pohon pambolo. Kayu pambolo namanya, menjulang dan oleh masyarakat dijadikan papan rumah. Beterbangan dan bersahutan burung balangkoa atau elang hitam yang berkaok kaok di pagi hari.
Pagi itu, iring-iringan warga sedang membawa balok kayu, menuruni jalan menukik, saat itu, Ibu Halijah, janda beranak tiga sedang dibantu oleh warga membongkar rumahnya untuk pindah ke lokasi lain. Saat itu terhitung tidak kurang 30 orang sedang gotong royong atau assirondo-rondoang dalam bahasa Mandarnya.
Di satu kesempatan, pak Hamid menyatakan ihwal gotong royong ini, “Kalau kami mengundang melalui speaker mesjid, sedikit yang datang, awal mulanya saling baku tahu, baku ajak-ajakmi” Katanya dengan logat Mandar yang kental.
“Kami adalah warga biasa pada desa yang komplit, katanya. Ya, desa ini memang lengkap, tapi bukan itu intinya, mereka adalah warga yang masih mengutamakan kegotongroyongan. Pemerintah daerah juga menunjukkan appresiasinya. Beberapa waktu lalu, Bupati Majene, Kalma Katta pernah menyambangi perbukitan ini menyaksikan warganya bergotongroyong.
Khas Mandar
Elevasi yang cukup terjal, membuat kami butuh waktu agak lama untuk kembali ke rumah. Karena menjelang shalat jumat, kami mesti bergegas. Hari siang dan berganti menjadi terik. Jalan pulang kami tentunya sudah kering dan penuh bebatuan. Saya menderita kedua kali, telapak kaki saya sakit sekali, karena batu-batu kerikil tajam. Seseorang yang tak terbiasa pasti akan meringis kesakitan, apalagi saya.
Perjalanan ke bukit itu, menyiksa fisik. Rasa pegal dan nyeri menyerang. Tapi itu tidak lama, karena hamparan pemandangan, kesan keindahan perbukitan dan kawasan pesisir Majene dari ketinggian begitu indah. Menyaksikan bentangan kabel dan tower listrik yang membelah hamparan perbukitan bagai bentangan kereta gantung, warna biru laut dan hijau perbukitan melengkapi awan yang biru cerah.
Sore hari seraya membicarakan perjalanan sebelumnya dengan warga, kami menyantap nasi beras ketan atau Sokko’ Mandar lengkap dengan ikan asin. Lalu dilanjutkan dengan mengunyah beberapa biji nangka yang baru saja direbus, saya merasakan suasana yang beda. “enak sekali, mengunyah, biji nangka rebus” kataku.
Padas saat yang lain, kami menikmati beberapa pisang goreng, dengan gula aren sebagai tambahan.
“Kami mengambil pisang manurung matang dari tandannya, jika benar-benar siap digoreng” Kata pak Hamid, pak Imam kampung setempat. “Gula aren yang menemaninya ini dibuat di sini” tambahnya. Menggorengnyapun, kami menggunakan minyak goreng kelapa, buatan kami sendiri.
Di kampung itu, kami juga sempat merasakan suguhan loka anjoroi, makanan khas Tana Mandar, pisang dan ubi kayu yang dicampur dengan santan sedikit garam.
“Kampung ini tidak ada susahnya” Celutuk kawan saya, Azhar Karateng.
Menurutnya, tipikal desa seperti ini, masih sangat murni dan menarik jadi pembelajaran betapa warga kampung sesungguhnya punya sikap dan karakter yang kuat secara sosiologis sejak dari awal. Mereka masih saling bantu, punya toleransi serta punya cara mempertahankan diri dan lingkungannya, karena secara psikologis mereka menghadapi kondisi yang sama. Mereka sebagai warga kampung, mestinya bisa bertahan dengan assirondo-rondoang atau gotong royong itu.
“Mereka memang masih menjaga kekerabatan namun masih mendahulukan kerjasama sebagai ciri mereka. Jika kegotongroyongan tetap terjaga maka segala tantangan dan godaan modernitas bisa ditepis” ucap pak Budi Santoso, salah seorang staf Bappeda Sulsel, pada sore yang gerimis itu.
Sungguh ini perjalanan pertama, melelahkan namun tersimpan kekaguman selama seminggu lebih berada di Sulawesi Barat. Kekaguman pada semangat dan masih langgengnya budaya gotong royong atau assirondo-rondoang.
Tulisan ini juga dimuat di blog saya
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
XML error: Invalid document end at line 197, column 81
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
syamsoe
menyusuri jalan dengan beban berat sperti itu memang terlihat lazim bagi bagi mereka.. sesungguhnya kebiasaan dan tempaan hidup alam desa itu yang sebenarnya mengajarkan banyak filosofi hidup.. tulisan yang bagus daengg…. Mantap
November 30th, 2008 at 7:56 am