You're here: My City Blogging » Makassar » Article: Safitri, Wanita Karir Yang Tak Lagi Menggendong
<
p>
“Dengan menjual jamu berarti membuat keluarga saya senang, karena dapat uang” Ujar si Mba dari balik sepeda mininya yang dijejali botol-botol besar. Dia menjawab sambil terkekeh ketika saya bertanya tentang pilihannya menjual jamu.
Seperti biasa pada setiap pagi, demi alasan kebugaran saya selalu memesan satu gelas kecil pada Dwi Safitri. Jamu Safitri adalah jamu pahit dari berbagai campuran tanaman seperti umbi jahe, kencur, gula merah, garam, gula putih, kunyit, ketumbar, adas, daun sirih, buah pinang, asam dan daun sambiroto yang diraciknya sendiri. Ada delapan botol bekas minuman buah markisa yang ditempatkan diboncengan sepedanya. Botol-botol yang sudah hampir setengah isinya habis ini, adalah wadah jamu hasil racikannya. Botol plastic yang satu berisi larutan gula merah sebagai penawar pahit jamu.
Pagi ini, tepat pukul 08.30 seperti biasa dia melintas di depan rumah kami di Perumahan Tamarunang, Somba Opu Sungguminasa. Safitri wanita muda beranak satu ini, adalah penjual jamu yang sudah lama menjadi langganan para ibu-ibu dan warga kompleks lainnya termasuk anak-anak. Tidak seperti penjual jamu yang lazim ditemui dengan menggendong bakul jamunya, Safitri menggenjot sepeda dari rumahnya di Borong Untia, Pallangga mulai dari pukul 06.00 pagi hingga perumahan di daerah jalan Malino. Dari terminal lama Sungguminasa hingga kompleks perumahan kami. Dia akan menyudahi kayuhannya pada pukul 10 ketika matahari mulai menyengat.
Selain menjual jamu ramuannya, dia juga menjual jamu sasetan. Modal sekali jalan menurutnya sebesar Rp.30ribu. Dia mematok harga Rp.1500 pergelas, dan jika dirata-ratakan dia bisa menanggung untung hingga 30ribu perhari. “Tapi ini tergantung rejeki” Katanya buru-buru menambahkan.
“Saat ini saya masih bersyukur karena dengan anak satu, dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga”. Katanya. Entah jika nanti semakin besar, mungkin biaya pendidikan akan banyak menyita tenaganya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya bersama suami. Dia bercerita bahwa, dulu ketika belum menikah saya bisa mendapat uang lebih banyak karena menjual jamu lebih lama dan masih kuat mengayuh sepeda.
Namanya Dwi Safitri, tapi warga, baik anak-anak sampai kakek nenek memanggilnya “mba”. Umurnya masih 23 tahun. Dia menikah pada tahun 2005. Ibu balita, Yusuf Setiawan ini dari pasangan hidupnya, Bayu Suwarno, 35 tahun.
Safitri, mungkin bukanlah wanita luar biasa jika membaca fakta bahwa ada banyak wanita-wanita yang lebih tangguh, bergelut dengan rumitnya kehidupan di kota-kota yang sangat keras . Tapi paling tidak dia adalah pelengkap setara bagi keluarganya. Bersama suaminya yang berpendidikan sekolah menengah atas dan bekerja sebagai montir elektornika, dia menutup celah ekonomi keluarganya dengan berjualan jamu. Dia sendiri sempat mengecap pendidikan sekolah tingkatan pertama.
“Kalau sekarang…aih, harus kembali ke rumah cepat untuk mengurus rumah dan keluarga”
Lahir dan besar di desa Cawas, Kecamatan Cawas kabupaten Klaten Jawa Tengah berbatasan daerah Gunung Kidul. Tepatnya di dukuh Nggabus. Safitri yang ulet bekerja ini bersaudarakan lima orang. Hanya satu orang dari saudaranya yang masih tinggal di Jawa bersama orang tuanya. Keempat yang lainnya telah beberapa tahun tinggal di Kota Sungguminasa.
Mereka tinggal di daerah Bonto-Bontoa. Safitri anak kedua, sejak tahun 2000, menjejakkan kakinya di tanah Sulawesi. Dua orang suadaranya telah berkeluarga, salah satunya juga berjualan jamu. Saudaranya yang lelaki berjualan es krim di bilangan Sungguminasa. Keluarga mereka nampaknya adalah pekerja ulet, meninggalkan ayah dan ibunya di Cawas yang bekerja sebagai buruh tani.
“Bersama saudara yang lain, saya ke Makassar pada tahun 2000. Waktu itu naik kapal laut”Katanya. Sejak tahun 2000, dia sudah beberapa kali kembali menjenguk keluarganya di Jawa. Tidak terhitung sudah berapa kali, tapi kerinduan itu selalu saja ada. “Saya selalu rindu sama ayah dan ibu” Katanya.
Kenal Kartini?
Hari ini, warga dan media membicarakan hari Kartini. Peringatan yang masih saja mengandung polemik tentang perlu tidaknya menobatkan RA Kartini sebagai pahlawan nasional. Safitri mungkin tidak mengenal isi buku Kartini yang berjudul “Door Duistermis tox Licht”, Habis Gelap Terbitlah Terang, buku kumpulan surat-surat Kartini yang terkenal dan menggugat ketidakadilan pendidikan bagi kaumnya. Surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu adalah bukti keinginannya untuk melepaskan kaumnya dari ketidakadilan perlakuan pada saat itu.
Safitri mungkin tidak begitu mengetahui cerita sejarah wanita yang dipuja itu, tidak hapal bahwa Kartini lahir di Jepara, satu propinsi dengannya di Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Dia di selatan sementara Kartini di utara, tepatnya Jepara. Klaten, kabupaten di selatan dan Jepara tempat kelahiran Kartini diutara sangat berjauhan. Tapi apa yang dilakoni Dwi Safitri tentulah sangat dekat dengan kehendak awal Kartini, yaitu wanita-wanita harus kuat dalam cita-cita dan bekerja keras.
Sebelum saya meninggalkan wanita “karir” muda berjilbab biru dan bertopi caping ini, saya iseng bertanya lagi padanya.
“Mba, kenal Kartini gak?”
“Kartini mana?” Katanya. “Raden Ajeng Kartini” kataku. “Iyyalah Daeng…”
Menurut Mba, Kartini itu siapa?
“Kartini itu kan wanita maju, wanita karir”. Katanya agak ragu.
Benar gak sih, Daeng? Dia bertanya lagi, nampaknya ragu dan terus berlalu…
Engkau juga wanita karir. Wanita yang berkarya!
Catatan:
Tulisan ini juga dimuat diblog saya
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.