Padang, Kota Tanpa Terminal Angkot
— Maya Lestari GF
closeAuthor: Maya Lestari GF
Name: Maya Lestari Gf
Site: http://www.mayalestarigf.multiply.com
About: Maya Lestari Gf adalah seorang pekerja yang bersemangat. Ia redaktur di Tabloid Remaja P'Mails, suplemen Harian Pagi Padang Ekspres. Maya telah meluncurkan lima buku. Satu kumpulan cerpen berjudul Kutukan Pitopang, satu serial bertajuk Farewell Party, dan tiga novel masing-masingnya berjudul: Ken, Denting Dua Hati dan It's My Solitaire.
Maya juga seorang kolumnis. Kolom-kolomnya banyak digemari para remaja karena membahas segala sesuatu dari sudut pandang remaja. Disajikan tentu saja dengan bahasa yang ringan dan renyah. Maya mulai bersentuhan dengan dunia blogger setelah dilanda takjub melihat blog-blog para reporter sekolah P'Mails yang oke punya. Bagi Maya, blog adalah sebuah dunia yang dahsyat. Dimana setiap orang berhak dan bebas memublikasikan apa saja ke seluruh dunia. Maya yakin, blog adalah dunia jurnalistik masa depan. Karena itu ia tertarik bergabung ke dalam MyCityBlogging. Maya mengambil Kota Padang sebagai tema tulisannya karena beberapa hal. pertama, tentu saja karena ia tinggal di kota ini. Kedua, Maya menyaksikan perubahan-perubahan yang dramatis dan dahsyat terhadap fisik kota ini, sekaligus melihat dan mengalami sendiri perubahan psikis warga Padang dalam 10 tahun terakhir.
Lebih dari itu, Maya ingin berbagi informasi tentang hidup sebuah kota, dalam sebuah lanskap negara bernama Indonesia ke seluruh dunia.
Saat ini Maya masih menulis dalam Bahasa Indonesia, tetapi ia yakin suatu saat nanti bisa menulis blognya dalam Bahasa Inggris. Sebab, ia kini tekun memelajari bahasa itu.See Authors Posts (12) • November 20th, 2007
Anda mumet, suntuk, pengen cuci mata di Pasaraya Padang? Saya sarankan, jangan! Sebab, dijamin, sepulang dari pasaraya Anda makin suntuk, stress dan frustasi. Ya, apa enaknya berjalan di tengah asap hitam knalpot yang berhembus ke cuping hidung, sumpah serapah sopir angkot, sikutan kesal pejalan kaki yang ingin bergegas (sementara Anda berjalan begitu lambat), teriakan nyaring pluit Pak Polisi, pekik klakson melengking tinggi, hilir mudik pedagang asongan, pengemis, gerobak. Bunyi tape puluhan angkot yang menyetel musik sekeras mungkin. Ringkikan puluhan kuda bendi. Bau tahi kuda menyengat hidung dan lapak-lapak kaki lima menggusur pejalan kaki dari trotoar.
Sungguh neraka!
Kondisi buruk ini dimulai ketika tiga tahun lalu, terminal angkot pasaraya digusur menjadi plaza. Angkot-angkot yang biasa ngetem di terminal, digusur ngetem di jalan raya sempit selebar lima meter. Seluruh angkot di Padang terpaksa berebut tempat dengan bendi dan parkiran mobil serta sepeda motor. Maka jadilah jalan raya yang dulu lapang dan nyaman buat dilalui, menjadi neraka sumpah serapah. Sesuai pengalaman saya, setiap orang yang masuk ke wilayah kacau itu akan hilang kelembutannya (bukan menceritakan diri sendiri lhooo).
Jadi, kalau Anda ke Padang, hanya satu nasihat saya: jangan pernah ke Pasaraya Padang untuk menghilangkan suntuk. Itu bukan tempat yang tepat. Saya jamin.
Topik: Berita
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
Budi Putra
betul, tempo hari waktu saya lewat Balai Kota Padang, mulai dari depan Matahari, sudah kelihatan tumpukan angkot…. Aduh, ada apa dengan Padang, kota Adipura ini? Bersih saja tidak cukup, tapi juga tidak semrawut mestinya…
Kalo pekan-pekan lalu, Pemko Padang sibuk mengurusi dampak gempa, sekarang saatnya untuk mengurusi kota ini lagi…
Apalagi saya dengan Walikota Padang yang sekarang pengen maju lagi tahun depan…. Nah lho
November 21st, 2007 at 07:22
rezki
betul sekali apa yang saudara tulis tsb. kalau mau hilangin suntuk, jg ke Pasar Raya.mendingan tidur2 dirumah akan lebih baik dari pada ke Pasar Raya yang semrawut bak benang kusut. belum lagi dengan musik2 yang memekakakan talinga bila kita naik angkot.huuh, capek gak seeh.
mudah2an aja pemerintah kota Padang yang kucinta dan kubela ini segara megeluarkan kebijakan yang hbisa mengatasi masalah rumit ini dg segara., semoga…
December 3rd, 2007 at 19:58
iyan
Jadi, kalau Anda ke Padang, hanya satu nasihat saya: jangan pernah ke Pasaraya Padang untuk menghilangkan suntuk. Itu bukan tempat yang tepat. Saya jamin.
—>
—>
bener juga…lagian ngapain ngilangin suntuk ke pasarraya…namanya aja udah pasar..pasti kebayang dong bentuk pasar kayak gimana…kan masih ada daerah wisata lain di kota padang yang adem (panas), yang banyake cewek cakepnya..he…he…he..
September 23rd, 2008 at 09:20