You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Saribulang Dari Pannampu & Ponari Dari Jombang

Saribulang Dari Pannampu & Ponari Dari Jombang

daengrusle — February 27, 2009 / 5:19 pm

batucelup21.jpg

(Gambar kreatif ini dicopy paste dari milis yang bertebaran. aslinya sih kepunyaan sohibArham Kendari)

Sari Bulang dari Pannampu. Kisah seumpama Ponari pernah juga saya alami sewaktu masih menjalani masa bocah di Pannampu, Makassar sekitar tahun 1986. Tepat di belakang kompleks perumahan saya, di sebuah area penggaraman (disebut Pacce’lang, sekarang kondang disebut Capoa), ada kehebohan soal seorang anak perempuan seumuran dengan saya (10thn) bernama Sari Bulang yang tiba-tiba punya kesaktian mengobat banyak penyakit - terutama kelumpuhan dan kebutaan. Kebetulan saya akrab dengan abangnya, sesama penggemar masjid pasar, jadi bisa tahu sedikit soal asal usul kehebatan sang bocah ajaib ini. Konon menurut ceritanya, si Sari Bulang suatu pagi kena damprat orang tuanya, biasalah anak kecil kadang nakal juga. Kena damprat begono, si Sari Bulang ngambek, masuk kamar dan menangis sesenggukan sampai kemudian tertidur. Dalam tidurnya bocah itu bermimpi kedatangan orang tua sakti, sambil memberikan sebuah batu bertuah sebesar biji salak.

Gerhana Matahari 1986. Oh iya, kejadian mimpi ini somehow bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari total pada bulan Juni 1986. Saat itu banyak orang yang silap melihat gerhana matahari dengan mata telanjang, padahal sudah ada seruan pemerintah untuk menghindari hal demikian karena dapat mengakibatkan kerusakan mata. Karena kejadian gerhana matahari total ini, banyaklah penderita buta mendadak. Makanya banyak diantara pasien Sari Bulang itu adalah penderita kebutaan mendadak ini. Kembali ke soal batu bertuah yang dimimpikan oleh Sari Bulang, si orang tua sakti itu memberi pesan bahwa batu itu bisa menyembuhkan penyakit - tentu saja atas izin Allah SWT. Konon kabarnya, Sari Bulang terpilih karena namanya merupakan kawan sebelah-sebelahan matahari yang saat itu ditutupi sang Bulang, eh Bulan, ketika gerhana. Nah, tahu kan kenapa Sari Bulang yang terpilih. She is the One! Ketika terbangun, bocah kecil itu ternyata mendapati sebuah batu kecil sebesar biji salak telah berada di genggamannya. Wah, kagetlah dia. Dan dia bangun menceritakan mimpi itu ke orangtuanya. Great, singkat cerita jadilah Sang Sari Bulang ini bak selebritis di utara Makassar.

Sari Bulang pun sejak itu menjadi sangat susah untuk ditemui, kecuali air saktinya itu yang dijajal kemana-mana. Rumahnya seketika menjadi ramai oleh para pasien dadakan. Sebagian besar adalah penderita kelumpuhan dan kebutaan - sesuai cerita saya sebelumnya. Cara pengobatannya sama persis dengan si Ponari, batu bertuah itu dicelupkan ke wadah berisi air. Nah, kesaktian batu itu akan berpindah mengikuti hukum perpindahan aura kesembuhan ke air yang menjadi media celupan di batu bertuah.

Karena sifat bocah yang serba pengen tahu, saya waktu itu juga sempat penasaran dengan kabar kesaktian si Sari Bulang yang semenjak kejadian itu popularitasnya melebihi Ida Iasha. Jadilah saya beserta teman2 main di Pasar Pannampu menyempatkan berkunjung ke rumah Sari Bulang. Di rumahnya itu saya melihat banyak orang antri, tapi tidak sampai berdesak-desakan seperti di tempat praktek Ponari. Mereka duduk manis di bangku-bangku panjang yang telah disediakan sahibul bait. Tidak ada juga kupon yang dibagikan ataupun wajib dibeli oleh calon pasien untuk mendapatkan terapi. GRATIS. Di ruang tunggu rumah Sari Bulang, saya melihat banyak sekali baskom dan ember berisi air yang siap di up-grade kesaktiannya dengan celupan batu bertuah itu. Tidak menunggu lama, saya dan teman2 sudah kebagian giliran diobati. Tidak ada konsultasi ketika itu, tidak pula ditanyakan sakit saya apa. Langsung saya diberi gelas berisi air yang sudah disucikan. Mungkin demi melihat saya masih kanak-kanak iseng yang cuman coba-coba saja. Tapi saya perhatikan semuanya begitu. Pasien yang dapat giliran, segera mendapatkan air celupan batu bertuah itu dalam bentuk botol atau bisa diminum langsung di tempat, dan kemudian bisa ngeloyor pulang. Pokoke percaya saja! itu intinya. Tapi entah kenapa, musim selebritas Sari Bulang rupanya tidak terlalu lama, hanya sekitar enam bulan saja. Seiring makin lupa nya orang soal efek gerhana matahari.

Ponari dari Jombang. Itu cerita 23 tahun lampau, di sebuah tempat yang jauhnya satu harmal (hari-malam) perjalanan kapal laut di tambah sekitar 6 jam naik bus dari Jombang ke Makassar. Kini, di tahun kerbau ber-tarikh 2009 kita juga mengenal fenomena yang sama: Ponari asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang dengan batu gludug nya. Batu petir yang diperoleh entah bagaimana ini menjadi sangat bertuah bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya.

Alam rasional kita dicabik-cabik oleh praktek pengobatan alternatif yang membuat rakyat kecil antara mencinta dan mengiba, karena sulitnya menembus ruang praktek si dukun cilik. Kupon mahal nan susah diperoleh - mesti gencet-gencetan di balai desa sampai ada yang tewas terhimpit. Kupon itu dijual mahal, tak kurang dibursakan sampai Rp 200ribu. Sama mahalnya dengan biaya berobat di dokter spesialis. Cara mengobatinya sungguh menmbuat cemas, mesti face to face. Tidak ada simplifikasi metoda sebagaimana jaman teknologi smart seperti sekarang. Sudah banyak tokoh yang menyarankan untuk mencelupkan si Batu Petir di sebuah danau besar, atau sungai yang mengalir supaya faedahnya lebih menjangkau banyak orang. Ponari tidak bergeming, mungkin orang tuanya atau orang yang me-manager-inya mengerti soal harga sebuah brand yang kadung tersohor, sehingga lebih profitable sekiranya dilakukan direct selling daripada massive-selling. Harga sebuah kebodohan!

Beda dengan Sari Bulang dari Pannampu diatas yang praktek pengobatannya simpel dan murah - malah gratis, sungguh Ponari adalah belahan sisi buruknya. Meski mengandalkan hal yang sama, Sugesti! Juga memanfaatkan ketakterjangkauan ekonomi masyarakat akan biaya pengobatan modern yang semangkin mahal - hasil kolaborasi kapitalis farmasi dan aparat kesehatan? Wallahu ‘alam. Tapi praktek perdukunan Ponari ini memanfaatkan keterbelakangan masyarakat untuk meraup keuntungan - konon omzetnya mencapai 1 milyar seminggu! Busyet. Sampai sekarang praktek Ponari berlangsung, tidak ada tanda-tanda berkurangnya peminat klenik ini. Bahkan, di beberapa tempat di kabupaten yang sama, Jombang bermunculan Ponari-ponari lainnya. Efek marketing atau me too economic motive? who knows.

Sugesti, itu bahasa ilmiahnya, juga soal Plasebo. Meski tak bisa dijelaskan proses pengobatannya dengan ilmiah sekalipun. Apapun penyakit anda, bisa disembuhkan oleh perasaan sugesti ini. Benda apapun yang menjadi media sugestinya. Bisa batu, air suci, baju bekas, pakaian dalam, bahkan yang sering digunakan di dunia kedokteran: placebo. Efek plasebo adalah sebuah fenomena terapi fisiologis bohongan untuk meningkatkan kondisi pasien secara psikologis. Terkadang si pasien hanya diberikan pil atau kapsul yang isinya kosong atau hanya vitamin saja. Memang tidak akan ada efek medis kepada si pasien, namun efek psikologisnya banyak. Dengan meminum pil ini, si pasien merasa dirinya telah diobati dan dengan demikian akan menambah semangatnya untuk sembuh. Kadang praktek medis plasebo ini juga dilakukan melalui operasi bohongan. Si pasien yang diterapi diberikan sebuah tindakan operasi bohongan untuk men-stimulus psikologis si pasien agar cepat sembuh.

Sari Bulang, Ponari dan Placebo adalah fenomena berkuasanya sugesti akan diri seseorang. Bukan sesuatu yang buruk memang, bahkan bisa jadi terapi alternatif untuk melawan mahalnya biaya berobat modern. Tapi kita tahu bahwa ada yang membusuk di masyarakat ini, hilangnya akal sehat. Siapa yang salah? Bukan masyarakat dong. Salahkan yang gagal memberi pemahaman ke masyarakat. Pengobatan gratis, pendidikan gratis. Itu janji kampanye mereka dulu. Kini, ketika berhadapan dengan kondisi riil yang mungkiun tidak menjadi parameter yang diperhitungkan ketika berjanji, dengan mudah mereka berdalih macam-macam untuk mengemplang dari janji itu. Kondisi pasar lah, ketiadaan anggaran lah, apa sajalah. Pokoke, banyak alasan menuju mangkir. Kita, bangsa yang pelupa ini dan sayang sekali sebagian besar mudah percaya klenik dan berbagai ragam sugesti mesti segera berbenah. Minimal menjadi bangsa yang tidak mudah lupa, terutama menjelang pemilu legislatif nanti. Jangan pilih pemimpin placebo! Apalagi yang air pembasuh kakinya dijadikan obat terapi. Hiekkk! Kok jadi kampenye yah. He3.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. eby

    betul nieh. . .
    dasar orang udik’maunya di bo’ongin ma ponari si dukun gaplek. .
    mendingan ke mak erot langsung ada khasiatnya. .

    February 28th, 2009 at 1:18 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Citilink Garuda

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT