← Kembali ke halaman depan

Anak Padang Bikin Puisi Bagus Banget

Saya bangga sekali, ada anak minang umur 12 tahun udah jago banget buat puisi.
Kumpulan puisi dan cerpennya yang pertama bertajuk Di Sudut Malam Sebuah Kota.
Berikut resensinya.

Di Sudut Malam Sebuah Kota:
Sebuah Kesadaran Sosial dan Pencarian Jati Diri

Penulis : R.I Jeyhan
Penerbit : P’Mails
Jumlah halaman : 75+iii

Saya cukup sering membaca puisi-puisi para penyair, dan rata-rata perasaan yang timbul di hati saya ketika membacanya adalah, kagum. Begitu terpesonanya saya pada keterampilan mereka memilih kata-kata, membuat metafora dan menempatkannya sedemikian rupa dalam puisi, hingga sering saya larut di dalamnya. Keterpesonaan itu, sekaligus menyadarkan saya, betapa masih jauhnya keterampilan saya mengolah kata dibanding mereka.
Namun, perasaan yang lebih dari kagum muncul di hati ketika membaca kumpulan puisi dan cerpen Rahmi Intan Jeyhan. Kumpulan itu diberi judul Di Sudut Malam Sebuah Kota. Mengambil judul dari salah satu puisi Jeyhan. Yang bikin kagum, dalam usia yang begitu muda—Jeyhan lahir 2 Mei 1995, telah memperlihatkan kekritisan, kepekaan sosial, dan kesadaran bernegara. Sesuatu yang sangat jarang dimiliki anak seusianya. Simak pemilihan kata-kata cerdas dalam puisinya yang berjudul Tanya Dari Rakyat (Untuk Presiden Kami), yang saya tampilkan utuh berikut.
Kepada Bapak presiden rakyat bertanya/Apa arti kanji sejarah Indonesia?/Apa hanya bercak darah?Kepada Bapak Presiden rakyat bertanya/Sebenarnya apa yang dikatakan peta Indonesia? Apa hanya pulau We di Utara dan pulau Roti di Selatan?/Kepada Bapak presiden rakyat bertanya/Apa itu burung Garuda? Apa hanya perih dan nyilu yang membias diantara sayap?/Kepada negara kami bertanya/Ada apa dengan mereka?
Kesadaran sosial ini kerap muncul dalam puisi-puisinya yang lain. Seperti puisi Ibu Tua Di Perempatan Jalan, Ibu tua di perempatan jalan sana/Tak pernah ada bulan sabit di bibirnya….Atau puisi Anak Janda di Sana, Dikeremangan sunyi mengisi hati/Anak janda tua itu bersembunyi di ketiak ibunya/Meresapi luka perih kasih Ibunda….
Sebagai anak yang menginjak usia remaja, Jeyhan juga mengalami masa transisi. Pencarian jati diri. Hal ini bisa kita lihat dalam puisinya yang berjudul Siapa aku? Di gelapnya lorong lorong itu/Ku bertanya/Siapa aku?…Puisi itu terus mengalir dalam dialog imajiner antara Jeyhan dengan alam sekitarnya. Daun-daun yang berguguran menjawab, Jeyhan adalah seorang pujangga, namun Jeyhan membantah. Bunga-bunga layu berkata, Jeyhan adalah seniman, namun Jeyhan juga mmebantahnya. Puisi ini kemudian ditutup Jeyhan dengan manis sekali. Dalam bising mencari makna/Sebuah suara terngiang di telingaku/”Jangan kau cari jati dirimu, karena itu ada dalam hasratmu.”
Saya ingat, begitu sampai pada bagian ini, langsung berdecak kagum. Tak terpikirkan sebelumnya, kalimat tersebut bisa keluar dari anak berusia 12 tahun. Hanya satu yang bisa saya katakan, Jeyhan sungguh anak berbakat luar biasa. Ia seperti kuncup bunga. Yang bila rajin dipelihara, dipupuk, mendapat cukup sinar matahari, akan mekar menjadi bunga indah di dalam taman sastra Indonesia.
Tak ada yang bisa saya katakan selain, bacalah buku bermutu ini. Mudah-mudahan kehadiran buku ini menjadi motivasi bagi para guru dan pecinta sastra di Sumatera Barat untuk menumbuhkan tunas-tunas penulis baru. Semoga saja.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)