Lomba Reporter yang tidak Suka Membaca
Pernahkah Anda membayangkan, seorang presenter (baca: reporter) TV yang kerjanya mencari dan menyampaikan informasi kepada jutaan orang, adalah orang yang tak suka membaca? Hmm, tentunya anda berpikir tidak, bukan? Mereka semua tampak pintar, cerdas, dan sangat komunikatif. Mustahil tak suka baca.
Tapi, tunggu dulu, kalau Anda melihat Lomba Presenter Padang TV, Menuju Detak Sumbar yang digelar Padang TV di Padang Book Fair, Rabu, 14 November 2007 kemarin, pikiran Anda mungkin berubah.
Kompetisi mencari reporter itu diadakan di halaman parkir Gedung Bagindo Aziz Chan, Padang. Dimulai pukul 09.00 WIB -17.00 WIB. Peserta membludak. Menurut catatan panitia ada sekitar 135 orang yang bertarung memperebutkan posisi enam besar. Usia mereka antara 15-23 tahun. Mereka harus membaca naskah berita dalam waktu maksimal 15 menit (yang rata-rata diselesaikan seluruh peserta hanya dalam tempo 3-5 menit saja). Dan menyampaikan laporan langsung yang berdurasi 15 detik.
Setelah saya menyaksikan perlombaan itu hingga pukul satu siang, saya memutuskan pergi. Sebab, apa sih yang menarik dari orang yang tak suka baca?
Ah, berlebihan amat kamu, May! Dari mana sih kamu tau mereka nggak suka baca?
Simpel saja, bagi saya orang yang tidak suka baca ditandai dengan: pertama, mereka membaca terputus-putus, seperti:
Pemirsa-tadi-pagi-mahasiswa-Unand-melakukan-demonstrasi -di-depan-gedung-DPRD-Sumbar.
Mengapa baca terputus-putus? Karena mata tidak terlatih menelusuri kata demi kata. Hanya orang yang rajin membaca, yang mampu mengarahkan matanya dengan lancar ke setiap kalimat. Kedua, orang yang tak suka baca tidak akrab dengan kata-kata. Karena itu tak heran kalau banyak dari peserta yang terpaksa berulang-ulang mengeja seafood menjadi se—se-a-sea—fud. Memalukan!
Saya pernah melakukan survey singkat ke beberapa remaja di Padang yang aktif dalam kegiatan reportase sekolah. Yang menyedihkan, hampir 80% dari para reporter itu yang tidak suka membaca. Ditanya ini itu nggak nyambung. Disuruh menganalisa ini itu, buntu. Lha, bukannya mereka reporter?
Ampun deh, wajar aja kualitas SDM Indonesia makin lama makin jatuh, wong kegiatan reportase sekolah aja nggak mampu memaksa remaja untuk suka membaca. Jadi, tak heran kalau dalam Lomba Presenter yang digelar Padang TV Rabu lalu, para pesertanya rata-rata gagap aksara. Tapi, mudah-mudahan saja ada yang nyelip satu, yang suka baca. Dan mudah-mudahan pula dialah yang terpilih sebagai pemenang.

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Budi Putra
Betul Maya,
Saya kira hampir semua profesi kalau didasari dengan kebiasaan membaca, pasti akan bagus sekali.
BTW, selamat ngeblog di ABN ya!
November 19th, 2007 at 15:26
chi-chi
Wah, keterlaluan banget kalau sampai seperti itu, Mbak. Masak baca Seafood aja mesti ngeja segala. Aduh, malu aku jadi orang indonesia
November 20th, 2007 at 11:31