You're here: My City Blogging » Padang » Article: Istana Pagaruyung
Kota Padang mempunyai banyak tempat pariwisata yang sangat terkenal. Salah satunya adalah Istana Pagaruyung yang kadang dikenal juga sebagai Istana Basa, sementara jika diucapkan dengan dialek Padang maka akan ‘berubah’ menjadi Istana Paguruyuang dan Istana Baso. Istana Pagaruyung dan kota Padang sudah sedemikian identik, tidak heran desain blog ini menggunakan gambar Istana Pagaruyung. ;-)
Istana Pagaruyung sebenarnya bukan di kota Padang. Berdasarkan catatan, lokasi Istana Pagaruyung yang ‘asli’ terletak di atas Bukit Batu Patah. Namun Istana tersebut terbakar habis pada saat terjadi kerusuhan pada tahun 1804.
Hingga awal tahun 1970-an, tidak ada upaya untuk membangun kembali Istana Baso ini. Pada saat Harun Zain menjabat gubernur Sumatera Barat, pada 27 Desember 1976 mulai dibangun kembali Istana Pagaruyung ini dengan acara mendirikan tiang utama (bhs Padang: batagak tunggak tuo) dan pada akhir 1970 istana ini sudah bisa dibuka dan didatangi oleh masyarakat umum.
Latar belakang dan ide pendirian kembali Istana Basa ini adalah sebagai simbol pemersatu Minangkabau. Di samping itu untuk membangkitkan harga diri masyarakat yang waktu itu masih belum lepas dari trauma pemberontakan yang terjadi sebelumnya (pemberontakan PRRI-Permesta. Kepanjangan PRRI-Permesta bisa dibaca di sini).
Akan tetapi, ternyata keberadaan Istana Pagaruyuang ini hanya bertahan 30 tahun. Pada tanggal 27 Februari 2007, istana ini terbakar. Diperkirakan api berasal dari sambaran petir, setelah hujan deras mengguyur kota Padang. Akibatnya, semua dokumen dan bukti sejarah serta bangunan istana hancur dalam sekejap, dikarenakan bahan-bahannya yang terbuat dari kayu serta bahan lain yang mudah terbakar. Kebakaran, menurut saksi mata, mulai terjadi sekitar pukul 19.00 WIB dan hingga 3 jam kemudian api masih belum bisa dipadamkan walau beberapa mobil pemadam kebakaran telah dikerahkan.
Menurut rencana, pemda Padang berencana membangun kembali Istana Baso ini. Untuk itu, pada tanggal 21 Juni 2007 lalu telah dilakukan serangkaian kegiatan dan acara. Karenanya kerangka istana yang terbakar mesti dirobohkan dahulu. Sebelum dirobohkan, kerangka istana dilumuri dahulu dengan darah ayam jantan (ritual ini disebut maambiak duaso). Selanjutnya air, yang berasal dari 7 muara sungai, juga disiramkan ke kerangka tersebut. Acara diakhiri dengan pembacaan doa.
Menurut rencana, Wapres Jusuf Kalla akan melakukan upacara melatakkan tonggak tuo, yakni upacara meletakkan kerangka.
Semoga Istana Pagaruyung yang baru bisa bertahan lebih lama.
Sekedar informasi tambahan, bentuk atap Istana Pagaruyung dijadikan contoh di gedung ITB, sebagaimana terlihat di gambar.
foto diambil dari sini dan sini
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Erizon Chaniago
assalamualaikum ww
yang samo2 ambo hormati datuak ninik mamak, urang sumando dan dunsanak ambo kasadonyo..
saketek ambo maagiah masukan bukannya ambo ndak satuju dibueknyo istana mrip jo gedung ITB tu do.. tapi nuansa kebudayaan kito akan hilang karanonyo.. adat dan budaya kito harus dipertahankan.. jaan sampai gara-gara rancak bangunannyo budaya hilang..
manuruik ambo bangunan rumaha gadang kito adalah bangunan yang paling rancak dan ndak ado yang bisa mangalahan kaunikannyo itu do..
wassaalam
July 22nd, 2007 at 12:49
dedy
onde mande
siapo tu nan jadi arsiteknyo
kok dihilangkan atk bagonjong rumah gadang kabanggaan awak
ibo ati amo mandanga kaba iko
jan sampai hilang budaya awak
minangkbau slallu di hati
untuak pamerintah daerah
tolong dipikiakan bana dulu,kok istano pagaruyuang nan baru ndak ado saketek alah juo khas minangnyo.
wasssalam
February 1st, 2008 at 23:02