You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Mengabarkan Kegelisahan Dengan Ternak
Beberapa waktu lalu, dari salah satu adegan di televisi, terjadi kejar-kejaran antara puluhan warga dan aparat kepolisian di salah satu ruas jalan ibu kota Jakarta. Saya terpingkal menyaksikan seekor sapi dikejar ramai-ramai. Hanya seekor. Lalu lintas sontak menjadi sepi karena aparat dengan tanggap telah menutup akses ke jalan itu.Keesokan paginya dengan mengendarai roda dua hendak menuju tempat kerja, saya berhadapan dengan puluhan ternak yang nampaknya baru beranjak dari kubangan. Jaket saya terkena cipratan kotoran dari badan sapi yang melintas di sepanjang jalan raya Sungguminasa, kabupaten Gowa atau tepatnya hanya 10 kilometer dari kota Metropolis Makassar.
“Kontras sekali, seekor sapi dan rombongan sapi dan kerbau dengan tidakan yang sangat berbeda. Di Jakarta seluruh kekuatan dikerahkan untuk menghalau ternak yang masuk di jalan raya” Batinku.
Di Sungguminasa, kota kami tercinta tumpah ruahnya ternak hanya menjadi tontonan menggelikan dan buat emosi. Bukan sekali saja, untuk kesekian kalinya pengendara harus berjibaku dengan ternak-ternak itu. Apa jadinya jika ada korban kecelakaan lalu lintas? Entah siapa yang bertanggung jawab. Sapi? Kerbau?
Sang pengembala yang terdiri dari 2-4 orang itu dengan pisau di pinggangnya, dengan santainya memandu ternak-ternak genit itu. Kendaraan dan pejalan kaki harus berhenti untuk memberi jalan bagi para ‘pengendara lain’ itu. Entah dari mana asalnya, setiap pagi kalau bukan di depan Kantor Polsekta Somba Opu, kerap kali muncul di poros Kompleks Jalan Manggarupi.
Pagi ini, rombongan kerbau itu datang lagi. Tepatnya di depan kantor Polsek Somba Opu atau hanya 300 meter dari perempatan jalan Malino - Makassar. (lihat photo)
Sungguh aneh, kota yang berdekatan dengan Makassar seperti Sungguminasa belum mengatur atau menegakkan aturan bagi hewan-hewan ternak in. Entahlah, tapi bagi warganya tentu ini sangat beresiko, selain faktor kenyamanan kota dan keindahan kota, faktor keselamatan di jalan raya menjadi taruhannya. Anda bisa bayangkan jika berpuluh-puluh kotoran ternak nangkring di atas ruas jalan kota?
Bukankah kota Sungguminasa sudah menjadi kota yang paling berkembang sejak pelebaran kota Makassar ke timur dan selatan? Tengoklah rumah-rumah baru, kompleks perumahan, ruko dan berbagai fasilitas umum yang semakin berkembang. Kota ini mesti berbenah.
Sungguh aneh, jika warga kota atau bahkan otoritas setempat tidak mengambil tindakan cepat. Citra kota Sungguminasa yang mestinya tertata dan bersih itu harusnya dipertahankan dan diperjuangkan. Atau berharap kepada para caleg? Terlalu lama. Tapi jika iya, bolehlah.
Sungguh heran, jika tidak ada caleg yang menggunakan issu ini sebagai janji pemilu. Ini kan terkait keselamatan warga. Kesannya,kerbau di pelupuk mata koq yang diincar kertas suara? O ya, jika ada caleg yang berharap dipilih dari dapil Gowa, sayalah orang pertama yang akan memilihnya jika dia berjanji untuk menata ternak-ternak berkeliaran dalam kota Sungguminasa. :))
Catatan:
Tulisan ini juga dimuat di Blog saya
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.