Muhammad Hatta, Sang Proklamator
Mulai hari ini, blog ini akan memuat artikel mengenai putra/putri daerah yang mempunyai jasa cukup besar. Yang diutamakan adalah putra/putri daerah yang mempunyai prestasi di tingkat nasional, namun bukan berarti akan mengesampingkan prestasi putra/putri daerah lainnya. Insya ALLOH semuanya akan ditampilkan secara proporsional. Artikel akan diusahakan dimuat secara teratur tiap 2-3 minggu sekali (Insya ALLOH).
Penempatan M Hatta sebagai artikel pertama bukannya tanpa pertimbangan. Jasa beliau yang cukup besar, terutama sebagai salah satu ‘bidan’ dalam proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945, membuat penulis merasa sudah sewajarnya M Hatta ditempatkan sebagai putra/putri daerah pertama yang ditampilkan di blog ini.
Sebenarnya sudah banyak artikel mengenai M Hatta, namun di blog ini akan lebih fokus sebagai putra/putri daerah Sumatera Barat.
M Hatta lahir tgl 12 Agustus 1902 di Bukittingi, sebagai satu-satunya anak laki-laki dengan 6 saudara perempuan. Nama yang diberikan oleh orang tuanya sebenarnya adalah Muhammad Ata.
Masa kecil Hatta dilalui dengan gemblengan agama dan pendidikan formal. Hal ini tidak mengherankan karena keluarga ayahnya adalah ulama-ulama terkemuka di Bukittinggi pada masa itu. Usai menjalani pendidikan di Padang, pada tahun 1919 beliau meneruskan sekolahnya di HBS (sekolah setingkat SMA di jaman Belanda).
Selanjutnya, tahun 1921 mendapat kesempatan untuk belajar di Belanda, tepatnya ke Rotterdam, untuk belajar ilmu perdagangan. Perguruan tinggi yang dimasukinya adalah Nederland Handelshogeschool (kini berubah nama menjadi Erasmus Universiteit).
Sejak di Belanda, Hatta muda bergabung menjadi anggota Perhimpunan Hindia (selanjutnya berubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia). Peran Hatta dalam PI sangatlah besar, terutama pada saat dia menjabat sebagai ketua PI pada 17 Januari 1926.
Meski aktif di organisasi, tidak menjadikan Hatta lupa dengan tugas utamanya, yakni belajar. Usai lulus di bidang ekonomi, Hatta meneruskan sekolahnya di bidang hukum negara dan hukum administratif, sebagai pemuas keingin-tahuannya di bidang politik.
Usai menyelesaikan sekolahnya di Belanda pada 1932, Hatta kembali ke Indonesia. Kegiatan politik tetap dilakukan dan bahkan meningkat. Dalam salah satu tulisannya, Hatta mengecam sikap pemerintah Belanda yang menahan Soekarno (kelak akan menjadi teman seperjuangan sekaligus teman dekat). Dampak tidak langsung yang dirasakan adalah penahanannya di Digoel (Papua) pada tahun 1935.
Selama masa pembuangan ini, Hatta tidak berhenti menulis. Honor yang dia dapatkan digunakan untuk biaya hidup serta membantu rekan-rekannya yang mengalami kesulitan keuangan. Di kemudian hari, tulisan-tulisan Hatta ini dimuat dalam buku, diantaranya “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid).
Pada saat Belanda menyerah ke Jepang, Hatta kembali ke Jawa. Sebagai salah seorang yang punya pengaruh, Hatta diminta untuk bekerjasama menyebarkan ide-ide Jepang. Namun keinginannya untuk memerdekakan Indonesia, membuat Hatta lebih banyak mengambil sikap diam.
Dan akhirnya, tiba saat bersejarah itu. Bersama dengan Soekarno, M Hatta menjadi ‘bidan’ kelahiran Indonesia pada 17 Agustus 1945. Selanjutnya, pada 18 Agustus 1945, Hatta diangkat menjadi Wapres Pertama Indonesia.
Hatta menjadi ketua delegasi Indonesia dalam perundingan di Den Haag, Belanda, dalam rangka mendapatkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari pemerintah Belanda. Hal ini dilakukan karena Belanda menganggap Indonesia masih wilayah jajahannya sehingga usai 17 Agustus 1945, Belanda berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan kembali Indonesia, termasuk dengan melakukan agresi militer.
Jasa lainnya dari M Hatta adalah kepeduliannya kepada koperasi. Melalui ceramahnya pada 12 Juli 1951, dalam rangka menyambut hari Koperasi, maka pada 17 Juli 1953, beliau diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia.
Karir M Hatta sendiri senantiasa berubah. Beliau menjabat sebagai wapres merangkap Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (Januari 1948-Desember 1949). Kemudian beliau menjabat Wapres merangkap Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Kabinet RIS (Desember 1949-Agustus 1950). Sejak 1 Desember 1956, beliau mengundurkan diri dari dunia politik.
Meski beliau berhenti dari dunia politik, tidak demikian halnya di dunia pendidikan. Pada tangal 27 Nopember 1956, beliau memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Disusul Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum.
Sejak berada di luar lingkaran politik, Bung Hatta kerap melontarkan kritik kepada rekan seperjuangannya, Soekarno, atas berbagai kebijakan Soekarno yang dirasa Hatta tidak pada tempatnya. Tulisannya berjudul “Demokrasi Kita”, yang berisi kritik terhadap pemerintahan Soekarno, memaksa Soekarno melarang peredaran tulisan ini.
Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.
Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.
Beliau meninggalkan Rahmi Rachim, yang dinikahi pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Keturunan mereka semuanya tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.
Referensi:
- Muhammad Hata, sang Proklamator.
- Wikipedia Indonesia, M Hatta
- Wikipedia Inggris, M Hatta
Foto diambil dari Wikipedia Indonesia, M Hatta

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.