You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Para Pemuda Andi Tonro di Sarang “JMR”
Empat orang anak muda tanggung duduk diatas bangku kayu, sebagian lainnya jongkok seraya menikmati mie ayam. Dua lainnya sedang membaringkan motor diatas ban luar bekas mobil lalu seseorang dari mereka menarik pelatuk mesin Honda 5 PK. Dihidupkannya untuk menyedot air dari bak. Airpun memancar kencang dari ujung selang warna oranye. Titik demi titik, celah demi celah motor itu disemprotnya.
Tidak lama kemudian satu mobil AVP hitam, meluncur naik ke tempat pembilasan. Dua orang pemuda tadi, meletakkan mangkok mie ayam dan dengan sigap menyambut dan mengarahkan mobil tadi. Seorang masuk ke dalam lubang kotak selebar 1 m x 0,5 meter di dekat bumper mobil dan segera beraksi seseorang lainnya memindahkan satu-satu terpal dari jok mobil.
Anak muda tadi adalah pekerja pada Tempat Pencucian Kendaraan (TPK) di Jalan Andi Tonro, selatan kota Makassar. Terlihat masih sangat muda dan sedikit urakan. Mereka adalah anggota JMR. Apa itu JMR? Singkatan dari mana itu? Kataku pada Andi salah seorang dari mereka. “Itu singkatan dari Jamur” katanya. Ini nama perkumpulan kami, ide dari anak si empunya tempat usaha yang masih bersekolah menengah atas. Jamur? Adakah makna khusus? Kataku lagi.
“Tidak ada, begitumi. Tapi mungkin ada yang lain, tapi saya tidak tahu pasti, katanya”.
Menjamur di Andi Tonro
Di kawasan jalan Andi Tonro, memang terdapat banyak tempat pencucian kendaraan. Warga yang mempunyai halaman luas, menyulapnya menjadi tempat usaha. Selain bermodalkan mesin pompa, membangun tempat khusus cucian kendaraan untuk roda empat, dengan bekal selang dan bahan pencuci secukupnya seperti sampo, maka jadilah tempat usaha.
Menurut catatan penulis, terdapat enam tempat pencucian sejenis di jalur jalan ini yang mempekerjakan anak-anak muda. Mempekerjakan belasan anak muda di kawasan padat ini. Kawasan ini selain dikenal rawan juga merupakan pemukiman padat penduduk. Berdekatan dengan Pasar Pa’baeng baeng yang kerap macet itu. Usaha ini rupanya sangat berdampak pada kehidupan para anak muda tadi. Mereka sudah standby sejak pukul 08.00 pagi. Bahkan ada yang sudah siap jauh sebelum waktu itu.
Salah satu usaha yang bercokol di jalan Andi Tonro adalah “JMR” itu. Tempat usaha ini kepunyaan seorang pegawai POM. Di tembok pemisah halaman tepatnya disamping tempat pencucian mobil bertuliskan logo “JMR”.
“Ini miliknya, Pak Mapparenta, kerja di PONG” kata salah seorang dari anak muda tadi.
“Usaha ini dirintis sejak tahun 2002. Sejak saya masih SMP kata Andi” Dari keenam pekerja sekarang hanya Dedy dan Inno yang sudah lama bekerja. Pekerja lain, seperti Pitus, Sandi dan Daeng Naba, baru bergabung belakangan.
Andi sendiri memilih bergabung di usaha ini sejak tamat dari SMK. Saya tidak bisa kuliah jadi bekerja sebagai tukang cuci kendaraan saja. Katanya.
Usaha JMR ini nampaknya sangat banyak peminatnya. Selang waktu sejam pada pukul 08.00 pagi di hari Kamis, 22 Januari 2009 ini, sudah ada empat kendaraan yang diladeni. Dalam waktu sejam, mereka meraup total Rp. 56.000,- Ini berdasarkan hitungan, satu mobil dikenakan, Rp. 20.000,- dan kendaraan roda dua, sebesar Rp. 8.000,-.
Jika beroperasi hingga sore, dari jam 8 pagi hingga 5 sore, maka diperkirakan dalam sehari mereka meraup lebih dari Rp.500ribu perhari. Jika dirata-ratakan mereka akan mengantongi antara Rp. 30ribu hingga 40 ribu.
Mobil ditangani dua orang pekerja dan akan mendapatkan masing-masing Rp.4.000,- sisanya Rp. 16 ribu akan jatuh ke kantong pemilik usaha. Kendaraan motor, ditangani seorang pekerja, dan akan mendapatkan Rp. 3ribu. Lama pencucian dan pengeringan motor membutuhkan waktu antara 30 hingga 60 menit. Mobil akan lebih lama.
Pelanggan Puas
Mirsan, seorang guru olahraga sudah tidak tahu berapa kali dia mencuci motornya di JMR ini. Lelaki yang mengajar di komplek Banta-Bantaeng ini, menyebutkan, bahwa pekerja disini membersihkan dengan sangat telaten, tidak tergesa-gesa.
“Biar mahal yang penting kita puas, katanya”
Kerap kali kami mendapatkan tips jika, sedang berhadapan dengan pemilik yang baik hati. Kata Andi menutup pembicaraan kami. Daeng Naba yang baru bergabung belakangan, sebelumnya adalah sopir angkutan umumKampus Unhas - Jalan Veteran namun berhenti sebagai sopir karena Surat Izin Mengemudinya sudah habis.
“Matimi SIMku, baru mahal sekali pengurusannya. Untung masih bisa menghidupi ketiga anak saya yang masih sekolah dengan bekerja sebagai tukang cuci kendaraan” Katanya seraya mengibaskan rambut gondrongnya.
Selama sehari, kami bisa meraup paling sedikit Rp.35ribu, katanya.
“Inimi yang juga saya siapkan untuk sekolah anak sulungnya yang sedang duduk di bangku sekolah menengah atas” Katanya menutup perbincangan kami.
Usaha ini tentu saja, sangat mulia jika dibandingkan para tukang parkir tak berizin atau mempekerjakan anak-anak muda bahkan anak dibawah umur, untuk meminta ongkos parkis tanpa izin.
Ah, tiba-tiba saya ingat kejadian semalam, ditempat beli mie kuah, seorang anak SD dengan sempritannya. Dia pasti berpikir, betapa mudahnya dapat uang dengan menjadi tukang parkir hanya dengan modal sempritan. Terkutuklah orang dewasa yang mempekerjakannya, yang hanya menunggu setoran dari sang anak.
Catatan
Tulisan diatas juga dimuat di blog saya
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.